Lelaki Berdarah Madura

Lelaki Berdarah Madura


Awan pekat disertai angin diiringi gerimis menyelimuti langit di kota pendidikan. Suasana kos-kosan di Jalan MT Haryono, Kota Malang begitu sunyi karena ditinggal pulang kampung oleh penghuninya.

Sesekali terdengar musik dangdut dan pop dari kamar sebelah. Kendati pemilik kamar jarang ke luar dari kamarnya. Terlintas dibenak, betah banget anak kos ini menghabiskan hari-harinya dalam kamar.

Deru sepeda motor dan mobil terdengar kencang. Maklum kosa-kosan berada tepat di pinggir jalan raya, sehingga suasana hiruk pikuk jalanan amat terasa.

                            *********

Jarum jam menujukkan sudah pukul 17.00 WIB. Arif seketika beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Bergegas ambil wudhu dan menunaikan sholat asar.

Walaupun libur semester sudah tiba, ia enggan pulang ke kampung halamannya, Madura. Selain menjalani studi, Arif juga bekerja sampingan.

Dalam benaknya kembali teringat kenangan bersama mantannya, Rike. Hampir setahun bersama, hubungan keduanya pun kandas.

Arif masih amat sayang pada mantannya yang sama-sama mengenyam pendidikan di satu kampus. Namun, keadaan memaksa mereka harus berjalan sendiri-sendiri. Tak ada niat mencari perempuan lain, Arif menyerah dan merasa belum bisa melupakan kekasihnya yang selalu hadir di setiap waktu.

Baginya, sholat, ngaji, baca buku, jalan-jalan hingga berolahraga bisa menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk, bercampur aduk antara sedih, senang dan penyesalan.

Sejenak raut wajah dan senyum Rike yang kerap terlintas dipikirannya berhasil ditepis, meski beberapa kali kenangan bersamanya kembali melintas.

Malam pun datang dipadu dengan cuaca dingin. Tubuh Arif pun dilindungi jaket tebal warna hitam, tapi cuaca di Malang dikenal sangat dingin dibanding kota/kota lain sehingga setebal apapun jaket yang dipakai tak mampu menghalang dinginnya malam.

Sebelum berpisah, malam Minggu digunakan untuk waktu kencan bersama Rike. Entah sekadar memutari jalanan di Kota Malang-Batu, menikmati makanan temoat favorit, hingga mengunjungi tempat hiburan.

Sedih-senang dan duka-bahagia pernah dijalani dan dirasakan bersama. Baik Arif dan Rike saling mengerti satu sama lain, meski tidak semua rahasia hidupnya saling diceritakan.

Baginya, malam Minggu dan hari libur bekerja merupakan momen bagus bersama Rike. Meski tak jarang agenda jalan bersama, menghabiskan seharian berdua sembari menikmati indahnya pemandangan selalu gagal. Kini, malam Minggunya tak lagi ditemani kekasihnya. Hanya saja teman, kerabatnya mampu menjadi teman yang cukup menghibur.

                            ********
Arif tak banyak bicara dan hanya teman dekatnya tempat ia bercerita hubungannya yang kandas dengan Rike. Ia pasrah dan tak lagi berjuang mempertahankan cintanya karena sejak awal ada kejanggalan dalam hubungannya.

Lahir di tanah garam Madura salah alasan hubungannya kandas. Secara pribadi, Rike menerima apa adanya kondisi Arif. Tidak terlalu mempermasalahkan ia dari keluarga apa, lahir di mana, suku apa dan bekerja sebagai apa?

Namun, keluarga Rike kurang respec terhadap laki-laki Madura. Namun, selama ini Rike tidak pernah mengatakan alasan orang tuanya.

"Mungkin ini cara tuhan mempertemukam saya dengan jodoh yang sebenarnya," cerita Arif kepada temannya, Slamet, suatu sore.

Hubunganny kandas juga dilatarbelakangi kesalahan yang diperbuatnya terhadap Rike. Entah apa  yang menutup rapat hati Rike sehingga tidak lagi memberinya kesempatan. Berbagai cara dilakukan, namun mental dan tak berhasil.

Sempat ia nekad ingin melamar Rike sebagai bukti keseriusannya, namun apa daya Rike justru lantang menolak rencana tersebut. Alhasil, upaya Arif merajut kembali hubungannya yang sempat lusut tak berjalan mulus.

"Semua manusia punya batas kesabaran, saya heran kenapa berakhir seperti ini. Saya memang orang Madura, tapi apakah semua dinilai rata, masih ada yang baik," Arif melanjutkan ceritanya.

"Jika sudah ihlas lupakan, cari lain yang sekiranya menerima tanpa syarat. Tanpa melihat latar belakangmu," pesan Slamet ke Arif.

Arif kemudian diam dan tak berbicara sepatah pun. Pikirannya mulai menjelajah, berfikir perempuan lain. Membayangkan sosok perempuan yang akan mengisi hatinya dan menerima apa adanya. Namun, seketika bayangan itu pudar saat terlintas kenangan bersama Rike.

"Biarlah saya menikmati masa-masa sendiri ini, mungkin ini baik buat masa depan saya sampai menemukan perempuan terbaik," yakinnya sembari melempar senyum kepada sahabat kecilnya itu.

