Aktivis, status yang tidak hanya disematkan bagi kalangan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (PT).
Namun, aktivis juga melekat bagi kalangan pegiat lingkungan, anti korupsi, hingga kalangan masyarakat yang bersatu menolak adanya kegiatan negatif di sekitarnya.
Masih ingat Salim Kancil, warga Desa Selok Awar-awar, Lumajang yang dibunuh karena menolak adanya eksploitasi pasir besi di daerahnya. Apakah sangat mahal untuk menjadi aktivis? Sehingga nyawa taruhannya.
Padahal, belum tentu mereka mendapatkan bayaran selama melakukan kegiatan tersebut. Bahkan, kerap mendapat intimidasi dan ancaman.
Sama halnya mahasiswa, sebagai kalangan terdidik dan bisa disebut manusia kritis, harusnya mampu memberikan kontrol dan kritis akan kebijakan pemerintah yang tidak memihak ke rakyat.
Namun, suasana aktivis tahun '98, di mana ribuan mahasiswa seluruh Indonesia melakukan penggulingan rezin Soeharto. Bahkan, tak sedikit dari mereka harus menukar nyawanya demi perjuangan itu.
Tiada hari tanpa diskusi, kajian hingga membahas masalah bangsa, sudah menjadi budaya dikalangan aktivis dulu . Bagaimana dengan aktivis sekarang? Yang kebanyakan ngopi, cangkrukan hingga menikmati kemajuan teknologi (PS, gamr online, dsb). Seakan acuh akan kondisi bangsa dan tanah airnya saat ini.
Gerakan semacam turun jalan juga disalah artikan. Apalagi dilakukan secara instan, tidak berdasar pada kajian dan konsep matang.
Usai menggelar aksi, lahir rasa puas didalam diri masing-masing mahasiswa yang mengatasnamakan sebagai aktivis. Benarkah demikian pengejawantahan aktivis sekarang.
Kondisi ini diperparah pada konsep dan kurikulum pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Intimidasi agar tidak masuk organisasi intra dan ekstra kerap terlontar dari kalangan pendidik. Singkatnya, aktivis membawa hal negatif dan dapat mengganggu keberlangsungan dalam menempuh kuliah. Seharusnya selesai 4 tahun, justru molor sampai 7 tahun hingga lebih, karena aktif di organisasi.
Di sisi lain, mahasiswa organisasi lebih kritis dan familiar di perusahaan dan lapangan kerja, dibanding mahasiswa biasa. Secar hard skill dan shoft skill mumpuni, berbeda dengan mahasiswa biasa, suruh bicara di forum saja takutnya minta ampun.
Apakah orientasi aktivis berhenti usai mendapat gelar sarjana. Saya rasa tidak, jiwa idealisme, kritis dan berjuang menegakkan kebenaran sejatinya harus melekat. Bukan justru dijual murah dan tunduk pada kedzaliman.
Hidup adalah pilihan, hal ini yang coba saya tempuh dalam menjalani hidup. Sekalipum belum dapat gelar S1, tetapi saya sudah mampu bersaing dalam dunia kerja. Jalur jurnalis menjadi pilihan agar jiwa perjuangan dan berupaya meneggakkan kebenaran tetap lurus sesuai isi hati dan bekal selama berorganisasi.
Namun, lagi-lagi ujian kecil menghadang, di lapangan kerap dihadapkan pada kerikil-kerikil yang mampu menggoyangkan prinsip awal, no kompromi jika bicara kebenaran, kejujuran dan keadilan. Alhamdulillah, prinsip ini saya pertahankan sampai sekarang, semoga tetap seperti ini.
Singkatnya, pada dasarnya berorganisasi baik bagi pribadi. Karakter berontak dan mandiri menjadi bekal memasuki dimensi yang lebih luas. Dengan syarat, selama menjadi aktivis sungguh-sungguh belajar dan menanamkan rasa idealisme.
Belajarlah dari Salim Kancil, pria setengah baya dengan tingkat pendidikan dangkal dan dari golongan keluarga kurang mampu, bisa menjadi pejuang dan aktivis. Logikanya, apalagi mahasiswa dengan pendidikan tinggi seharusnya lebih bagus dari Salim Kancil dalam berjuang. Berjuang demi anak cucu kita kelak, dan demi kesejahteraan masyarakat.
Merdeka.......!!!!!
Catatan hari 2