Melek Teknologi, Berlomba dengan Waktu, Terciptanya Kekeluargaan

Mengenal Dunia Jurnalis (2)

Memiliki dasar jurnalis, minimal sudah bisa menulis berita maupun profil seorang tokoh, seniman, siswa dan mahasiswa berprestasi atau biasa disebut feature, modal awal saya memilih ke luar dari Malang Post.

Bukan berarti saya 'ibarat kacang lupa kulitnya'. Malang Post adalah rumah di mana saya ditempa, dididik, dilatih, dicaci, dimarahi, bahkan terkadang harus berkonflik dengan teman kantor karena lalai dalam penugasan. Namun, semua itu bertujuan untuk kebaikan saya, agar supaya bisa menjadi seorang wartawan handal, menjunjung tinggi pers sehat, dan menyajikan fakta sebenar-benarnya, tanpa memihak satu kelompok maupun golongan tertentu.

Alasan saya ke luar Malang Post tidak murni semata fokus mengerjakan skripsi. Mungkin saya jenuh, jenuh segalanya selama meniti karir di Malang Post. Ingin merasakan suasana kerja baru, lebih menantang dan sesuai hati nurani.

Di Malangtimes.com saya langsung bertemu dengan General Manager, Fathul Yasin (adik kandung Gus Siraj, Ketua PCNU Kota Batu). Semula diminta mengirim curiculum vitae (CV) beserta contoh tulisan berita. Maklum, terbiasa menulis untuk halaman koran, berita yang saya kirim dinilai terlalu panjang dan tidak sesuai dengan kebutuhan kantor.

Maklum saja, media online mengedepankan kecepatan (speed) agar segera sampai ke masyarakat, tetap berpedoman pada kaidah jurnalis. Jika biasa menulis satu berita sampai 1,5 halaman, kali ini di Malangtimes dituntut menulis berita singkat, padat dan akurat. Kisaran 5-6 paragraf, tanpa mengurangi kadungan dan esensi berita tersebut.

Butuh waktu cukup lama untuk saya beradaptasi dari gaya kerja media cetak ke media online. Jika selama di Malang Post saya menulis berita harus dihadapkan dengan komputer dan disiplin masuk kantor, di media online saya lebih bebas mengetik dimanapun, asal berita cepat jadi dan siap disantap oleh pembaca.

Sebagai remaja yang lahir di kampung, wajar saja bisa dibilang ketinggalan atau kurang melek teknologi. Saya sempat heran dan tercengang, kog bisa berita yang baru saya ketik kemudian dengan cepat telah tayang dan dapat diakses tidak kurang dari 5 menit. Meski, tidak jarang sering baca berita-berita di Detik.com, kompas.com, dll.

Jika sebelumnya lebih akrab bekerja di depan komputer, saat di media online tiada henti bermain Hp. Bukan lagi chat bbm, whatshap, melainkan sedang merangkai berita yang bagus. Slentingan saya manusia autis kerap terdengar dan sudah menjadi biasa di telinga setiap kali kata-kata itu diucapkan.

Selama di Malangtimes, Pimred, Achmad Rizal yang lantas saya panggil Pak Pimred, merupakan sosok paling berjasa selama beradaptasi dari wartawan cetak ke online. Setiap rapat mingguan, wartawan senior itu mampu mengajarkan cara membuat berita yang baik dan tidak berbelit-belit. Dengan laten dan ulet tidak henti-hentinya mengajarkan kami (M Choirul, Hamzah, Deny Rahman, saya biasa panggilnya mas Brewok). Satu teman lagi yakni Mufidah yang dulu lebih banyak berada di kantor (kalau tidak salah, alumnus UMM ini sudah menempuh S2 nya di Australia).

Kami dituntut tidak melakukan kesalahan sama sekali istilahnya zero eror. Baik salah kata, huruf, spasi hingga penempatan tempat dan tanggal. Terpenting setiap berita wajib dilampiri foto.