                        *********
Malam kembali datang, namun kali ini tanpa mendung sehingga sinar rembulan dan bintang-bintang terlihat jelas berjajar di langit. Deruan angin lebih lirih dari biasanya. Tetapi malam ini ia dilanda kantuk. Kelopak matanya mulai menyatu meski beberapa kali menampakkan bola mata.

Arif lalu terlelap dalam mimpinya. Ia membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlintas dalam pikirannya apakah keputusannya melepas kekaaih yang amat disayang merupakan langkah tepat, ia sadar pasti ada penyesalan kelak.

Ia mengidamkan suatu saat dipertemukan kembali meski sudah sama-sama memiliki pendamping.

Laki-laki Madura yang bermimpi meminang istri orang Jawa pun harus tunduk pada tradisi dan keadaan. Bunga melati yang semerbak tak mampu menghapus kenangan indah bersama Rike, meski akhirnya Arif dipertemukan dengan perempuan yang tak kalah jauh baik dengan mantannya.
Lima Pejantan dalam Ikatan "Sahabat"

Lima Pejantan dalam Ikatan "Sahabat"

Cuaca dingin Kota Malang yang membekap tubuh hingga terasa menggigil tak menyurutkan untuk tetap beraktivitas. Segelas kopi dan gorengan menjadi teman disaat gerimis sore hari.

Hiruk pikuk pengguna jalan dengan kemacetan disegala penjuru sudah hal biasa tersaji setiap akhir pekan. Penjaja makanan sibuk melayani pelanggannya hingga meluber dan antri panjang.

Loper koran tetap bersemangat menyodorkan ke setiap bilik kaca mobil pengguna jalan dengan harapan tertarik isi berita di halaman depan dan membeli salah satu surat kabarnya.

Sedangkan kaum hawa dan adam berpakaian rapi dengan bawahan rok dan celana hitam. Sementara bagian atas baju putih dibalut jas almamater warna hijau. Tampak jika mereka adalah mahasiswa Unisma yang sedang-sudah melaksanakan ujian akhir semester (UAS).

Tempat ngopi bersejarah 'Agepe' awal mula lima laki-laki dengan latar belakang, karakter, dan corak serta berbeda domisili dipertemukan. Tak kerasa sudah lebih 6 tahun kebersamaan ini tetap rekat dan terjalin. Bagi saya, punya empat teman ini sungguh bahagia dan merupakan karunia tak ternilai.

Sebut saja, M Khoiron Mahbubi yang akrab disapa Gus Choi, Faisol Arifin akrab disapa AFA, Taufik Al Amien, serta Bhuston Nawawi yang akrab saya panggil pak kos.

Gus Choi kali pertama kenal saat di kontrakan teman-teman Sumenep (dulu belakang kampus Unisma). Ia salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. Sedih-senang sudah dilalui bersama delapan tahun bersama-sama di Malang. Mulai urusan kampus yang tidak kunjung kelar, soal asmara, hingga kesenangan yang sama, yakni suka berpetualangan.

Faisol Arifin adalah teman satu pondok duluny, sama-sama mengenyam pendidikan di pondok dan satu sekolah (SMA), tapi baru akrab dan layaknya saudara ketika bersua di Malang. Sama-sama bernaung di bendera bintang sembilan, ia lantas menjadi sosok sahabat yang kerap menasehati dan menenangkan. Petuah-petuahnya pun kerap menjadi pelecut semangat bagi saya.

Diakui atau tidak, ia lebih maju dan satu langkah di depan saya, urusan kuliah sudab beres, kini ia masih rajin mengenyam pendidikan. Sedangkan urusan asmara alumnus Unitri ini sudah meminang tetangganya yang masih berusia 13 tahun.

Suka duka pernah dijalani bersama, konflik dan salah paham sempat terjadi, namun bisa diatasi secepat mungkin.

Taufik yang akrab saya panggil "LE". Le dalam bahasa jawa panggilan bagi anak laki-laki. Sedangkan, ia manggil saya "kacong", di madura kacong panggilan untuk anak laki-laki.

Pria yang bisa dibilang suka asal ngomong dan ceplas ceplos ini mulai akrab disaat sama-sama memasuki semester tiga di Unisma. Ia menempuh Fakuktas Ekonomi dan saya Fakuktas Pertanian. Perjalanan hidupnya pun terekam dalam memori saya hingga kini, mulai perjalanan karir, asmara, hingga suka dukanya pun bisa dibilang 99,9 persen saya paham. Tak jarang, ketika putus sama pacarnya saya kena getahnya juga.

Ketika merasa sumpek menghadapi masalah, ia bahkan menenangkan diri di rumah saya, Madura, beberapa hari. Kendati, di rumah disambut dengan hamparan padi di dalam rumah. Namun, baginya ada kesan mendalam selama di Madura, terutama ketika disajikan menu lauk burung. Ya begitulah di rumah, apa adanya disuguhkan tanpa mengabaikan istilah 'tamu adalah raja'.

Sahabat terakhir ini, Bhuston Nawawi, mungkin lebih muda dari saya dan tiga lainnya. Pria sok cool ini selalu tampil tersenyum kendati dalam benaknya punya beban berat yang belum selesai. Tapi cara pandang dan berfikirnya bisa dibilang lebih dewasa dari usianya. Kondisinya sama, kerap di telfon orang tua dan ditanya kapan wisuda, kapan wisuda??

