Pak Tukang Tambal Ban ber"HATI" Malaikat

Pak Tukang Tambal Ban ber"HATI" Malaikat

Pagi itu, saya bergegas berangkat kerja. Menyisir rambut, mengenakan pakaian setelan warna putih garis-garis dan celana hitam. Tdak lupa menyemprotkan minyak wangi beberapa kali.

Ketika sepeda motor mulai dinyalakan, tampak keanehan di ban bagian belakang. Setelah saya cek, ternyata ban yang sudah saatnya diganti bocor.

Sontak saja, saya pun berharap semoga bocornya tidak terlalu parah. Butuh 15-20 menit sampai di tempat tambal ban, tepatnya di simpang tiga depan Indomaret.

Keringat berceceran menghiasi baju yang baru saya kenakan. Terbesit dalam benak untuk menenggak air putih untuk meredakan rasa lelah, letih, setelah cukup jauh mendorong sepeda.

Belum habis rasa lelah dan duduk dengan tenang, tukang tambal ban lantas meminta saya melihat kondisi ban. Ada empat titik sumber kebocoran di ban yang terlihat.

Sebelum saya mengiyakan ditambal, saya terlebih dahulu melihat uang di dalam saku. Setelah tahu hanya membawa Rp20 ribu, saya pun agak bingung dan terpaksa jujur ke pak tukang tambal ban.

Sempat ditawari diganti ban bekas, tapi saya menolak dan berdalih akan mengganti dengan yang baru.

"Pak saya hanya punya uang Rp20 ribu, ditambal saja yang paling parah.nanti saya belikan yang baru saja bannya," kata saya meyakinkan tukang tambal.

Usai menambal dua kali, bapak itu dengan lirih mengatakan "biar saya tambal semua mas," katanya. Namun, saya buru-buru meminta agar pak tukang tambal mengurungkan niatnya.

"Dipilih saja yang parah pak, pokok kuat dipakai ke Batu," jelas saya. "Gak pa pa mas, saya tambal aja," timpal bapak sambil melempar senyum.

Saya pun serba salah bercampur sungkan. Dengan takjub saya berpamitan dengan ucapan beribu-ribu terima kasih dan tidak tahu akan membalas kebaikannya.

Saat saya memacu kendaraan, sempat berfikir, seorang tukang tambal ban dengan sukarela membantu disaat saya sedang kesusahan. Padahal, jika saya di posisi bapak itu, belum tentu saya melakukan hal sama.

Saya punya hutang budi ke pak tukang tambal ban yang sudah lanjut usia (Lansia) itu. Ia juga mengajarkan arti pentingnya hidup.

Tukang tambal ber"Hati" malaikat, saya menyebutnya. Hadir dan ihlas membantu sesama mahluk, tanpa berharap timbal balik dan pamrih dari orang yang dibantunya. Tak berhitung soal untung-rugi, mengabaikan perbedaan suku, ras dan agama.

Hari itu saya mendapat pelajaran berharga. Saya diperlihatkan kehidupan yang sebenarnya dan tidak harus menunggu punya jabatan tinggi, gaji besar dan kaya untuk membantu orang. Sedari awal seharusnya saling membantu sesama.

Saya termotivasi melakukan hal sama bahkan ingin lebih dari apa yang dilakukan pak tukang tambal ban.

Tidak mudah, tapi patut dicoba dan berusaha, bagaimanapun saya sudah dibantu dan bisa mengendarai sepeda dengan nyaman berkat bapak tukang tambal ban. Jika tidak, entah saat itu saya harus meminta pertolongan ke siapa? teman dan kerabat belum tentu dengan cepat merespon dan butuh waktu.

Terima kasih tukang tambal ban ber"HATI" Malaikat

Presiden Tanpa Tani Busung Lapar!!


Setiap tanggal 24 September menjadi momentum bagi petani untuk bangkit. Seabrek kegiatan seremonial terselenggara untuk memperingati Hari Tani Nasional. Baik dilakukan pemerintah, aktivis, mahasiswa.


Tapi, keterlibatan sosok petani yang bisa dibilang hari mulia bagi 'Petani' justru tak terlihat. Petani-petani yang tersebar di seantero Indonesia beraktivitas seperti hari-hari biasanya. Berangkat pagi dan pulang sore, begitulah perjuangan petani Indonesia, meski penghasilan yang didapat jauh dari kata layak.

Masalah harga produk pertanian, pupuk, reforma agraria serta semakin menyusutnya lahan pertanian tidak kunjung terselesaikan. Padahal, Indonesia sudah berganti kepala negara tujuh kali.

