Presiden Tanpa Tani Busung Lapar!!


Setiap tanggal 24 September menjadi momentum bagi petani untuk bangkit. Seabrek kegiatan seremonial terselenggara untuk memperingati Hari Tani Nasional. Baik dilakukan pemerintah, aktivis, mahasiswa.


Tapi, keterlibatan sosok petani yang bisa dibilang hari mulia bagi 'Petani' justru tak terlihat. Petani-petani yang tersebar di seantero Indonesia beraktivitas seperti hari-hari biasanya. Berangkat pagi dan pulang sore, begitulah perjuangan petani Indonesia, meski penghasilan yang didapat jauh dari kata layak.

Masalah harga produk pertanian, pupuk, reforma agraria serta semakin menyusutnya lahan pertanian tidak kunjung terselesaikan. Padahal, Indonesia sudah berganti kepala negara tujuh kali.

Masalah lain, banyak pemuda dan anak bangsa saat ini justru lebih enjoy bekerja di gedung pencakar langit dan ber AC.

Petani yang anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai Perguruan Tinggi diminta lebih sukses dan nasibnya lebih baik. Tak heran bila anaknya enggan berkotor-kotor di ladang/sawah, enggan mengenakan caping khas petani.

Salah satu bait lagu 'Presiden tanpa tani busung lapar' yang digemakan mahasiswa hanya lirik lagu dan yel-yel semata. Habis Ordik, maka nyanyian tersebut tidak terdengar lagi sayup-sayupnya.

Tanpa rasa malu diakui, saya lahir dari keluarga petani. Sejak kecil hingga berusia 26 tahun, saya makan dan hidup dari hasil pertanian, yakni padi dan tembakau 'daun emas'.

Sudah lumrah di usia belia anak-anak di kampung saya bermain di tengah sawah, sambil membantu orang tuanya menggarap sawah.

Setiap pulang dari sawah sudah biasa pakaian yang dikenakan semula bersih, berubah kotor penuh lumpur dan rumput-rumput liar.

Namun, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang tua. Setiap hari kegiatannya menggarap sawah dan merawat padi di musim hujan dan tembakau di musim kemarau, seperti anaknya sendiri.

Berbeda dengan keluarga di perkotaan yang dengan mudahnya membeli beras dan hasil pertanian dengan lembaran uang, tanpa susah payah merawat sejak awal sampai panen, itu pun kalau tidak gagal panen.

Beruntung, petani di tanah air tidak putus asa dan mogok bercocok tanam. Bayangkan, jika petani kompak tidak bertani satu hingga dua tahun.

Bagaimana nasib Presiden, menteri, pejabat dan pengusaha yang setiap hari mengkonsumsi beras, sayur mayur dan buah-buahan?

Impor beras dan pertanian dari luar belum tentu dapat menutupi kebutuhan di dalam negeri, semisal petani-petani benar mogok karena jengah atas kebijakan pemerintah. Pupuk mahal, harga jual murah, lahan pertanian beralihfungsi, sedangkan kebutuhan setiap hari meningkat.

Petani ke depannya harus menjadi tuan di negeri sendiri. Negeri gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah) patut dikelola secara baik. Segerakan program reforma agraria, tegakkan aturan larangan alih fungsi lahan pertanian dan permudah akses pupuk, stop impor, serta, terpenting harga jual produk pertanian menguntungkan bagi petani,  bukan cukong, pengepul, pedagang dan pengusaha.

Pemerintah pusat hingga daerah harus memprioritaskan sektor pertanian, sehingga ke depan pertanian menjadi penopang devisa selain dari Sumber Daya Alam dan sektor pariwisata.

Terakhir, mahasiswa pertanian atau bukan, mari bersama-sama jadi petani untuk keberlangsungan bangsa ke depan. Jika tidak, beri inovasi dan karya yang mampu mengangkat derajat petani.

Selamat Hari Tani, bangkit petani, bangkit pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan bagi anak-anak yang sejak kecil hidup dari pertanian!!

Malang, 24 September
#Kopi Lanang, Merjosari

Related Posts

Previous
Next Post »