Sumpek pun kerap menghampiri, baginya, makan yang serba pedas dapat meredakan nyeri di kepalanya. Apalagi saat sumpek tidak jadi jalan bersama mutiaranya (kekasih).

Dua bulan satu kamar, saya pun semakin paham, makna sahabat dan saudara. Namun, keempat sahabat dipertemukan dalam sebuah forum "ngopi bareng". Suasana seperti ini memang langka, wajar bila tempat kami bernostalgia riuh dan rame seketika.

Sejenak, keempat sahabat saya pun melupakan kemesraan malam minggunya bersama kekasihnya. Entah itu bentuk prihatin terhadap saya atau memang tidak ada jadwal jalan.

Mereka memilih berkumpul dan menikmati setiap tetes kopi hitam racikan asal Gresik. Mengenang masa lalu yang suram kerap dilontarkan dan gelak tawa pecah seketika. Saling ejek dan menceritakan keburukan satu sama lain sudah hal biasa.

Kebetulan hingga sekarang empat sahabat ini belum juga memutuskan naik pelaminan. Entah apa yang ada di benak mereka, jika dibilang siap, mereka lebih siap dibanding saya. Misal, calon pendampingnya sudah ada tinggal dilamar.

Jalinan sahabat ini tetap akan dirajut meski kelak disibukkan dengan kehidupan rumah tangga dan pulang ke tanah kelahiran masing-masing, kecuali Taufik yang lebih dulu pulang ke tanah kelahirannya Lumajang. Janji akan menikmati kopi bersama di Malang pun diucapkan sebagai ikatan kelak bisa berjumpa lagi. Meski setiap hari tak jarang berkomunikasi lewat Handphone (Hp).

Tak dipungkiri, empat laki-laki termasuk saya kini masih menjelajah dan mencari tulang rusuk yang dirasa cocok dan merupakan jodohnya.

Bukan berarti mengabaikan teman-teman yang lain. Sebut saja teman akrab saya Sudarmono (hari ini sudah menikah), Iwan yang kini sudah menyandang status lulusan S2 dan diterima sebagai kerja di Surabaya, serta sahabat-sahabat lainnya. Semua spesial dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Tanpa mereka, saya tidak kuat berdiri saat kaki ini rapuh. Saya tidak kuat melihat dikala kelopak mata ingin terpejam. Tidak kuat rasanya bila tidak ada sandaran saat tubuh ini letih dan tumbang tanpa sahabat.

*Kenangan ngopi bersama di Agepe Malang

24 Januari 2016

'Orang Yang Nggak Baca, Sempit Penglihatannya'


Alhamdulillah, satu buku yang ditulis Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer dengan judul 'Bersama Mas Pram, Memoar dua adik Pramoedya Ananta Toer' bisa diselesaikan sampai tamat sekalipun harus mencuri waktu membaca disela-sela bekerja.

Alur cerita seputar Mas Pram sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer, menarik saya untuk menyelesaikan buku setebal 504 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), cetakan 1 tahun 2009.

Buku yang mengulas tentang kehidupan seksual, kegigihan kerja, pandangan tentang wanita dan perkawinan, aktivitas menjelang 1965, sikapnya tentang tuhan dan doa, cara dia mendidik adik-adiknya serta percakapan ketika ditangkap tahun 1965. Perjalanan hidup seorang novelis terbesar Indonesia ini mampu disajikan secara rinci dan patut dijadikan cerminan dalam menjalani hidup. *Dalam hati ingin sekali menulis seperti keluarga Toer.

Kebiasaan membaca sudah lama saya tinggalkan, namun melihat buku tersebut kegemaran membaca seketika kembali. Entah karena sibuk bekerja, atau memang sedari kecil tidak pernah akrab dengan yang namanya buku.

Tapi, semasa mahasiswa sempat saya koleksi puluhan buku, entah kemana wujudnya sekarang. Setiap kali teman main ke kos dengan alasan ingin membaca, maka dibawalah buku-buku yang saya beli dari uang kiriman orang tua.

Bahkan, setiap kali ada bazar buku murah, seminggu sebelum berlangsung sudah menabung untuk memburu buku-buku bagus, baik buku keilmuan, sosial, budaya, politik, hingga filsafat.

Saya malu dan amat malu ketika ditanya dan disinggung salah satu teman. "Katanya aktivis, tapi koleksi buku bacaannya gak ada". Seketika wajah saya memerah dan telinga terasa panas disertai dalih jika buku-buku saya banyak hilang oleh tangan jahil. Bukan bermaksud mengkambing hitamkan teman dan kerabat, faktanya demikian selama ini.

Ingin sekali saya melayangkan pukulan ke mulutnya dan mendesak ia menarik omongannya. Tetapi, apa yang diucapkan itu merupakan kritik membangun bagi saya, sehingga hasrat main fisik pun saya buang jauh-jauh. Kata-kata tersebut kini saya kenang dan tak kan pernah dilupakan.

Mengutip kata mutiara Mas Pram 'orang yang nggak baca, sempit penglihatannya'. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Mas Pram. Banyak orang yang pintar bicara dihadapan umum, tapi yang dibicarakan tidak bernilai. Berbeda, jika orang tersebut rajin membaca, apa yang diomongkan selalu ilmiah.

