Obor yang Dulu Redup Kini Kembali Menyala!!


Sudah lama kiranya tidak bersua, canda tawa, saling olok satu sama lain. Entah berapa tahun lamanya suasana tersebut tak lagi dirasakan.

Menjadi anak rantau bukanlah hal mudah. Beruntung bila sesama anak rantau saling rangkul dan bergandeng tangan, bahkan berbagi kamar-satu sama lain.

Di perantauan, memang tidak semua yang mau menjalin hubungan layaknya keluarga. Bagi yang mengihlaskan waktu, tenaga dan materi mungkin merasa dengan bersama, hidup di kota orang sedikit banyak melepas kerinduan tanah kelahiran.

Saat jatuh sakit, ada teman yang merawat, ketika uang kiriman terlambat, secara sukarela teman se kamar dan teman sesama Sumenep mengulurkan tangan (kisah nyata rek). Kekeluargaan putra Sumenep dan Madura di tanah perantauan memang dikenal kompak.

Hari ini saya diberi kesempatan menyaksikan kembali semangat putra-putri dari Sumenep. Obor semangat yang dulunya redup kini kembali menyala, semangat muda istilah yang pantas disematkan.

Kabupaten Sumenep merupakan daerah paling ujung di Madura, tak heran bila cukup melelahkan menempuh perjalanan Sumenep-Malang. Yang dikenal sebagai daerah dengan potensi wisatanya, lebih 100 pulau berada di Sumenep. Belum lagi situs-situs dari peninggalan sejarah terdahulu atau lebih dikenal sebagai kota bekas kerajaan-yang cukup disegani dalam percaturan Indonesia dulu.

Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS) mungkin tidak asing lagi di telinga. Awal menginjakkan kaki di Kota Malang, saya telah menempati basecamp teman-teman Sumenep. Bukan beruntung, tapi kebetulan ada tetangga dari rumah yang lebih dulu menempuh pendidikan di Kota Malang, sehingga lebih dini mengenal FKMS.

Beberapa kali saya merasakan kegiatan FKMS. Menjadi saksi pasang surutnya FKMS. Saat itu FKMS Unisma cukup eksis dibanding FKMS lainnya di Kota Malang. Kebersamaan, kekompakan dan hidup seduluran pun pernah saya lalui dan selalu merindukan suasana tersebut. Hal itu tentu berimbas saat libur panjang Hari Raya, anjangsana ke rumah teman-teman FKMS berjalan beberapa tahun serta beberapa kali ngumpul bareng di Taman Bunga (kalau di daerah lain dikenal sebagai Alun-alun).

Namun seiring berjalannya waktu, FKMS Unisma bak ditelan bumi. Tidak ada kegiatan, basecamp yang dulunya tempat berdiskusi dan kumpul mahasiswa Sumenep bubar dengan sendirinya. Pengurus yang diberi amanah memajukan FKMS seakan patah arang. Kondisi ini berbeda dengan FKMS tetangga yang waktu itu mulai menggeliat semangatnya.

Kabar baik datang di pertengahan tahun 2016, Ketua FKMS, Anis Sayadi menghubungi saya. Memperkenalkan diri dan meminta waktu untuk sekadar ngopi bareng, membahas kondisi FKMS dan banyak hal pastinya.

Namun, momen tersebut tak kunjung terwujud, mengingat saya maupun Ketua FKMS memiliki kesibukan masing-masing.

Baru pada tanggal 26 November ini saya bisa bertatap muka, berada satu forum dengan teman-teman Sumenep, meski banyak wajah-wajah yang tidak saya kenal sama sekali. Maklum sudah hampir 9 tahun di Kota Malang. Angkatan saya rata-rata sudah pulang dan berada di luar Malang.

Saya takjub, kagum dengan semagat teman-teman Sumenep. Meski yang datang saat Musyawarah Besar tidak lebih 25 orang, tapi saya yakin di Unisma ada puluhan bahkan ratusan mahasiswa asal Sumenep.

Empat hingga lima jam Mubes berlangsung dengan suasana santai. Gelak tawa beberapa kali pecah, sekalipun ruangannya terasa pengap dan bikin gerah.

Setelah melalui pemilihan, Navis (yang baru saya kenal saat acara) diberi amanah untuk menahkodai FKMS selama satu tahun ke depan.

Berbagai harapan pun diungkapkan dan disematkan padanya. Namun, perlu diketahui Ketua hanyalah seorang manajer, kalau tidak didukung pengurus yang solid dan loyalis, apalah arti seorang ketua.

