 |
| Pemandangan di Ranukumbolo pagi hari. |
2-3 Juni 2016
Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur kini menjadi salah satu jujugan wisata. Setiap hari lalu lalang pengunjung baik yang baru akan berangkat maupun sudah perjalanan pulang terlihat ramai. Apalagi hari weekend dan libur panjang, pengunjung dengan sendirinya membludak, baik itu pengunjung lokal maupun mancanegara.
Bahkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencatat sebanyak 550.000 wisatawan domestic dan mancanegara mengunjungi obyek wisata Gunung Semeru dan Bromo selama tahun2014. Dan pada tahun 2015 TNBTS menargetkan jumlah kunjungan mencapai 600 ribu orang. Namun, pada medio Oktober 2015, jumlah kunjungan wisatawan ke Bromo dan Semeru baru 435 ribu orang. Hal itu akibat status Gunung Bromo yang bergejolak dan wisatawan dilarang menuju puncak Bromo.
Namun, kunjungan ke gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dibatasi, yakni hanya 500 orang per harinya. Pengunjung hanya diperbolehkan mendaki sampai kalimati, tidak diperkenankan mencapai puncak mahameru (Semeru). Sesuai arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di mana status Gunung Semeru masih bergejolak.
Bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu dipastikan akan penasaran dan bertanya-tanya, apa benar demikian sebegitu menariknya Gunung Semeru, sehingga banyak pendaki yang rela sampai beberapa hari bermalam.
Sebelum berbicara puncak Mahameru, terlebih dahulu saya dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat indah nan alami. Mula-mula memarkir kendaraan di Ranupani (Desa Ranupani). Kemudian, mendaftarkan diri dan membeli tiket di pos petugas Gunung Semeru.
Setelah itu, setiap pendaki wajib mengikuti pembekalan yang diberikan oleh relawan. Kira-kira 45 menit petugas memberikan arahan mana yang boleh dan tidak sebelum mendaki ke Gunung Semeru. Jalur mana yang boleh-tidak dilewati. Bagi pendaki yang belum memenuhi kriteria, tidak membawa perlengkapan camping yang standar, dll akan dilarang mendaki. Sebab, sebelum berangkat setiap pendaki akan dicek lebih dulu barang bawaannya serta kelengkapannya.
Bagi pendaki yang sudah selesai dicek, diperkenankan melakukan perjalanan. Namun, saya bersama ketujuh teman memilih finish sampai Ranukumbolo. Tidak seperti yang saya bayangkan sejak awal, ternyata perjalanan dari Ranupani ke Ranukumbolo cukup menguras tenaga. Sebelum mencapai Ranukumbolo terlebih dahulu harus melewati empat pos yang jarak antar posnya cukup panjang. Tak sedikit pendaki yang berhenti di setiap pos, saya pun bersama ketujuh teman demikian. Baik itu sekadar melepas lelah, canda tawa, hingga menenggak air putih dan menikmati beberapa camilan ringan. Jangan khawatir kelaparan dan kehausan, di pos satu, dua dan tiga serta di Ranukumbolo ada warga sekitar yang berjualan, ada gorengan, semangka, ari mineral, dll.
Jalan yang dilalui pun cukup sempit dan curam. Bagi yang baru mendaki sebaiknya lebih berhati-hati, apalagi melakukan pendakian di malam hari. Bekal lampu dan senter sangat mutlak dibawa.
Untuk mencapai pos satu ke pos dua-pos tiga serta empat, dibutuhkan 1-1,5 jam perjalanan atau jika diakumulasi bisa sampai 5-6 jam, terbilang lambat. Biasanya, pendaki yang sudah biasa, cukup 3-4 jam. Namun, hal itu akan terbalaskan jika sampai di camp peristirahatan (Ranukumbolo). Menikmati malam di Ranukumbolo dan melihat panorama di pagi hari. Tak sedikit pendaki yang mengabadikan momen dengan latar belakang keindahan Ranukumbolo pagi hari.
Ranukumbolo salah satu camp atau tempat beristirahat pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati dan ke puncak Mahameru. Perjalanan dari Ranukumbolo ke Kalimati sama halnya dengan perjalanan dari Ranupani ke Ranukumbolo dengan track yang sama. Untuk mencapai puncak Mahameru dari Kalimati dibutuhkan 3-4 jam perjalanan. Kebanyakan pendaki berjalan ke Mahameru di malam hari dan menikmati panorama di atas Mahameru. Pendaki diimbau segera turun sebelum jam 10.00 WIB, pagi. Hal ini demi keamanan pendaki mengingat gas yang keluar dari kawah Semeru beracun.