Namun, kebiasaan membaca akan hambar manakala tidak didiskusikan maupun dituangkan dalam bentuk tulisan. Tidak ayal, jika Mas Pram meminta adiknya (Koesalah Soebagyo Toer, dkk) mengarang, mengarang apa saja.

"Mengarang untuk kemanusiaan" ucap Mas Pram kepada adiknya. Apa yang akan ditulis, baik itu opini, cerpen, artikel, dan sejenisnya sejatinya untuk kemanusiaan. Jika tujuannya sekadar dapat honorarium maupun berharap dikenang orang, tidaklah jauh berbeda dengan para politisi yang bermuka rakyat di depan umum, dan bermuka penguasa haus kekuasaan di belakang.

Membaca merupakan kebiasaan siswa dan mahasiswa. Sayang, hanya segelintir mahasiswa yang masih mau berlama-lama membaca saat ini. Mereka lebih suka berlama-lama di tempat ngopi, main game, dan hura-hura. Semoga tuduhan saya ini tidak benar!!

Sebagai pribadi yang kini bergelut di dunia jurnalis malu kiranya bila tak menghasilkan sebuah karya. Sebut saja teman saya Irham Thoriq, wartawan Radar Malang, aktif menulis dan saat ini buku pertamanya telah terbit.

Saya kapan? Kapan punya karya? Karya yang menjadi warisan buat anak cucu kelak?

13 Januari 2016. Di Padepokan Djati Kusumo, Singosari, Malang
Si PNS yang Menaruh Cemburu Terhadap Buruh

Si PNS yang Menaruh Cemburu Terhadap Buruh


Diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) impian semua orang. Tak terkecuali mahasiswa yang baru selesai mendapatkan gelar sarjananya. Tak terkecuali siswa SMA/SMK yang baru lulus dan berlomba-lomba mendaftar sebagai anggota Polisi/TNI.

Meski harus mengeluarkan puluhan juta agar diterima sebagai abdi negara. Hal itu menjadi lumrah di masyarakat, padahal aturan tegas melarang praktek tersebut.

Bahkan, mengabdi puluhan tahun belum juga diangkat sebagai pegawai negeri dijalankan penuh sukarela oleh pegawai yang menyandang status pegawai honorer dan kontrak. Sambil berharap ada berkah dan panggilan dinobatkan sebagai pegawai negeri.

Ternyata hal itu tidaklah dinikmati semua pejabat negara. Sebut saja Sumarno, jelang 22 bulan akan pensiun sebagai abdi negara, ia justru iri dan cemburu kepada para buruh. Bagaimana tidak setiap setahun sekali gaji buruh selalu naik disesuaikan Upah Minimum kota/kabupaten (UMK).

Di Kota Surabaya saja gaji buruh sampai Rp3 juta lebih. Di Kota Malang dan sekitarnya di atas Rp2 juta. Angka tersebut terus merangkak naik sesuai perkembangan ekonomi di Indonesia. Baik buruh pabrik rokok, pabrik olahan makanan, dll.

Sedangkan, di PNS, gaji naik dua tahun sekali, itupun tidak lebih Rp125 ribu sekali naik bagi pejabat golongan IVa, dan seterusnya tidak jauh berbeda.

Bagi Sumarno, jadi pejabat bersyukur karena saat mendaftar tanpa harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Maklum, zaman orde baru daftar PNS cukup mudah. Berbeda dengan saat ini, ribuan bahkan jutaan pendaftar, tapi hanya ratusan yang diambil.

Dipersempit dengan adanya moratorium penerimaan CPNS yang diberlakukan sejak 2014 silam, kecuali bidang profesi guru, farmasi dan profesi lainnya.

Baginya, seharusnya seorang buruh/pekerja bersyukur bisa memiliki gaji yang terus meningkat. Belum termasuk tunjangan dan jaminan lainnya (BPJS).

Kendati begitu, jam kerja buruh juga terbilang enak. Selain bekerja sesuai target, mereka juga disiplin masuk dan pulangnya. Sehingga gaji yang dibayarkan setimpal dengan jerih payahnya.

Sementara, seorang pegawai negara jam masuk dan pulangnya tidak menentu, sehingga mereka diwajibkan melakukan finger print setiap masuk dan pulang, sebagai bukti mereka bekerja sesuai aturan. Jika tidak, siap-siap mendapatka  sanksi dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Wajar, jika gaji yang dibayarkan tidak setimpal atas kinerjanya setiap harinya.

Tidak hanya itu, pegawai dengan latar belakang yang bervariasi cenderung tidak menguasai bidangnya. Tak heran bila pelayanan ke masyarakat kurang maksimal. Bagi Sumarno, hal itu merupakan pengalaman yang tak dapat dihindarkan. Dan ia mengaku menyesal karena mendapat gaji buta selama ia bekerja tidak sesuai harapan.

Selain itu, buruh/pekerja memiliki kelompok atau serikat, sehingga mereka mampu menyuarakan aspirasinya, misal soal gaji, jam kerja, hingga toleransi antar sesama apabila diperlakukan sewenang-wenang oleh perusahaan. Bayangkan, pegawai sipil demikian, sudah pasti kena semprot atasan dan untung bila tidak dimutasi ke  daerah terpencil atau diturunkan pangkatnya.

