Manusia Merdeka, Entahlah?

Tepat 10 Muharrom, menjadi saksi sejarah dalam hidup saya. Keputusan yang diambil untuk mundur dari tempat saya bekerja menjadi pertanyaan besar teman, kerabat, bahkan sang kekasih?

Mundur bukan karena menyerah, mundur bukan karena tak mampu memberikan yang terbaik atau sudah mendapatkan kerja lebih baik. Melainkan hati yang menuntun agar mundur meski tidak punya bijakan di tempat lain.

Mundur dari dunia jurnalis bukan hanya kali pertama ini yang kurasakan, tetapi sudah kali ketiga. Entah apa yang ada dalam fikiranku sehingga nekat melepas ladang mengais sesuap nasi.

Satu tahun saya bekerja di Malang Post sejak Juli 2013 hingga September 2014. Tempat di mana saya belajar soal media. Usai itu mencoba di media online, MalangTimes. Tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan dari menulis berita dengan gaya koran berubah180 derajat menulis informasi dengan gaya online, cepat saji, singkat dan terkini.

Sayang, hanya 8 bulan saya merasakan hiruk pikuk di MalangTimes yang mempunyai tagline "Ojo ngenteni meneh isuk dan media online pertama di Malang Raya". Delapan bulan bukan waktu singkat, keakraban, kekeluargaan berubah seketika. Saya memutuskan keluar bersama teman-teman yang lain.

Lantas, saya bersama tiga teman karib (seperti saudara kandung sendiri) berinisiatif melahirkan media serupa. Dengan tekad mengusung jurnalis positif dan independen, lantas lahirlah Malangvoice, dengan inisiator Pak Rizal  dan Mba Nunung yang merupakan panutan bagi saya pribadi serta teman-teman yang lain.

Ejekan, cemooh dan gosip di luar begitu santer, ada yang menyebut kami keluar dari MalangTimes karena bawa kabur uang iklan dan semacamnya. Namun, kami tidak goyah dengan kondisi itu. Justru kami terus bekerja keras. Bahkan, julukan MalangTimes perjuangan disematkan kepada kami.

Hasil itupun tiba, hampir tiga bulan pasca MVoice lahir, ranking di Alexa menyalip ranking MalangTimes. Semua bersuka cita dan bangga. Namun, kepuasan itu belumlah maksimal, perlu pembenahan kinerja yang bisa dikata kurang dari standar.

Sempat terselip dalam fikiran, jika keputusan yang saya ambil merupakan tindakan bodoh dan ceroboh. Hal itu membuat hati bercampuraduk dengan fikiran. Mau kerja apa, bagaimana tanggungan dan janji ke orang tua, dan sebagainya berulangkali merasuki fikiranku.

Selama itu saya tetap meyakinkan hatiku jika tindakan mundur adalah tepat. Saya capek, capek dengan suasana kerja yang tidak kondusif, di luar kewajaran dan tidak seperti biasanya. Pak Pimred yang dulu saya kenal juga berubah terbawa suasana. Namun, itu tidak mengurangi kekaguman dan hormat saya padanya. Selain sebagai pimpinan redaksi, beliau sudah saya anggap orang tua sendiri.

Namun, saya tidak mencari kambing hitam, apapun keputusanku adalah pilihan hidup. Berbicara sebenarnya adalah kepuasaan dan kemerdekaan yang saya rasakan. Benarkah ini yang dinamakan kemerdekaan?

Ada yang bilang jika saya tidak punya mental bertarung, karena memilih keluar dari lingkungan kantor. Bukan sebaliknya memperjuangkan bersama dalam menuju perubahan. Entah apa saya pengecut atau bukan.

Saya tidak bisa setiap hari berangkat kerja dengan perasaan benci dan dengki terhadap seseorang yang dinilai tidak bermoral dan asal ceplos saat berbicara. Kerap kali kami membicarakannya di tempat ngopi, bahkan upaya untuk memboikotnya pun sempat menjadi wacana, semua galau karena sesrorang itu.

Entahlah, semoga kemunduran saya dari kantor menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak. Biarkan saya bebas dan mencari suasana kerja yang lebih tenang, nyaman serta menghasilkan karya dengan usaha sesungguhnya. Sekalipun bayaran yang didapat tidak sebesar di kantor lama.

Atau, kepergian saya menjadikan kantor lebih maju, karena selama ini saya hanyalah "virus" bagi teman-teman yang lain. Semoga. Amin

Catatan hari 1

Belajar Menulis, Apa Ingin Eksis?


Menulis bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang ditulis menjadi tanggung jawab penulis baik dalam bentuk opini, esai, artikel ataupun cerpen.

Pada hakikatnya, menulis dibutuhkan skill dan kebiasaan setiap hari. Bukan lantas secara instan bak kita memesan nasi di warung tinggal menyantapnya.

Menulis butuh wawasan luwes dan rajin membaca. Menulis tanpa dasar wawasan, tulisan yang disajikan tidak lebih hanya unek-unek hati belaka. Bukan dalam bentuk gagasan yang membuat pembaca terpikat sekaligus ada ajakan dan pesan moral didalamnya.

Belajar menulis, apa ingin eksis? Sebuah pertanyaan yang sudah terjawab tanpa perlu dijabarkan.

Bagi penulis, karyanya yang dimuat di koran, media online menjadi kebanggan tersendiri. Namun, apakah menghasilkan karya sekadar bertujuan ingin dikenal.

Bukankah pendahulu kita sebut saja Albery Einsten, Thomas Alva Edison, tidak  pernah menunjukkan jati dirinya. Mereka dikenal karena karya jeniusnya.

