Mengenang Masa Jadi Aktivis Katrok



Lahir dari keluarga sederhana tidak menutup ruang gerak mengekpresikan kemauan diri. Bapak-ibu hanyalah seorang petani dan tahunya hanya bertani, ibadah dan menjalin persaudaraan di kampung.

Tak pernah sejak kecil diajarkan jadi pemberontak, sok kritis dan berani bersuara saat ada kebatilan dan ketidakadilan terjadi. Hanya, diminta rajin belajar, mengaji dan sopan terhadap orang lain.

Masa kecil diisi dengan kenakalan mungkin hal wajar, karena di masa tua akan capek dengan sendirinya 'istilah orang dulu demikian'.

Semasa mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas (dihabiskan di pondok), tidak membuat hati tertarik berorganisasi. Saat itu hanya aktif di organisasi tingkat kecamatan, itupun terpaksa ikut karena diwajibkan.

Menginjakkan kaki di Kota Malang, tepatnya 8 tahun silam atau 2008 jelang akhir tahun. Pertama berada di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan, daerah dengan cuaca cukup dingin dan pastinya dikenal sebagai pusat wisata.

Suatu kebanggaan bisa diizinkan menempuh kuliah di daerah orang, bekennya "Merantau". Maklum, meski anak satu-satunya bukan lantas anak 'Mama'. Sedari kecil sudah merasakan susahnya hidup dan berjuang untuk sesuap nasi.

Tekad pun bulat, membahagiakan kedua orang tua. Lulus kuliah-kerja-nikah-pulang kampung. Demikian harapan kali pertama sampai di Kota Malang. Singkat kata, dimulailah kuliah yang bisa disebut membosankan.

Bagaimana tidak, dosen-dosen yang baik memberikan mata kuliah yang belum pernah didapat sebelumnya. Buntu-pusing-tak mengerti apapun. Entah saya yang lemot dalam menerima pelajaran, atau cara penyajian pelajaran yang super tertinggal. Hal itu terus dihadapi mulai semester 1 hingga semester 7.

Paham dengan kemampuan dan keterampilan pribadi yang tidak sempurna, saya pun memutuskan berorganisasi-menjadi aktivis kampus. Begitulah nama kerennya. Aktivis dulu bisa dibilang disegani dan benar-benar lantang bersuara. Mendapat tempat dan memiliki derajat lebih baik ketimbang mahasiswa lainnya.

Aksi jalanan layaknya mata kuliah 8 SKS. Mana berani melewatkan aksi meski sudah bolak balik diwarning sama dosen. Maklum saja, sudah bolos beberapa kali. Namun, saya mensiasati dengan mengetahui batasan maksimal absensi, sehingga selalu lolos dari jebakan batman.

Absensi tolok ukur penilaian dosen, biar nilainya tidak jelek-jelek amat, saya buat setiap mata kuliah ada 2 sampai 3 tanda (A). Itu belum termasuk izin (I) dan sakit (S), meski semuanya fiktif.

Beralasan izin karena ikut pelatihan, alasan sakit karena turun jalan. Itu dilakukan karena jatah bolos sudah habis. (Jangan dicontoh)

Selama berorganisasi, saya menyadari begitu banyak pengetahuan, pengalaman, teman-sahabat baru, aksi koplak, bahkan bertingkah laku di luar batas pun pernah dilalui.

Poin tambahannya, sejak menjadi 'sok aktivis' saya pun mulai dikenalkan dengan namanya pacaran (pastinya sama perempuan). Jangan heran, sekalipun tak ganteng-ganteng amat, tapi menjadi mahasiswa plus (istilah bagi mahasiswa berorganisasi yg pernah didengar kali pertama) memiliki nilai lebih untuk memikat perempuan.

Iya, perempuan yang saya taksir sejak Ospek hingga semester 5 akhirnya menerima dengan ihlas "semoga tidak salah". Meski sempat ditolak beberapa kali.

Namun, sosok pacar tidak menggoyahkan komitmen untuk terus berorganisasi. Tapi, tidak dipungkiri, hadirnya perempuan (saat itu) cukup mengganggu. Misal ya, mau aksi, diskusi dan kegiatan lainnya saja harus laporan, belum lagi dicuekin jika balas sms nya telat (dulu belum ada BBM dan WA) hanya bisa SMS (itupun cari kartu yang per SMS murah).

Menjadi aktivis sebenarnya karena panggilan hati. Untuk menjadi aktivis haruslah berorganisasi, karena dalam berorganisasi bisa dengan mudah menyuarakan ketidakadilan, turun jalan disertai dialog ilmiah tiada henti.

Aktivis yang menjabat sebagai Ketua BEM jika di intra, dan Ketua organisasi tingkat fakultas dan universitas jika di ekstra, saya kira hanyalah bonus. Bukan tujuan awal masuk di organisasi-aktivis.

Dulu, orang-orang yang mengisi jabatan-jabatan tersebut adalah orang-orang super duper (memiliki kualitas). Wajar, bila yang tak pintar dan gak aktivis banget ciut lebih dulu nyalinya.

Bandingkan dengan sekarang, tak sedikit dan bisa dibilang hampir semua mahasiswa yang berorganisasi-aktivis memiliki niat berkuasa (berebut kekuasaan). Tanpa mereka membekali diri dengan perbaikan kualitas dan kemampuan.

Tak terdengar lagi (merosot) suara-suara mahasiswa di jalanan, di kampus yang dulunya hampir dilakukan tak terhitung berapa kali.

Aktivis, jika boleh dibilang, terdampak syndrom pacaran-kebutuhan biologis. Meletakkan kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentingan khalayak. (Fakta yang saya lihat sejauh ini), jika salah silahkan diralat.

Uniknya, seiring bergesernya paradigma dan cara pandang aktivis berpengaruh pada kualitas seorang aktivis. Jarang terlihat diskusi-diskusi kecil sekelompok mahasiswa di sekretariat, kampus, tempat ngopi. Kalau pun ada itu semata-mata menggugurkan kewajiban program kerja.

Prihatin memang, tapi ini era mereka. Era mahasiswa modern yang serba digital. Tak perlu repot-repot ngeprint undangan diskusi, cukup BBM dan WA broadcast.

Menjadikan warung kopi tempat main poker dan catur serta menyibukkan diri dengan gawai (istilah lain dari gadget). Sibuk refleksi hari Sumpah Pemuda dan hari-hari lainnya.

Tidak pernah muncul isu strategis yang menjadi bahan fokus selama bersuara di jalanan. Aksi baru digeber manakala BBM naik, ada pejabat koruptor dan terlibat suap.

Saya lantas berfikir, kondisi sekarang tidak terlepas dari dosa-dosa aktivis pendahulunya. Meninggalkan sejarah dan buaian yang terlalu berlebihan. Larut dalam sejarah aktivis dulu sehingga lupa arah dan menjadikan sejarah tersebut panutan. Bukan mengekspresikan sesuatu menyesuaikan zamannya.

Pesimis, tidak saya kira. Masih ada segelintir aktivis-pegiat organisasi yang benar-benar mulia, tapi wujud mereka kalah dengan hiruk pikuk mahasiswa yang sok aktivis katrok.

Aktivis mahasiswa tertinggal dari aktivis buruh, NGO dan aktivis lainnya. Gerakan mereka, saya kira, lebih massif dan jelas yang disuarakan.

Malang, 31 Oktober

Kopi Lanang

Related Posts

Previous
Next Post »