Ya, begitulah nasib seorang pegawai sipil. Kebanggaannya hanya terletak pada pakai seragam rapi, sedangkan buruh hanya berbekal kaos dan dibekali alat keselamatan kerja. Jadi pegawai bisa bangga manakala dapat bekerja dan bermanfaat bagi masyarakat. Ya itulah hidup, bagi Sumarno, kedua anaknya beruntung tidak sampai mengikuti jejaknya, satu berprofesi sebagai dokter dan  juga dosen, satu lainnya bekerja di perusahaan ternama.

Sumarno memberi tips rahasi menjadi pejabat baik, intinya tidak menerima uang di luar gaji bulanan. Karena, uang "panas" tersebut hanya mendatangkan masalah dalam keluarga dan kehidupan. Sumarno mengalami hal itu sekali, dan tak pernah mengulangi lagi alias kapok.

Hidup tak seindah yang dibayangkan, jika pegawai negeri saja iri kepada seorang buruh, maka sebaliknya seorang buruh iri terhadap pegawai negeri. Berangkat pagi dengan pakaian rapi dan mobil dinas, pulang sore dan kerjaan di kantor tidak seberat pekerjaan di perusahaan.

Sama halnya orang kaya melihat petani yang sedang di ladang dinilai lebih bebas dan merdeka, sebaliknya petani melihat begitu enaknya jadi pejabat tidak perlu kotor dan bekerja seharian mendapatkan bayaran tinggi.

Catatan: tidak ada pekerjaan yang gampang dan indah selama kita bekerja bukan dijadikan hobi dan kebiasaan setiap hari. Sifat manusia selalu haus akan harta, tahta dan jabatan. Tinggal bagaimana memposisikan diri dan tidak berlebih-lebih.
Melek Teknologi, Berlomba dengan Waktu, Terciptanya Kekeluargaan

Melek Teknologi, Berlomba dengan Waktu, Terciptanya Kekeluargaan

Mengenal Dunia Jurnalis (2)

Memiliki dasar jurnalis, minimal sudah bisa menulis berita maupun profil seorang tokoh, seniman, siswa dan mahasiswa berprestasi atau biasa disebut feature, modal awal saya memilih ke luar dari Malang Post.

Bukan berarti saya 'ibarat kacang lupa kulitnya'. Malang Post adalah rumah di mana saya ditempa, dididik, dilatih, dicaci, dimarahi, bahkan terkadang harus berkonflik dengan teman kantor karena lalai dalam penugasan. Namun, semua itu bertujuan untuk kebaikan saya, agar supaya bisa menjadi seorang wartawan handal, menjunjung tinggi pers sehat, dan menyajikan fakta sebenar-benarnya, tanpa memihak satu kelompok maupun golongan tertentu.

Alasan saya ke luar Malang Post tidak murni semata fokus mengerjakan skripsi. Mungkin saya jenuh, jenuh segalanya selama meniti karir di Malang Post. Ingin merasakan suasana kerja baru, lebih menantang dan sesuai hati nurani.

Di Malangtimes.com saya langsung bertemu dengan General Manager, Fathul Yasin (adik kandung Gus Siraj, Ketua PCNU Kota Batu). Semula diminta mengirim curiculum vitae (CV) beserta contoh tulisan berita. Maklum, terbiasa menulis untuk halaman koran, berita yang saya kirim dinilai terlalu panjang dan tidak sesuai dengan kebutuhan kantor.

Maklum saja, media online mengedepankan kecepatan (speed) agar segera sampai ke masyarakat, tetap berpedoman pada kaidah jurnalis. Jika biasa menulis satu berita sampai 1,5 halaman, kali ini di Malangtimes dituntut menulis berita singkat, padat dan akurat. Kisaran 5-6 paragraf, tanpa mengurangi kadungan dan esensi berita tersebut.

Butuh waktu cukup lama untuk saya beradaptasi dari gaya kerja media cetak ke media online. Jika selama di Malang Post saya menulis berita harus dihadapkan dengan komputer dan disiplin masuk kantor, di media online saya lebih bebas mengetik dimanapun, asal berita cepat jadi dan siap disantap oleh pembaca.

Sebagai remaja yang lahir di kampung, wajar saja bisa dibilang ketinggalan atau kurang melek teknologi. Saya sempat heran dan tercengang, kog bisa berita yang baru saya ketik kemudian dengan cepat telah tayang dan dapat diakses tidak kurang dari 5 menit. Meski, tidak jarang sering baca berita-berita di Detik.com, kompas.com, dll.

Jika sebelumnya lebih akrab bekerja di depan komputer, saat di media online tiada henti bermain Hp. Bukan lagi chat bbm, whatshap, melainkan sedang merangkai berita yang bagus. Slentingan saya manusia autis kerap terdengar dan sudah menjadi biasa di telinga setiap kali kata-kata itu diucapkan.

Selama di Malangtimes, Pimred, Achmad Rizal yang lantas saya panggil Pak Pimred, merupakan sosok paling berjasa selama beradaptasi dari wartawan cetak ke online. Setiap rapat mingguan, wartawan senior itu mampu mengajarkan cara membuat berita yang baik dan tidak berbelit-belit. Dengan laten dan ulet tidak henti-hentinya mengajarkan kami (M Choirul, Hamzah, Deny Rahman, saya biasa panggilnya mas Brewok). Satu teman lagi yakni Mufidah yang dulu lebih banyak berada di kantor (kalau tidak salah, alumnus UMM ini sudah menempuh S2 nya di Australia).