Sukses tidaknya FKMS sejatinya menjadi tanggung jawab semua teman-teman. Hanya saja, dalam organisasi harus ada yang dipercaya memimpin dan yang dipimpin.

Setelah Mubes berakhir, teman-teman tak lupa foto bareng. Sebagai bukti kebangkitan FKMS, bukti putra-putri Sumenep solid dan menjaga kekeluargaan sekalipun berada di tanah rantau.

Saya tidak tahu pasti kapan FKMS dicetuskan. Yang jelas penggagas lahirnya Organisasi Daerah (Orda) ini adalah orang-orang baik dan telah meninggalkan sebuah warisan amat berharga dan tidak ternilai.

FKMS lahir semula bertujuan untuk silsturrahim dan tempat berkumpul. Tapi seiring berjalannya waktu putra-putri Sumenep yang tergabung di dalam FKMS memiliki tanggung jawab terhadap daerahnya.

Kemudian digagaslah sebuah konsep, meski di perantauan bukan halangan bagi putra-putri daerah untuk ikut andil dalam memajukan daerahnya. Baik itu lewat gagasan, ide, aksi nyata. Sudah banyak alumni FKMS yang pulang ke daerah, tidak sedikit yang ambil bagian dalam memajukan daerah.

Sumenep Kota kaya, kaya akan wisata alam, religi dan buatan, belum lagi pulau-pulaunya yang indah nan eksotik. Sumber Daya Alamnya jangan diragukan. Sumenep memiliki berjuta-juta minyak yang kini mulai diburu. Di kepulauan eksploitasi minyak sudah berlangsung lama.

Penduduk yang didominasi petani menunjukkan Sumenep daerah subur. Di daerah saya sendiri, tembakau, padi, jagung, kedelai dan tanaman lainnya pun tumbuh subur dan menjadi sandaran hidup masyarakat.

Bangganya lagi, Sumenep satu-satunya daerah di Madura yang memiliki Bandar Udara (Bandara).

Namun, potensi nan kaya ini belum maksimal digarap oleh pemerintah. Dilaunchingnya visit Sumenep tahun 2018 menjadi harapan baru bagi masyarakat, terlebih di sektor pariwisata. Semakin banyak warga luar Sumenep berkunjung, akan berdampak baik terhadap ekonomi masyarakat lokal. Semoga saja bukan sebuah ide yang berjalan di tempat dan pencitraan semata.

Nah, kondisi ini perlu sentuhan tangan dan ide putra-putri daerah. Tinggal kemauan dan keseriusan teman-teman FKMS dalam memajukan daerah.

Saya bermimpi, kelak ketika sudah lelah berada di tanah perantauan, ketika sudah selesai menempuh studi, saya bertekad pulang ke kampung halaman. Saya tahu meski tidak punya bakat dan keahlian tertentu, bukan alasan untuk tidak terlibat langsung dalam memajukan daerah. Saya yakin banyak cara untuk berkontribusi terhadap daerah.

Jebolan FKIP biarlah fokus menjadi pendidik untuk mencerdaskan anak-anak Sumenep. Yang jurusan ekonomi mungkin ingin bergerak di perbankan, UMKM, sama halnya mahasiswa pertanian yang ingin mendorong para petani agar lebih sejahtera.

Bagi mahasiswa Kedokteran-dengan keahliannya membantu masyarakat Sumenep yang tidak mampu untuk berobat dan menghadirkan kota sehat. Bagi mahasiswa FAI mungkin ingin menjadi ustad, kyai serta guru agama yang baik, sebagai kepanjangan tangan dalam meneruskan ajaran Nabi dan Rasul.

Bagi sarjana hukum barangkali memiliki keinginan untuk berpihak pada masyarakat yang tertindas, karena hukum yang kini masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Mahasiswa teknik yang ingin berkontribusi lewat gagasan dan karya-karyanya. Mengingat tidak semua daerah di Sumenep jalannya beraspal, irigasinya bagus, dan sebagainya. Dan mahasiswa-mahasiswa sarjana lainnya pasti memiliki mimpi sama, mimpi memajukam tanah di mana kita dilahirkan.

Obor semangat yang menyala ini jangan sampai redup kembali. Gara-gara satu sama lain berbeda pendapat, sakit hati karena ucapan pemimpin atau pengurusnya, salah paham dan sebagainya.

Ingat, organisasi daerah hadir untuk merekatkan tali persaudaraan, bukan menciptakan benih-benih kebencian dan permusuhan.