Masalah lain, banyak pemuda dan anak bangsa saat ini justru lebih enjoy bekerja di gedung pencakar langit dan ber AC.

Petani yang anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai Perguruan Tinggi diminta lebih sukses dan nasibnya lebih baik. Tak heran bila anaknya enggan berkotor-kotor di ladang/sawah, enggan mengenakan caping khas petani.

Salah satu bait lagu 'Presiden tanpa tani busung lapar' yang digemakan mahasiswa hanya lirik lagu dan yel-yel semata. Habis Ordik, maka nyanyian tersebut tidak terdengar lagi sayup-sayupnya.

Tanpa rasa malu diakui, saya lahir dari keluarga petani. Sejak kecil hingga berusia 26 tahun, saya makan dan hidup dari hasil pertanian, yakni padi dan tembakau 'daun emas'.

Sudah lumrah di usia belia anak-anak di kampung saya bermain di tengah sawah, sambil membantu orang tuanya menggarap sawah.

Setiap pulang dari sawah sudah biasa pakaian yang dikenakan semula bersih, berubah kotor penuh lumpur dan rumput-rumput liar.

Namun, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang tua. Setiap hari kegiatannya menggarap sawah dan merawat padi di musim hujan dan tembakau di musim kemarau, seperti anaknya sendiri.

Berbeda dengan keluarga di perkotaan yang dengan mudahnya membeli beras dan hasil pertanian dengan lembaran uang, tanpa susah payah merawat sejak awal sampai panen, itu pun kalau tidak gagal panen.

Beruntung, petani di tanah air tidak putus asa dan mogok bercocok tanam. Bayangkan, jika petani kompak tidak bertani satu hingga dua tahun.

Bagaimana nasib Presiden, menteri, pejabat dan pengusaha yang setiap hari mengkonsumsi beras, sayur mayur dan buah-buahan?

Impor beras dan pertanian dari luar belum tentu dapat menutupi kebutuhan di dalam negeri, semisal petani-petani benar mogok karena jengah atas kebijakan pemerintah. Pupuk mahal, harga jual murah, lahan pertanian beralihfungsi, sedangkan kebutuhan setiap hari meningkat.

Petani ke depannya harus menjadi tuan di negeri sendiri. Negeri gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah) patut dikelola secara baik. Segerakan program reforma agraria, tegakkan aturan larangan alih fungsi lahan pertanian dan permudah akses pupuk, stop impor, serta, terpenting harga jual produk pertanian menguntungkan bagi petani,  bukan cukong, pengepul, pedagang dan pengusaha.

Pemerintah pusat hingga daerah harus memprioritaskan sektor pertanian, sehingga ke depan pertanian menjadi penopang devisa selain dari Sumber Daya Alam dan sektor pariwisata.

Terakhir, mahasiswa pertanian atau bukan, mari bersama-sama jadi petani untuk keberlangsungan bangsa ke depan. Jika tidak, beri inovasi dan karya yang mampu mengangkat derajat petani.

Selamat Hari Tani, bangkit petani, bangkit pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan bagi anak-anak yang sejak kecil hidup dari pertanian!!

Malang, 24 September
#Kopi Lanang, Merjosari
Gara-gara Alarm, Mukidi Gagal Punya Kekasih!!

Gara-gara Alarm, Mukidi Gagal Punya Kekasih!!


Ada istilah "mencintai tak harus memiliki. Asal dia bahagia, juga bahagia bagi yang mencintai"

Prinsip itulah yang terus dipegang Mukidi. Pemuda jomblo ini tidak goyah sekalipun jadi bahan bully teman-temannya.



Dulunya ia pernah beberapa kali menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan. Namun, selalu berakhir di tengah jalan. Putus karena selalu bertengkar, pisah karena tak se-visi, bahkan ditinggal nikah sama perempuan yang dicintainya dan memilh laki-laki lain sebagai kekasih hidupnya.

Selama itu pula, Mukidi yang juga mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi, tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan yang baru putus atau masih punya pacar.

Sejak awal, ia berjanji pada dirinya, berkomitmen tak kan pernah mengganggu perempuan yang sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Secantik apapun perempuan itu, jika sudah punya kekasih, saat itu juga Mukidi mengurungkan niatnya untuk sebatas menjalin komunikasi.

Soal perjuangan meluluhkan hati perempuan, tidak perlu diragukan lagi. Bermodal wajah pas-pasan, dari kelurga sederhana dan hanya punya sepeda motor butut, Mukidi tetap percaya diri.

Bisa dibilang, Mukidi laki-laki yang pemilih soal perempuan. Pemilih dalam hal kebaikan, semisal perempuan yang akan didekatinya haruslah baik, setia, enak diajak ngobrol, berbakti kepada orang tua dan rajin ibadah.