Kami dituntut tidak melakukan kesalahan sama sekali istilahnya zero eror. Baik salah kata, huruf, spasi hingga penempatan tempat dan tanggal. Terpenting setiap berita wajib dilampiri foto.

Waktu itu, media online belum diperhitungkan, masih dipandang sebelah mata. Masuk pertengahan tahun 2015, media online di Malang mulai bermunculan. Jika dulu masyarakat mengakses informasi seputar Malang Raya cukup buka Malangtimes, kini sudah banyak media menawarkan informasi terbaru setiap detik-menitnya.

Sehari, semingggu, hingga sebulan saya terus mengalami kemajuan dalam perihal menyajikan berita. Pujian pun beberapa kali saya terima dari orang kantor, meski tidak jarang kena semprot lantaran berita yang ditulis struktur katanya mbulet (tidak to the poin) dan tak beraturan.

Saya lantas menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam bekerja. Saat itu gaji saya terima tiap bulannya Rp2,5 juta.

Mendekati bulan ketujuh, suasana kerja mulai berubah. Kasak kusuk ketidakharmonisan antara pimpinan semakin kental. Bahkan, tercium aroma perpecahan. Kabar itu kemudian kami tindaklanjuti dengan melakukan pertemuan terbatas sesama wartawan. Banyak hal yang diobrolkan, tapi semuanya hambar karena tidak tersampaikan ke atasan.

Seminggu sebelum resmi saya keluar Malangtimes.com, saya dan temam-teman dikumpulkan. Saat itu, kami dipaparkan perihal kondisi kantor. "Malangtimes sudah dibeli sama pengusaha," ucap Pimred. Dengar kabar tersebut kami pun sontak, meski sebelumnya isu ini sudah terdengar oleh kami.

Ruangan redaksi yang semulai hiruk pikuk tiba-tiba sunyi seribu bahasa. Lantas saya memulai pembicaraan lagi."Saya suka dengan keakraban dan kerja ini, saya belum pernah menemukan pimred dan teman-teman wartawan seperti sekarang. Apapun keputusannya saya akan tetap bersama," ucapku di dalam pertemuan khusus itu. Ternyata yang saya ucapkan sama dengan unek-unek teman-teman lainnya, meski cukup dipendam dalam hati.

Kemudian, pertemuan itu selesai tanpa ada keputusan. Maklum, jauh-jauh hari diberitahu agar supaya tiba saatnya kami tidak kaget dan kecewa berat.

Seminggu kemudian kami diundang buka bersama di kantor dan pertemuan dengan pemilik saham (pengusaha) dkk. Ada rasa kecewa mendalam dalam diri melihat pimpinan yang menurut saya menjual secara sepihak. Saat itu, posisi Malangtimes berada dikisaran peringkat 2000-an di Alexa atau unggul dari media online lainnya.

Singkat kata, pertemuan itu tidak lebih formalitas. Bahkan, niat hati sudah enggan bertatap muka dengan pimpinan baru. Bagaimana tidak, dia adalah seorang pengusaha kontraktor, bahkan dikenal dekat sama Wali Kota Malang.

Tepat akhir bulan kemudian saya kompak keluar Malangtimes. Tentunya sudah mengantongi gaji di bulan terakhir kami kerja. Sayang, sebulan jelang Idul Fitri kami tidak dapat tunjangan hari raya (THR) sepeserpun. Kamipun diselimuti rasa kecewa, beruntung uang iklan yang belum saya ambil kemudian dibuat THR berempat. Entah benar atau tidak tindakan kami, kami hanya menagih janji yang awal disampaikan. Besaran yang diterima setelah dibagi juga tidak sesuai nominalnya, tapi asal kami senang dan tetap bersama, semuanya selesai.

Pasca keluar Malangtimes sebulan lamanya kami tidak kerja. Setiap hari diselingi ngumpul sembari ngopi dan buka bersama. Hingga akhirnya berinisiatif mendirikan media online baru yang lebih sehat, transparan dan pastinya jauh dari konflik kepentingan.

Selama pengangguran, beberapa media menawarkan saya bergabung. Hal itu juga dirasa teman-teman lainnya. Tak terkecuali mantan pimpinan di Malangtimes, meminta saya dan teman-teman kembali. Semua tawaran itu kami tolak dengan harapan kebersamaan dan kekeluargaan yang kami bangun tak pecah.

Malang Post, Mendidik Sedari Kecil, Awal Mula Jadi Seorang Jurnalis

Malang Post, Mendidik Sedari Kecil, Awal Mula Jadi Seorang Jurnalis

Mengenal Dunia Jurnalis (1)

***
Tidak pernah terbesit sama sekali sejak kecil saya akan terjun di dunia jurnalis. Dunia manusia yang super sekali, langka, dan banyak orang bilang dunianya orang 'hebat'. Bekerja tanpa kenal waktu untuk sekadar menyajikan informasi akurat, aktual, dan terbaik bagi masyarakat.

Sama sekali saya tidak memiliki dasar ilmu komunikasi maupun jurnalis. Selama duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama hingga atas, hobi saya hanyalah bermain sepak bola dan kelak bermimpi jadi penjaga negara dan dikenal saat ini TNI.