Saya meyakini pengurus FKMS Jokotole Unisma pasti kembali berlayar dengan nahkoda dan awak baru. Sekalipun ombak besar setia mengiringi dalam perjalanan.

Bangkit dan semangat Putra-Putri Sumenep

Malang 26 November 2016

Catatan kecil dari anak petani*

"Rumah Kami tak Bocor Lagi", Dulu Mau Tidur Saja Susah



Tidak terlalu sulit mencari kediaman perempuan kelahiran 59 tahun lalu ini. Dari jalan raya kira-kira hanya 150 meter. Rumahnya berada pas di pojok gang, dihimpit dua rumah, yakni depan dan samping, tepatnya di RT05/RW03, Dusun Bedali, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Saya memberanikan diri mengucapkan sembari mengetuk pintu rumah berukuran 4,5 meter x 8 meter tersebut. Tidak lama kemudian sosok perempuan berambut pendek beserta seorang anak yang berusia 9 tahun membuka pintu dan menyapa dengan ramah.

"Benar dengan rumahnya pak Giman," tanya saya, disambut jawaban "Benar mas, tapi bapaknya masih belum pulang," ucapnya sambil mempersilahkan masuk.

Saya tidak sendirian alias ditemani teman yang sewaktu-waktu bisa diminta tolong apabila dalam percakapan terucap bahasa jawa "halus".

Sebut saja Sri Supartini. Perempuan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu lantas memulai obrolan seputar rumah barunya.

Iya, rumahnya yang sekarang dinilai lebih baik dan layak ditempati. Dulunya, atap rumahnya terdiri dari genting, temboknya masih bambu yang dirakit dengan satu kamar tidur, dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Bagian lantai masih berupa tanah. Tembok bagian kanan jadi satu dengan rumah tetangganya.

Rumah milik suaminya ini dibangun total setelah masuk salah satu penerima program bedah rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tahun 2016, Kabupaten Malang masuk dari 10 kota/kabupaten penerima bantuan di Jawa Timur. Tersebar di empat desa di Kecamatan Lawang, masing-masing desa dapat jatah 100 unit.

Data di Dinas Perumahan, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ada 13.671 rumah. dari 2008-2016 baru selesai direhab 4.346 unit.

Sri, sapaan akrabnya mendapat bantuan bahan bangunan senilai Rp16,5 juta. Terbilang kecil untuk membangun rumah miliknya, ia pun bersama suaminya harus merogoh saku untuk menutupi kekurangannya.

"Bantuannya berupa bahan bangunan, biaya tukang, dan lain-lain pakai uang pribadi," aku ibu tiga anak ini.

Sehari-hari Sri bekerja di salah satu konveksi di Kota Malang. Setiap bulan ia hanya menerima gaji Rp1,1 juta dengan durasi kerja siang-malam, minus Sabtu malam dan libur di hari Minggu. Bahkan, ia jarang berada di rumah karena sering menginap di tempat kerjanya.

Sedangkan suaminya, Giman ikut kerja saudaranya sebagai kontraktor. Setiap hari Giman menerima gaji Rp75 ribu. Apabila pekerjaannya selesai, tak jarang suaminya nganggur sampai satu-dua bulan lamanya.

Sekalipun sama-sama bekerja, Sri dan Giman mengaku tidak mampu memperbaiki rumahnya. Atapnya yang mulai reot dan bocor setiap hujan turun pun sudah menjadi teman akrab sehari-hari.

Saat hujan, Sri bersama suami dan anaknya kadang harus pindah tempat untuk sekadar tidur di malam hari.

"Bocornya di kamar, ya tidurnya di depan, pas bocor juga tidurnya di ruang belakang yang jadi satu sama dapur. Beruntung ada bantuan dari pemerintah," ungkap dia sembari memperkenalkan anak yang bersamanya adalah cucu pertamanya.

Sri dan Giman memiliki tiga anak, semuanya laki-laki. Dua di antaranya sedari kecil tinggal bersama kakeknya (ayah Sri) di Blora. Kini keduanya sudah sama-sama berkeluarga, punya anak dan memiliki pekerjaan cukup bagus.

Sedangkan anaknya yang terakhir tinggal bersamanya. Kini, anaknya juga sudah bekerja, tapi sering tidur di rumah neneknya.

"Setidaknya sudah bisa mandiri dan tidak minta uang lagi ke kami," jelasnya.

Sri dan Giman sempat berjauhan. Sri harus tinggal di Blora setelah ibunya meninggal dan dipasrahi mengurus ayah tercintanya. Sedangkan Giman juga harus mengurus orang tuanya di Malang karena sudah lanjut usia.