Soal dia orang miskin dan kaya, Mukidi tak mempermasalahkan. Bahkan, dari beberapa mantannya, ada yang anaknya orang kaya, tapi dia tetap PD saja.

Sekian lama Mukidi menjomblo. Diam-diam dia menaruh rasa terhadap seorang perempuan. Cantik, sederhana, manis, tidak membosankan dan sifat ke ibu-ibuannya kental melekat padanya. Pokoknya Mukidi menilai perempuan itu lebih baik dari mantan sebelumnya.

Berawal dari ia bersama dengan perempuan tersebut, Mukidi pun jatuh cinta dalam kebersamaan pertama. Namun, benih-benih rasa di dalam hatinya pupus seketika tahu perempuan itu sudah punya kekasih.

Saat itu juga Mukidi seperti dihantam ombak, disambar petir, dan layaknya disengat ubur-ubur. Pikirannya kalang kabut dan merasa harapan mau memulai hubungan dengan perempuan kembali kandas.

Selang beberapa bulan, Mukidi dan perempuan itu tak pernah ada komunikasi. Mukidi pun masih kepikiran dan penasaran, disisi lain ia tak mau melanggar komitmennya, yakni tak mau mengganggu kekasih orang lain.

Seiring berjalannya waktu, tuhan mempertemukan Mukidi dengan perempuan yang disukainya. Sekadar cangkruk bareng, Mukidi pura-pura jaim dan jaga jarak.

Hal itu dilakukannya karena rasa yang sempat tumbuh takut kembali bersinar. Rasa itu pun tak terbendung, Mukidi tetaplah Mukidi, yang juga punya rasa dan keinginan menjalin hubungan serius.

Pertemuan Mukidi dan perempuan itu tak hanya sekali dua kali terjadi. Bahkan, beberapa kali, komunikasinya lancar dan seakan ada magnet bagi Mukidi untuk lebih dekat dengannya.

Mukidi hanyalah laki-laki yang punya rasa, ia pun memilih curhat pada temannya, meminta saran dan mengungkapkan puluhan rahasia dalam dirinya.

Satu teman menyarankan agar Mukidi terus menjalaninya, tanpa harus mengungkapkan perasaannya. Satu teman lainnya menyarankan segera ungkapkan perasaannya, supaya ada kepastian, ada peluang apa tidak.

Namun, saran dari teman terakhir ia urungkan, karena dinilai langkah konyol. Bagaimanapun ia tidak mau nantinya setelah mengungkapkan perasaan kepada perempuan tersebut, sang pujaan hatinya berubah padanya, baik sikap dan komunikasi yang dibangun selama ini.

Selain itu, saran itu bertentangan dengan komitmen Mukidi sejak awal, tidak mau mengganggu kekasih orang lain.

Mukidi tetaplah Mukidi, pikirannya hanya ada perempuan pujaan. Baginya perempuan sekarang mampu memotivasi dan menjadi penyemangat, sekalipun hanya memandang fotonya. Ia pun memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.

Dia langsung tersenyum sembari kaget saat tahu jawaban dari pujaan hatinya. Perempuan berkerudung itu menyebut Mukidi baik dan perhatian. Namun, belum selesai perempuan itu berbicara, terdengar keras suara alarm yang menandakan pukul 06.00 WIB. Terlihat sinar matahari dari bilik jendela sembari hiruk pikuk warga sekitar yang siap berangkat ke ladang terdengar keras.

"Oalah hanya mimpi to aku" ungkap Mukidi sembari bergegas ke kamar mandi.

To be continue###
IBU-Anak Rantau dan Hari Raya Kurban

IBU-Anak Rantau dan Hari Raya Kurban


Siapa yang tidak mau berkumpul bersama keluarga-kerabat-saudara saat Hari Raya Idul Adha. Pasti semua memiliki keinginan bersama, ada yang kesampaian, ada yang bertahun-tahun tidak pernah merayakan hari raya bersama karena berada di kota orang.



Bagi saya, pulang dan ber-Hari Raya sudah barang tentu kebahagiaan tiada duanya. Namun, karena tanggung jawab yang tidak dapat ditinggal, saya pun rela merayakan Hari Raya di kota orang. Sekadar membakar daging kurban sesama anak rantau, kemudian bubar dengan kepentingan masing-masing.

Sebagai anak tunggal, sudah pasti kehadiran saya di rumah sederhana, tepatnya di Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, sangat diharapkan. Tak terbayangkan senyum kedua orang tua serta kesempatan sungkem, memohon ampunan dan bentuk pengabdian anak kepada orang tua.