Masuk dunia kampus, menempuh studi Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, justru memiliki tekad kuat menjadi seorang aktivis, tiada henti melakukan aksi jalanan (demo), kritis atas penindasan dan kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyatnya hinggga berdiskusi tak kenal waktu, siang-malam. Entah apa yang di diskusikan, pokoknya ngalor ngidul (sembarangan).

Namun, selama menjadi mahasiswa saya sempat mengikuti pelatihan jurnalistik. Ilmu jurnalistik kali petama saya terima saat masih semester tiga, ketika itu saya nimbrung di acara pelatihan teman-teman PMII Univerisitas Negeri Malang (UM) atau biasa disebut Komisariat Sunan Ampel. Berlangsung di Kota Batu. Materi yang diingat sampai sekarang adalah membuat berita yang disampaikan mas Kholid Abdullah, Redaktur Radar Malang.

Selanjutnya, semester empat saya kembali mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan PPMI Malang. Bertempat di Unmer Malang. Kebetulan saya mewakili BSO Radix di bawah naungan LGM Pertanian.

Teman yang saat ini sama-sama menggeluti dunia jurnalis adalah Tommy Apriando (wartawan Mongabay Indonesia). Saat itu, ia datang jauh-jauh dari Jogjakarta mengikuti kegiatan tersebut. Alhamdulillah, hubungan persaudaran hingga sekarang tetap terjalin. Bahkan, terkabul cita-cita menjadi seorang juru kuli tinta. Beberapa waktu lalu akhirnya kami dipertemukan kembali di acara Festival Media (Fesmed) AJI Indonesia di Jakarta. Seraya sempit dunia ini, tapi bagaimanapun jiwa kami memanglah sama, sama-sama berjuanh memberikan informasi positif, menolak kezaliman dan menjunjung tinggi jurnalis sesuai kode etik.

Namun, usai pelatihan saya justru seakan lupa mau belajar lebih mendalam soal jurnalis. Padahal, selama pelatihan menggebu-gebu, bertekad menjadi seorang jurnalis handal.

Kecintaan saya akan dunia jurnalistik lantas menjadi program kerja selama mengisi jabatan sebagai Ketua Komisariat PMII Unisma periode 2012-2013. Sahabat yang juga aktif di LPM MEI, Habibullah dipasrahi menyelenggarakan pelatihan jurnalistik. Dengan harapan, PMII memiliki kader-kader seorang jurnalis kelak. Sayang, lagi-lagi upaya tersebut kandas di tengah jalan.

Pasca menyelesaikan tanggung jawab sebagai pucuk pimpinan PMII Unisma, tepatnya bulan Juni 2013. Lantas, saya bingung mau melangkah ke mana, mau aktif sebagai pengurus cabang PMII, saat itu belum ada pergantian pengurus. Boro-boro mau melangkah ke mana, kos-kosan aja saya gak punya(****).

Akhirnya saya memutuskan numpang tinggal di sekret GGGA yang bertempat di Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu. Berharap, ada ilmu dan pengalaman baru pasca berkecimpung di dunia organisasi. Semula harapan mencari pengalaman baru berjalan mulus. Tidak sengaja saya membeli salah satu surat kabar lokal Malang. Setiap lembar berita yang disajikan saya baca sampai tuntas. Sampai di halaman tengah terpampang lebar iklan bertuliskan "Diklat Jurnalistik Malang Post" lengkap dengan contac person.

Esok harinya saya bersama Sudarmono (sekarang bekerja di Surabaya), Iwan (Sudah lulus S2 Hukum), dan Abdul Aziz (kabar terakhir balik kampung, Sragen, Jawa Tengah), mendatangi kantor Malang Post di Jalan Sriwijaya nomor 9 atau di depan Stasiun Kota Baru.

Di sana saya dan teman-teman disambut bagian resepsionis sembari menyodorkan daftar calon peserta diklat. Dalam lembar kertas putih itu nama ketiga teman sudah tercatat, lengkap dengan studi akhir. Sedangkan, saya bingung mau diisi apa sudah lulus atau masih mahasiswa. Akhirnya saya putuskan sebagai mahasiswa akhir. Maklum, calon peserta diklat harus semester akhir atau sudah lulus.

Selang beberapa hari, pesan dsri nomor baru masuk ke Hp saya, memberitahukan diklat jurnalistik akan dilangsungkan hari Rabu-Kamis. Seingat saya bulan Juni 2013. Tanggal berapa saya lupa, tapi diklatnya dilangsungkan di ruang rapat Malang Post. Tercatat ada 15 peserta dari beberapa kampus, bahkan ada yang sudah berkeluarga.

Materi ke-jurnalistikan pun disampaikan oleh wartawan senior Malang Posy, Chusnun Djuraid. Usai menimba teori soal jurnalistik, kemudian kami diminta terjun langsung ke lapangan untuk mencari berita.

                            *****
Singkat cerita, saya memulai menjadi seorang pemburu berita di Malang Post, meski statusnya masih magang. Semula berfikir, memburu berita amatlah mudah dan gampang, tapi saat merasakan sendiri, di hari pertama magang saya harus memacu gas memutari Kota Malang, entah berapa kilometer saya tempuh untuk mendapat satu berita. Saat itu masih beluk ada target layaknya wartawan senior.

