"Rumah Kami tak Bocor Lagi", Dulu Mau Tidur Saja Susah



Tidak terlalu sulit mencari kediaman perempuan kelahiran 59 tahun lalu ini. Dari jalan raya kira-kira hanya 150 meter. Rumahnya berada pas di pojok gang, dihimpit dua rumah, yakni depan dan samping, tepatnya di RT05/RW03, Dusun Bedali, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Saya memberanikan diri mengucapkan sembari mengetuk pintu rumah berukuran 4,5 meter x 8 meter tersebut. Tidak lama kemudian sosok perempuan berambut pendek beserta seorang anak yang berusia 9 tahun membuka pintu dan menyapa dengan ramah.

"Benar dengan rumahnya pak Giman," tanya saya, disambut jawaban "Benar mas, tapi bapaknya masih belum pulang," ucapnya sambil mempersilahkan masuk.

Saya tidak sendirian alias ditemani teman yang sewaktu-waktu bisa diminta tolong apabila dalam percakapan terucap bahasa jawa "halus".

Sebut saja Sri Supartini. Perempuan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu lantas memulai obrolan seputar rumah barunya.

Iya, rumahnya yang sekarang dinilai lebih baik dan layak ditempati. Dulunya, atap rumahnya terdiri dari genting, temboknya masih bambu yang dirakit dengan satu kamar tidur, dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Bagian lantai masih berupa tanah. Tembok bagian kanan jadi satu dengan rumah tetangganya.

Rumah milik suaminya ini dibangun total setelah masuk salah satu penerima program bedah rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tahun 2016, Kabupaten Malang masuk dari 10 kota/kabupaten penerima bantuan di Jawa Timur. Tersebar di empat desa di Kecamatan Lawang, masing-masing desa dapat jatah 100 unit.

Data di Dinas Perumahan, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ada 13.671 rumah. dari 2008-2016 baru selesai direhab 4.346 unit.

Sri, sapaan akrabnya mendapat bantuan bahan bangunan senilai Rp16,5 juta. Terbilang kecil untuk membangun rumah miliknya, ia pun bersama suaminya harus merogoh saku untuk menutupi kekurangannya.

"Bantuannya berupa bahan bangunan, biaya tukang, dan lain-lain pakai uang pribadi," aku ibu tiga anak ini.

Sehari-hari Sri bekerja di salah satu konveksi di Kota Malang. Setiap bulan ia hanya menerima gaji Rp1,1 juta dengan durasi kerja siang-malam, minus Sabtu malam dan libur di hari Minggu. Bahkan, ia jarang berada di rumah karena sering menginap di tempat kerjanya.

Sedangkan suaminya, Giman ikut kerja saudaranya sebagai kontraktor. Setiap hari Giman menerima gaji Rp75 ribu. Apabila pekerjaannya selesai, tak jarang suaminya nganggur sampai satu-dua bulan lamanya.

Sekalipun sama-sama bekerja, Sri dan Giman mengaku tidak mampu memperbaiki rumahnya. Atapnya yang mulai reot dan bocor setiap hujan turun pun sudah menjadi teman akrab sehari-hari.

Saat hujan, Sri bersama suami dan anaknya kadang harus pindah tempat untuk sekadar tidur di malam hari.

"Bocornya di kamar, ya tidurnya di depan, pas bocor juga tidurnya di ruang belakang yang jadi satu sama dapur. Beruntung ada bantuan dari pemerintah," ungkap dia sembari memperkenalkan anak yang bersamanya adalah cucu pertamanya.

Sri dan Giman memiliki tiga anak, semuanya laki-laki. Dua di antaranya sedari kecil tinggal bersama kakeknya (ayah Sri) di Blora. Kini keduanya sudah sama-sama berkeluarga, punya anak dan memiliki pekerjaan cukup bagus.

Sedangkan anaknya yang terakhir tinggal bersamanya. Kini, anaknya juga sudah bekerja, tapi sering tidur di rumah neneknya.

"Setidaknya sudah bisa mandiri dan tidak minta uang lagi ke kami," jelasnya.

Sri dan Giman sempat berjauhan. Sri harus tinggal di Blora setelah ibunya meninggal dan dipasrahi mengurus ayah tercintanya. Sedangkan Giman juga harus mengurus orang tuanya di Malang karena sudah lanjut usia.

"Mulai 1996 sampai 2000 saya dengan suami berjauhan, tapi alhamdulillah tetap langgeng sampai sekarang," ceritanya.

Ia pun bersyukur rumahnya yang belum 100 persen selesai itu sudah nyaman ditempati. Meski begitu ia berharap pemerintah lebih jeli dalam menyalurkan programnya bagi masyarakat.

"Kami memang orang tidak mampu, tapi baru kali ini menerima bantuan. Raskin, dll dari dulu kami tidak dapat, saya harap pemerintah memperhatikan kami," harapnya di akhir percakapan sore itu.

Awalnya, materi ini dimaksudkan untuk diikutsertakan dalam Lomba Jurnalistik Kontruksi Indonesia yang disekenggarakan Kementerian PUPR. Data yang saya sajikan hanyalah sebagian tidak lengkap. Saat di lapangan saya wawancara tiga warga penerima bantuan, Kepala Desa setempat, Kepala Dinas Perumahan.

Saya menonjolkan keluarga ibu Sri Supartini karena kisah hidupnya yang menginspirasi. Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga kecilnya tetap harmonis, suami istri saling membahu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya setiap hari.

Related Posts

Previous
Next Post »