Kerinduan itu sedikit terobati saat suara telepon dengan nomor yang tidak asing lagi tertera di layar telepon. Bergegas saya angkat dan mendahului ucapan 'Assalamualaikum' kemudian dijawab 'Waalaikumsalam'.

Suara khas beliau serasa menyiram kerinduan dan kesedihan karena tidak dapat merayakan hari kemenangan bersama.

Ibu lantas menanyakan sudah sholat, makan, mandi. Beliau pun menceritakan suasana malam takbir dan Hari Raya di rumah.

Aneka kue dan masakan kesukaan saya tak luput dari obrolan singkat melalui saluran telepon.

"Ibu masak Prol dan agar-agar. Apa dikirim ke Malang," ucap ibu sembari menawarkan kepada saya.

Saya tahu dan sangat paham maksud beliau berbicara demikian, jika saja saya pulang kue dan masakan ibu pasti habis. Maklum, dua masakan ini tidak dapat tergantikan dengan masakan eropa, sebut saja spageti, Pizza, dan lainnya.

Bukan soal rasanya, tapi siapa yang membuat dan menyajikannya.

Mungkin, bagi ibu dan bapak, memberikan tolerir bagi saya untuk tidak pulang saat Hari Raya Idul Adha. Namun, Hari Raya Idul Fitri, saya harus pulang dan hukumnya wajib. Istilahnya, Idul Fitri lebih sakral dan berkesan perayaannya dibanding Idul Adha.

Saya pun berfikir, tak lama lagi dengan seizin tuhan saya akan pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga.

Biarlah saya sekarang belajar kerasnya hidup, seperti kedua orang tua saya menjalani hidup sebagai petani, sebagai buruh yang tak menentu penghasilannya.

Saya kangen suasana di rumah, keriuhan ponakan dan saudara saat berkumpul sembari makan bersama. Mendapatkan berbagai macam pertanyaan, kapan wisuda? Sudah ada calon belum? Kapan nikah? Bla bla bla.

Kangen masakan ibu, sambel goreng dipadu dengan lauk tempe tahu, serta sayur kangkung dan sop.

Kangen dengan bapak yang kerap berebut remot TV saat berada di depan TV. Si bapak sukanya nonton berita, si anaknya suka nonton film FTV dan sinetron super "Melo".

Kangen cubitan dan suara bernada marah ibu, saat saya tak kunjung bergegas sholat dan bangun di pagi hari.
Arek Madura-Aremania Bersahabat, Tolak Anarkisme!!!

Arek Madura-Aremania Bersahabat, Tolak Anarkisme!!!

Madura United harus mengakui kehebatan Arema. Bermain di kandang dengan dukungan ribuan suporter, Singo Edan tampil ciamik. Gol Alfarizi dan C Gonzales mengantarkan Arema menang 2-1 atas Madura United.



Meski demikian, klub yang katanya kebanggaan warga Madura masih bertengger di puncak klasemen atau hanya selisih dua poin dari pesaingnya, Arema, di urutan kedua.

Kemenangan tersebut disambut sukacita suportet Arema. Sedangkan suporter Madura United, K-Conk Mania, yang hadir di Stadion Kanjuruhan pulang dengan kepala tertunduk.

Rombongan K-Conk Mania mendapat teror dan hantaman batu oleh oknum Aremania di sepanjang jalan di daerah Lawang. Beberapa suporter mengalami luka dan kendaraan yang dinaiki pun rusak. Namun, K-Conk Mania sampai dengan selamat di tanah kelahiran Madura.

Melihat timnya kalah dan diteror saat perjalanan pulang, mungkin oleh sebagian suporter dirasa sangat menyakitkan.

Adanya teror tersebut ditanggapi serius oleh K-Conk Mania. Insiden tersebut dianggap mencederai persahabatan dan sportivitas antara K-Conk Mania dengan Aremania selama ini.

Tragedi ini dianggap penghinaan dan pelecehan, bak Arema membangunkan "Pak Sakera" yang sedang tidur. K-Conk Mania merasa tidak pernah berbuat onar maupun mencari musuh, justru sebaliknya.

Namun, kejadian di Lawang, Kabupaten Malang, jelas-jelas dianggap menginjak martabat K-Conk Mania.

Beberapa hari terakhir saya pun jengah dengan adanya broadcast (Bc) yang masuk di BBM dan grup WhatsApp. Intinya, K-Conk Mania menganggap tragedi di Lawang sebagai awal permusuhan, awal darah akan tumpah dan awal angkat senjata.