Usai lelah seharian berfikir berita apa yang layak ditulis, kini saya dihadapkan dengan bagaimana merangkai data-data yang didapat dari lapangan. Jemari seakan kaku melihat huruf-huruf di laptop, pikiran mengawang, mencari awal kata yang bagus untuk menuliskan kepala berita atau biasa disebut lead. Di kepala berita harus terdiri dari unsur 5W+1H.

Untuk satu berita butuh dua jam saya menyelesaikannya. Esoknya, kaget disertai senang, karya saya bisa terselip di halaman Malang Post. Hal itu tentu memacu semangat saya untuk terus berusaha.

Dari 15 orang yang ikut diklat, tersisa 5 orang. Dua teman saya, Abdul Aziz dan Iwan mundur karena merasa tidak memiliki skill. Sedangkan, Sudarmono yang akrab saya panggil Momon masih tetap bertahan, tapi seminggu kemudian ia beralasan sakit dan sejak itu berhenti, tak pernag mengirim berita.

Seminggu di Malang Post, saya dan dua teman magang lainnya dipanggil menghadap Pimred Malang Post, Ra Indrata atau akrab disapa pak Indra. Lantas kami ditawarkan mau lanjut magang apa tidak, karena merasa tertantang saya kemudian mengiyakan tawaran itu. Saya ditempatkan di Kota Batu, dua teman lainnya tetap di Kota Malang.

Dari Kota Batu, sedikit banyak saya mengerti bagaimana membuat berita yang baik dan positif. Kebetulan, saya mendapatkan redaktur yang cekatan, lugas dan selalu membimbing setiap saat.

Waktu terus berjalan, awal di Kota Batu diisi tiga wartawan senior, satu persatu ditarik ke balik kandang. Tersisa saya dan Mas Febri dan satu redaktur, pak Samsuliono. Dua halaman dihandel dua orang, semula saya menikmatinya, namun saat salah satu di antara kami libur, saya harus bekerja dua kali lipat. Bahkan, saat libur pun saya tetap stok berita setidaknyan 2 hingga 3 berita.

Hampir semua pejabat di Kota Batu saya kenal, mulai bawahan, kepala SKPd hingga Wali Kota pun kerap menjadi narasumber selama di Batu. Bahkan, kantor BPBD menjadi rumah kedua saya selama ditugaskan di Batu.

Berbagai kejadian besar pernah saya liput, seperti banjir bandang di Pujon dan Ngantang, serta terakhir Gunung Kelud meletus. Pengalaman tersebut tetap menjadi pengalaman berharga selama menekuni dunia jurnalis hingga kini. Bagaimana tidak, butuh perjuangan dan keberanian liputan saat dua kejadian besar itu terjadi. Melawan rasa takut, hujan, bahkan gelap gulita karena lampu di lokasi padam seketika.

Tapi, tak lama kemudian saya ditarik ke Malang, saya ditugaskan liputan seputar pendidikan, hanya bertahan tiga bulan saya memutuskan ke luar dari Malang Post. Berat, tapi itulah saya, suka grusa grusu dalam mengambil keputusan. Kendati cara ke luar saya brutal dan tak beradab (sampai sekarang saya menyesal karena sikap saya yang tidak dewasa).

Malang Post adalah rumah saya mengenal apa itu dunia jurnalis. Semua wartawannya, pimpinan hingga teman-teman dibagian pemasaran dan iklan merupakan guru-guru saya selama 1 tahun 2 bulan bersama. Banyak hal yang didapat selama di Malang Post, entah berapa banyak hingga tak bisa ternilai. Terakhir sebulan sebelum saya ke luar sudah digaji Rp1,8 juta. Padahal, awal masuk cuma Rp750 ribu, statusnya masih sama "magang".

Namun, apalah daya, saya hanyalah manusia yang selalu merasa kurang dan memiliki sifat serakah. Saya memutuskan pindah media, yakni Malangtimes.com, berkat dorongan dan relasai teman sejawat saya selama di Malang Post dulu, M Choirul Anwar yang lebih dulu bergabung dengan Malangtimes.com, pasca ke luar dari Malang Post.

Saat itu, status saya masih mahasiswa dan jarang ke kampus. Konflik dengan orang tua terus berlanjut, pertanyaan kapan lulus layaknya sarapan setiap hari.**


Pasrah!!!

Pasrah!!!

Tak ada kekuatan lagi u berdiri tegak
Kini ku menyerah dan pasrah....!!!!
Ku ihlas akhir cerita ini, meski menyakitkan!!!!
Sekalipun sudah berusaha tak sedikitpun meluluhkan pendirianmu dan membuka pintu kesempatan kedua
Ku berjuang u cinta, bukan sekadar karena merasa bersalah
Ku mencoba sabar, tapi setiap hari ku merasa tersiksa karena tak ada kepastian
Ku berusaha bersabar, tapi tak sedikitpun mendapat dorongan darimu
Kini dimengerti, mungkin kebencianmu lbih besar daripada cintamu
Tak sedikitpun ku memendam benci terhadapmu
Justru, ku mengerti kenapa kita ditakdirkan tak bisa bersama lagi
Ku hanya bisa tersenyum dan bilang terima kasih semuanya.......????