Sama halnya, Presiden ke-1 Ir Soekarno. Ia berkarya dan memperjuangkan Indonesia bukan semata dikenal dunia. Melainkan demi kedaulatan dan kemerdekaan masyarakat pribumi.

Apakah paradigma dikalangan aktivis mahasiswa sudah bergeser seiring majunya zaman.

Momen hari pancasila, pendidikam, hingga sumpah pemuda kerap menjadi ajang dalam berlomba-lomba menyajikan sebuah tulisan. Penulis super kilat dan dadakan, begitulah sebutan mereka.

Di hari biasa, mereka justru tidak menulis bahkan membacapun jarang. Kecuali baca BBM, Whatshap, hingga sms.

Apapun itu, konteks utama menulis sebuah karya haruslah berdasarkan pada fakta dengan didukung teori berbagai aspek.

Meski begitu, saya mulai belajar menulis dengan mencatat apa yang saya lihat, dengar dan dirasa tidak sesuai harapan.

Maklum, salah satu sahabat menyarankam agar supaya gemar menulis apapun bentuknya. Jika sudah biasa menulis, niscaya dengan sendirinya terbiasa.

Catatan hari 3
Aktivis, Tuntutan Apa Terpaksa?

Aktivis, Tuntutan Apa Terpaksa?

Aktivis, status yang tidak hanya disematkan bagi kalangan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). 

Namun, aktivis juga melekat bagi kalangan pegiat lingkungan, anti korupsi, hingga kalangan masyarakat yang bersatu menolak adanya kegiatan negatif di sekitarnya.

Masih ingat Salim Kancil, warga  Desa Selok Awar-awar, Lumajang yang dibunuh karena menolak adanya eksploitasi pasir besi di daerahnya. Apakah sangat mahal untuk menjadi aktivis? Sehingga nyawa taruhannya.

Padahal, belum tentu mereka mendapatkan bayaran selama melakukan kegiatan tersebut. Bahkan, kerap mendapat intimidasi dan ancaman.

Sama halnya mahasiswa, sebagai kalangan terdidik dan bisa disebut manusia kritis, harusnya mampu memberikan kontrol dan kritis akan kebijakan pemerintah yang tidak memihak ke rakyat.

Namun, suasana aktivis tahun '98, di mana ribuan mahasiswa seluruh Indonesia melakukan penggulingan rezin Soeharto. Bahkan, tak sedikit dari mereka harus menukar nyawanya demi perjuangan itu.

Tiada hari tanpa diskusi, kajian hingga membahas masalah bangsa, sudah menjadi budaya dikalangan aktivis dulu . Bagaimana dengan aktivis sekarang? Yang kebanyakan ngopi, cangkrukan hingga menikmati kemajuan teknologi (PS, gamr online, dsb). Seakan acuh akan kondisi bangsa dan tanah airnya saat ini.

Gerakan semacam turun jalan juga disalah artikan. Apalagi dilakukan secara instan, tidak berdasar pada kajian dan konsep matang. 

Usai menggelar aksi, lahir rasa puas didalam diri masing-masing mahasiswa yang mengatasnamakan sebagai aktivis. Benarkah demikian pengejawantahan aktivis sekarang.

Kondisi ini diperparah pada konsep dan kurikulum pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Intimidasi agar tidak masuk organisasi intra dan ekstra kerap terlontar dari kalangan pendidik. Singkatnya, aktivis membawa hal negatif dan dapat mengganggu keberlangsungan dalam menempuh kuliah. Seharusnya selesai 4 tahun, justru molor sampai 7 tahun hingga lebih, karena aktif di organisasi.

Di sisi lain, mahasiswa organisasi lebih kritis dan familiar di perusahaan dan lapangan kerja, dibanding mahasiswa biasa. Secar hard skill dan shoft skill mumpuni, berbeda dengan mahasiswa biasa, suruh bicara di forum saja takutnya minta ampun.

Apakah orientasi aktivis berhenti usai mendapat gelar sarjana. Saya rasa tidak, jiwa idealisme, kritis dan berjuang menegakkan kebenaran sejatinya harus melekat. Bukan justru dijual murah dan tunduk pada kedzaliman. 

Hidup adalah pilihan, hal ini yang coba saya tempuh dalam menjalani hidup. Sekalipum belum dapat gelar S1, tetapi saya sudah mampu bersaing dalam dunia kerja. Jalur jurnalis menjadi pilihan agar jiwa perjuangan dan berupaya meneggakkan kebenaran tetap lurus sesuai isi hati dan bekal selama berorganisasi.

Namun, lagi-lagi ujian kecil menghadang, di lapangan kerap dihadapkan pada kerikil-kerikil yang mampu menggoyangkan prinsip awal, no kompromi jika bicara kebenaran, kejujuran dan keadilan. Alhamdulillah, prinsip ini saya pertahankan sampai sekarang, semoga tetap seperti ini.

Singkatnya, pada dasarnya berorganisasi baik bagi pribadi. Karakter berontak dan mandiri menjadi bekal memasuki dimensi yang lebih luas. Dengan syarat, selama menjadi aktivis sungguh-sungguh belajar dan menanamkan rasa idealisme. 

Belajarlah dari Salim Kancil, pria setengah baya dengan tingkat pendidikan dangkal dan dari golongan keluarga kurang mampu, bisa menjadi pejuang dan aktivis. Logikanya, apalagi mahasiswa dengan pendidikan tinggi seharusnya lebih bagus dari Salim Kancil dalam berjuang. Berjuang demi anak cucu kita kelak, dan demi kesejahteraan masyarakat.

Merdeka.......!!!!!

Catatan hari 2