Tidak hanya itu, ajakan bagi K-Conk Mania agar hadir ke Stadion Sidoarjo, Rabu (7/9), lusa pun ramai disebar. Parahnya, ajakan tersebut juga tertulis supaya K-Conk Mania membawa celurit dan persenjataan lengkap.

Kesimpulannya, K-Conk Mania ingin membuktikan jika perlakuan oknum Aremania tidak dapat dibenarkan. Istilahnha "Darah harus dibalas dengan darah".

Sebagai putra Madura dan kelahiran Madura, tepatnya di Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, saya pun mencoba menengahi dan mengajak teman-teman Madura tidak terpancing, apalagi sampa terprovokasi adanya Bc tersebut.

Tidak sedikit yang mencibir dan menganggap saya hanya sebatas mencari sensasi. Bahkan, dianggap tidak memiliki solidaritas dan rasa kekeluargaan.

Namun, saya punya pemikiran lain, toh tida selamanya masalah diselesaikan dengan kekerasan. Jika benar yang melakukan pelemparan batu adalah oknum Aremania, biarlah polisi menjalankan tugasnya. Mengusut tuntas dan mencari pelakunya serta diganjar hukuman setimpal, jangan main hakim sendiri.

Patut digaris bawahi, jika benar pelakunya adalah Aremania, bukan berarti semua Aremania bersifat dan berperilaku sama. Itu hanyalah OKNUM yang mencoba memecah belah persahabatan dan pertemanan di dunia sepak bola.

Manajemen Arema pun meminta maaf atas insiden tersebut. Sekalipun pertandingan berjalan sengit dan keras, tapi usai pertandingan, pemain, pelatih dan oficial saling berjabat tangan dan melepas kangen. Apalagi pemain Madura United banyak dihuni eks pemai Arema.

Kehadiran K-Conk Mania ke markas Arema juga disambut baik Aremania. Bahkan mereka mendapat pengawalan dari teman-teman Aremania.

Disadari atau tidak, harkat dan martabat merupakan harga mati bagi orang Madura. Jika martabat sudah diinjak-injak, hanya ada satu, yakni carok.

Sama halnya dengan kasus yang kerap terjadi di Madura, di mana seorang laki-laki mengganggu istri orang lain. Suami sang istri tidak terima dan sudah pasti mengeluarkan celurit "carok". Hal ini saya kira berlaku di semua daerah, suami mana yang tak sakit hati jika istrinya diganggu.

Bagaimanapun bagi orang Madura, perempuan adalah emas, yang harus dilindungi dan tidak boleh dijamah orang lain.

Namun, ini konteksnya berbeda. Ini hanya soal fanatisme terhadap sebuah tim sepak bola. Meski saya berani bilang, Madura United bukan pengejawantahan dari tim kebanggaan warga Madura keseluruhan.

Pemainnya saja banyak dari luar Madura, sedangkan putra daerah sangat sedikit. Itupun sering dibangku cadangan. Padahal, dari 4 kabupaten (Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan), saya yakin seabrek putra daerah dengan talenta yang mumpuni. Andai manajemen yang dikepalai Ahsanul Qosasi mau bersabar dan menyisir segala pelosok Madura.

Sayang, manajemen Madura United bisa saya bilang tutup mata akan hadirnya sosok putra daerah dalam skuad Madura United. Yang penting bermain bagus dan bertengger di pucuk klasemen.

Jika benar pertumpahan darah terjadi, entak esok, lusa, dan beberapa tahun ke depan, maka sudah pasti berdampak luas. Tidak hanya bagi warga Madura yang di Madura, tapi juga yang merantau. Hal ini berlaku sebaliknya, sebab tidak sedikit orang Madura tinggal dan hidup di Malang. Bahkan, sudah memilih menetap di Malang.

Bukan lagi soal fanatisme sesama suporter, tapi juga akan menanam benih-benih permusuhan dan kebencian antara warga Madura dan Malang.

Besar harapan, manajemen Madura United wabil khusus Ahsanul Qosasi yag tak lain adalah putra Sumenep, Madura dan K-Conk Mania rendah hati dan menerima apa yang sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur.

Mari bersama-sama berfikir ke depan, persatuan dan kesatuan paling utama, meski berbeda-beda ras, suku, bahasa dan budaya.

Bagi K-Conk Mania, tulislah dalam hati kalian masing-masing, jika insiden tersebut sebagai pengalaman. Justru, dari insiden inilah seharusnya antar suporter saling menguatkan dan merapatkan barisan.

Sama-sama mengajak pada kebaikan dan menjunjung tinggi sportivitas serta tidak ada lagi yang namanya antar suporter kisruh, mengalami luka-luka hingga meninggal dunia.