Waktu itu, media online belum diperhitungkan, masih dipandang sebelah mata. Masuk pertengahan tahun 2015, media online di Malang mulai bermunculan. Jika dulu masyarakat mengakses informasi seputar Malang Raya cukup buka Malangtimes, kini sudah banyak media menawarkan informasi terbaru setiap detik-menitnya.

Sehari, semingggu, hingga sebulan saya terus mengalami kemajuan dalam perihal menyajikan berita. Pujian pun beberapa kali saya terima dari orang kantor, meski tidak jarang kena semprot lantaran berita yang ditulis struktur katanya mbulet (tidak to the poin) dan tak beraturan.

Saya lantas menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam bekerja. Saat itu gaji saya terima tiap bulannya Rp2,5 juta.

Mendekati bulan ketujuh, suasana kerja mulai berubah. Kasak kusuk ketidakharmonisan antara pimpinan semakin kental. Bahkan, tercium aroma perpecahan. Kabar itu kemudian kami tindaklanjuti dengan melakukan pertemuan terbatas sesama wartawan. Banyak hal yang diobrolkan, tapi semuanya hambar karena tidak tersampaikan ke atasan.

Seminggu sebelum resmi saya keluar Malangtimes.com, saya dan temam-teman dikumpulkan. Saat itu, kami dipaparkan perihal kondisi kantor. "Malangtimes sudah dibeli sama pengusaha," ucap Pimred. Dengar kabar tersebut kami pun sontak, meski sebelumnya isu ini sudah terdengar oleh kami.

Ruangan redaksi yang semulai hiruk pikuk tiba-tiba sunyi seribu bahasa. Lantas saya memulai pembicaraan lagi."Saya suka dengan keakraban dan kerja ini, saya belum pernah menemukan pimred dan teman-teman wartawan seperti sekarang. Apapun keputusannya saya akan tetap bersama," ucapku di dalam pertemuan khusus itu. Ternyata yang saya ucapkan sama dengan unek-unek teman-teman lainnya, meski cukup dipendam dalam hati.

Kemudian, pertemuan itu selesai tanpa ada keputusan. Maklum, jauh-jauh hari diberitahu agar supaya tiba saatnya kami tidak kaget dan kecewa berat.

Seminggu kemudian kami diundang buka bersama di kantor dan pertemuan dengan pemilik saham (pengusaha) dkk. Ada rasa kecewa mendalam dalam diri melihat pimpinan yang menurut saya menjual secara sepihak. Saat itu, posisi Malangtimes berada dikisaran peringkat 2000-an di Alexa atau unggul dari media online lainnya.

Singkat kata, pertemuan itu tidak lebih formalitas. Bahkan, niat hati sudah enggan bertatap muka dengan pimpinan baru. Bagaimana tidak, dia adalah seorang pengusaha kontraktor, bahkan dikenal dekat sama Wali Kota Malang.

Tepat akhir bulan kemudian saya kompak keluar Malangtimes. Tentunya sudah mengantongi gaji di bulan terakhir kami kerja. Sayang, sebulan jelang Idul Fitri kami tidak dapat tunjangan hari raya (THR) sepeserpun. Kamipun diselimuti rasa kecewa, beruntung uang iklan yang belum saya ambil kemudian dibuat THR berempat. Entah benar atau tidak tindakan kami, kami hanya menagih janji yang awal disampaikan. Besaran yang diterima setelah dibagi juga tidak sesuai nominalnya, tapi asal kami senang dan tetap bersama, semuanya selesai.

Pasca keluar Malangtimes sebulan lamanya kami tidak kerja. Setiap hari diselingi ngumpul sembari ngopi dan buka bersama. Hingga akhirnya berinisiatif mendirikan media online baru yang lebih sehat, transparan dan pastinya jauh dari konflik kepentingan.

Selama pengangguran, beberapa media menawarkan saya bergabung. Hal itu juga dirasa teman-teman lainnya. Tak terkecuali mantan pimpinan di Malangtimes, meminta saya dan teman-teman kembali. Semua tawaran itu kami tolak dengan harapan kebersamaan dan kekeluargaan yang kami bangun tak pecah.

Related Posts

Previous
Next Post »