Ketika sepeda motor mulai dinyalakan, tampak keanehan di ban bagian belakang. Setelah saya cek, ternyata ban yang sudah saatnya diganti bocor.
Sontak saja, saya pun berharap semoga bocornya tidak terlalu parah. Butuh 15-20 menit sampai di tempat tambal ban, tepatnya di simpang tiga depan Indomaret.
Keringat berceceran menghiasi baju yang baru saya kenakan. Terbesit dalam benak untuk menenggak air putih untuk meredakan rasa lelah, letih, setelah cukup jauh mendorong sepeda.
Belum habis rasa lelah dan duduk dengan tenang, tukang tambal ban lantas meminta saya melihat kondisi ban. Ada empat titik sumber kebocoran di ban yang terlihat.
Sebelum saya mengiyakan ditambal, saya terlebih dahulu melihat uang di dalam saku. Setelah tahu hanya membawa Rp20 ribu, saya pun agak bingung dan terpaksa jujur ke pak tukang tambal ban.
Sempat ditawari diganti ban bekas, tapi saya menolak dan berdalih akan mengganti dengan yang baru.
"Pak saya hanya punya uang Rp20 ribu, ditambal saja yang paling parah.nanti saya belikan yang baru saja bannya," kata saya meyakinkan tukang tambal.
Usai menambal dua kali, bapak itu dengan lirih mengatakan "biar saya tambal semua mas," katanya. Namun, saya buru-buru meminta agar pak tukang tambal mengurungkan niatnya.
"Dipilih saja yang parah pak, pokok kuat dipakai ke Batu," jelas saya. "Gak pa pa mas, saya tambal aja," timpal bapak sambil melempar senyum.
Saya pun serba salah bercampur sungkan. Dengan takjub saya berpamitan dengan ucapan beribu-ribu terima kasih dan tidak tahu akan membalas kebaikannya.
Saat saya memacu kendaraan, sempat berfikir, seorang tukang tambal ban dengan sukarela membantu disaat saya sedang kesusahan. Padahal, jika saya di posisi bapak itu, belum tentu saya melakukan hal sama.
Saya punya hutang budi ke pak tukang tambal ban yang sudah lanjut usia (Lansia) itu. Ia juga mengajarkan arti pentingnya hidup.
Tukang tambal ber"Hati" malaikat, saya menyebutnya. Hadir dan ihlas membantu sesama mahluk, tanpa berharap timbal balik dan pamrih dari orang yang dibantunya. Tak berhitung soal untung-rugi, mengabaikan perbedaan suku, ras dan agama.
Hari itu saya mendapat pelajaran berharga. Saya diperlihatkan kehidupan yang sebenarnya dan tidak harus menunggu punya jabatan tinggi, gaji besar dan kaya untuk membantu orang. Sedari awal seharusnya saling membantu sesama.
Saya termotivasi melakukan hal sama bahkan ingin lebih dari apa yang dilakukan pak tukang tambal ban.
Tidak mudah, tapi patut dicoba dan berusaha, bagaimanapun saya sudah dibantu dan bisa mengendarai sepeda dengan nyaman berkat bapak tukang tambal ban. Jika tidak, entah saat itu saya harus meminta pertolongan ke siapa? teman dan kerabat belum tentu dengan cepat merespon dan butuh waktu.
Terima kasih tukang tambal ban ber"HATI" Malaikat