"Mulai 1996 sampai 2000 saya dengan suami berjauhan, tapi alhamdulillah tetap langgeng sampai sekarang," ceritanya.

Ia pun bersyukur rumahnya yang belum 100 persen selesai itu sudah nyaman ditempati. Meski begitu ia berharap pemerintah lebih jeli dalam menyalurkan programnya bagi masyarakat.

"Kami memang orang tidak mampu, tapi baru kali ini menerima bantuan. Raskin, dll dari dulu kami tidak dapat, saya harap pemerintah memperhatikan kami," harapnya di akhir percakapan sore itu.

Awalnya, materi ini dimaksudkan untuk diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik Kontruksi Indonesia yang disekenggarakan Kementerian PUPR. Data yang saya sajikan hanyalah sebagian tidak lengkap. Saat di lapangan saya wawancara tiga warga penerima bantuan, Kepala Desa setempat, Kepala Dinas Perumahan.

Saya menonjolkan keluarga ibu Sri Supartini karena kisah hidupnya yang menginspirasi. Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga kecilnya tetap harmonis, suami istri saling membahu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya setiap hari.

Penjual Nasi Pecel dan Aksi 4 November


Aksi 4 November, hari ini, sudah menjadi buah bibir. Aksi yang disebut-sebut bagian dari protes dan menuntut Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama diproses secara hukum, itu sudah ramai sejak beberapa minggu lalu.

Bahkan, Presiden RI dan Wakilnya bolak balik nampang di layar televisi, meladeni berbagai pertanyaan dari awak media. Orang nomor 1 di Indonesia itu juga mendatangi kediaman rivalnya saat Pilpres lalu, Prabowo Subianto. Keduanya yang asyik berkuda menjadi headline hamper media, tak terkecuali viral di media social.

Tidak lain adalah membicarakan seputar kondisi dan stabilitas keamanan nasional, mengingat gejolak yang terjadi semakin membesar.

Tentu, aksi hari ini sampai ditelinga masyarakat, sekalipun mereka jarang bahkan tidak pernah melihat televisi maupun media lain. Ketok tular ternyata penyebab masyarakat mengerti adanya aksi 4 November.

“Bener opo ora besok ada demo. Demo opo maneh, lebih baik di rumah saja,” ungkap ibu penjual nasi pecel di perempatan Lahor, Kota Batu, Kamis (3/11).

Mungkin ibu tersebut tahu isu soal penistaan Alquran oleh Ahok, sapaan Gubernur DKI Jakarta itu. Tapi, bagi sebagian masyarakat tidak menutup kemungkinan aksi jalanan berdampak banyak hal.

Di antaranya kemacetan dan kerusakan (apabila massa pendemo brutal dan anarkis).

“Demonya di Jakarta, kalau di Batu ngapain ikutan, gak ada untungnya,” ungkap ibu penjual nasi pecel lebih lanjut.

Saya pun berfikir, selama ini aksi yang pernah saya ikuti dan gagas, serta aksi-aksi mahasiswa, dan NGO apa benar menyuarakan aspirasi rakyat. Toh, masih banyak rakyat yang tidak merasa dibela bahkan berfikir sebaliknya. Mereka skeptis dan tak mau tahu sekalipun tujuannya mulia.

Singkatnya, aksi hari ini (4 November 2016) merupakan bagian dari sejarah. Yang dulunya aksi identik dengan aksi mahasiswa, kaum buruh, aktivis HAM, Lingkungan dan lainnya, kini mulai melebar dikalangan santri, ulama dan habaib.

Aksi apapun asal damai saya kira sah-sah saja. Apalagi aksi yang dilakukan tak mengesampingkan rasa toleransi, prulalisme, keberagaman, persatuan dan kesatuan serta menjunjung tinggi NKRI dan terlepas dari kepentingan politis semata.

Mahasiswa aksi mengatasnamakan dan mewakili rakyat, kaum buruh aksi memperjuangkan nasibnya, upah layak. Aktivis HAM turun jalan menuntut penyelesaian kasus HAM. Sama halnya aktivis lingkungan menuntut ketegasan pemerintah akan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan, perburuan satwa liar dan sebagainya.

Dilihat bersama, sore nanti, besok, satu minggu sampai entah kapan pun apakah berdampak dan terjawab tuntutannya. Hanya massa aksi dan tuhan yang tahu, pinjam istilah yang lagi trend saat ini.

Malang, 4 November 2016
Disudut kamar