Dari cerita teman-teman yang sudah beberapa kali ke Gunung Semeru. Tiga tahun terakhir Semeru ramai dari pendaki. Berbeda dari tiga tahun sebelumnya, di mana lalu lalang pendaki hampir tidak tampak, hanya sebagian pecinta alam yang melakukan pendakian. Namun, kini, masyarakat dengan latar belakang apapun tertarik berkunjung ke Semeru.
Kali pertama ke Ranukumbolo saya merasakan keasrian alamnya, sejuknya udara dan suasana nyaman untuk bersantai sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Sejenak melupakan pekerjaan yang cukup menguras tenaga.
Kawasan Gunung Semeru berada di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pokoknya cocok bagi siapapun yang ingin mengisi waktu liburan. Pastinya, sebelum mendaki haruslah mempersiapkan diri, salah satunya dengan olahraga secara rutin.
 |
| tumpukann sampah di depan toilet di Ranukumbolo |
Namun, dibalik keindahan Ranukumbolo masih saja kesadaran akan sampah menjadi masalah besar. Kendati pihak TNBTS menyiapkan sanksi bagi pendaki yang meninggalkan sampah di area Semeru, yakni denda dan disuruh kembali untuk mengambil sampah bawaannya.
Beberapa waktu lalu bahkan telah dilakukan gerakan sapu gunung oleh komunitas dan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, tampaknya hal itu tidak digubris oleh pendaki. Siapapun yang berkunjung di Ranukumbolo akan melihat sendiri tumpukan sampah (tisu, botol air, plastik) di depan toilet yang bersebelahan dengan warung milik warga. Belum lagi di dalam toilet terdapat tisu berceceran dan bau menyengat.
Singkatnya, jika tidak terpaksa maka sudah pasti mengurungkan niat untuk buang air besar di toilet bercat hijau tua itu. Bahkan, jika perlu memilih menahan dan buang air besar di semak-semak. Tidak hanya itu, setiap orang harus membawa botol air terisi penuh jika mau menggunakan toilet. Maklum, selain di toilet yang serba terbatas itu belum tersedia tempat sampah, juga tidak terdapat bak air, sehingga siapapun yang mau buang air besar harus terlebih dahulu mengambil air di danau Ranukumbolo.
Jumlah toilet diranukumbolo ada sekitar 10 bilik toilet. Di camp dekatnya turunan dari pos empat tersedia dan di camp menuju jalur tanjakan cinta ada lima toilet dengan cat hijau tua.
Sejatinya, bisa saja pengelola (TNBTS) menyediakan toilet yang lebih baik lagi. Sekaligus menyediakan air yang disalurkan menggunakan pompa air dari Ranukumbolo. Memperkejakan warga sekitar untuk membersihkan dan merawat toilet tersebut secara rutin. Misal, toilet yang tersedia sama dengan yang ada di Ranupani.
Bisa juga, kualitas toilet ditingkatkan, nantinya bagi pendaki yang akan menggunakan toilet ditarik iuran Rp2000 per orang sebagai pengganti biaya perawatan dan gaji tukang bersih toilet.
Namun apapun itu, tetap kembali kepada setiap individu pendaki. Jika budaya buang sampah pada tempatnya diterapkan, niscaya toilet yang serba adanya pasti terlihat bersih dan nyaman digunakan.
Bagi pribadi, keberadaan toilet yang penuh dengan sampah (tisu) mencemari keindahan di Ranukumbolo. Sehingga terlihat kontradiksi, di satu sisi saya disuguhi pemandangan yang begitu indah, namun jika sudah kebelet (sakit perut) harus dihadapkan pada tumpukan tisu dan bau menyengat.
Kondisi ini tidak menyurutkan niat saya untuk kembali menapaki tanah Gunung Semeru. Jika perjalanan beberapa waktu lalu hanya sampai di Ranukumbolo, suatu saat pastilah sampai di puncak Mahameru. Kapan? Insha allah Oktober mendatang, semoga……!!!!