Malang Post, Mendidik Sedari Kecil, Awal Mula Jadi Seorang Jurnalis

Mengenal Dunia Jurnalis (1)

***
Tidak pernah terbesit sama sekali sejak kecil saya akan terjun di dunia jurnalis. Dunia manusia yang super sekali, langka, dan banyak orang bilang dunianya orang 'hebat'. Bekerja tanpa kenal waktu untuk sekadar menyajikan informasi akurat, aktual, dan terbaik bagi masyarakat.

Sama sekali saya tidak memiliki dasar ilmu komunikasi maupun jurnalis. Selama duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama hingga atas, hobi saya hanyalah bermain sepak bola dan kelak bermimpi jadi penjaga negara dan dikenal saat ini TNI.

Masuk dunia kampus, menempuh studi Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, justru memiliki tekad kuat menjadi seorang aktivis, tiada henti melakukan aksi jalanan (demo), kritis atas penindasan dan kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyatnya hinggga berdiskusi tak kenal waktu, siang-malam. Entah apa yang di diskusikan, pokoknya ngalor ngidul (sembarangan).

Namun, selama menjadi mahasiswa saya sempat mengikuti pelatihan jurnalistik. Ilmu jurnalistik kali petama saya terima saat masih semester tiga, ketika itu saya nimbrung di acara pelatihan teman-teman PMII Univerisitas Negeri Malang (UM) atau biasa disebut Komisariat Sunan Ampel. Berlangsung di Kota Batu. Materi yang diingat sampai sekarang adalah membuat berita yang disampaikan mas Kholid Abdullah, Redaktur Radar Malang.

Selanjutnya, semester empat saya kembali mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan PPMI Malang. Bertempat di Unmer Malang. Kebetulan saya mewakili BSO Radix di bawah naungan LGM Pertanian.

Teman yang saat ini sama-sama menggeluti dunia jurnalis adalah Tommy Apriando (wartawan Mongabay Indonesia). Saat itu, ia datang jauh-jauh dari Jogjakarta mengikuti kegiatan tersebut. Alhamdulillah, hubungan persaudaran hingga sekarang tetap terjalin. Bahkan, terkabul cita-cita menjadi seorang juru kuli tinta. Beberapa waktu lalu akhirnya kami dipertemukan kembali di acara Festival Media (Fesmed) AJI Indonesia di Jakarta. Seraya sempit dunia ini, tapi bagaimanapun jiwa kami memanglah sama, sama-sama berjuanh memberikan informasi positif, menolak kezaliman dan menjunjung tinggi jurnalis sesuai kode etik.

Namun, usai pelatihan saya justru seakan lupa mau belajar lebih mendalam soal jurnalis. Padahal, selama pelatihan menggebu-gebu, bertekad menjadi seorang jurnalis handal.

Kecintaan saya akan dunia jurnalistik lantas menjadi program kerja selama mengisi jabatan sebagai Ketua Komisariat PMII Unisma periode 2012-2013. Sahabat yang juga aktif di LPM MEI, Habibullah dipasrahi menyelenggarakan pelatihan jurnalistik. Dengan harapan, PMII memiliki kader-kader seorang jurnalis kelak. Sayang, lagi-lagi upaya tersebut kandas di tengah jalan.

Pasca menyelesaikan tanggung jawab sebagai pucuk pimpinan PMII Unisma, tepatnya bulan Juni 2013. Lantas, saya bingung mau melangkah ke mana, mau aktif sebagai pengurus cabang PMII, saat itu belum ada pergantian pengurus. Boro-boro mau melangkah ke mana, kos-kosan aja saya gak punya(****).

Akhirnya saya memutuskan numpang tinggal di sekret GGGA yang bertempat di Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu. Berharap, ada ilmu dan pengalaman baru pasca berkecimpung di dunia organisasi. Semula harapan mencari pengalaman baru berjalan mulus. Tidak sengaja saya membeli salah satu surat kabar lokal Malang. Setiap lembar berita yang disajikan saya baca sampai tuntas. Sampai di halaman tengah terpampang lebar iklan bertuliskan "Diklat Jurnalistik Malang Post" lengkap dengan contac person.

Esok harinya saya bersama Sudarmono (sekarang bekerja di Surabaya), Iwan (Sudah lulus S2 Hukum), dan Abdul Aziz (kabar terakhir balik kampung, Sragen, Jawa Tengah), mendatangi kantor Malang Post di Jalan Sriwijaya nomor 9 atau di depan Stasiun Kota Baru.

Di sana saya dan teman-teman disambut bagian resepsionis sembari menyodorkan daftar calon peserta diklat. Dalam lembar kertas putih itu nama ketiga teman sudah tercatat, lengkap dengan studi akhir. Sedangkan, saya bingung mau diisi apa sudah lulus atau masih mahasiswa. Akhirnya saya putuskan sebagai mahasiswa akhir. Maklum, calon peserta diklat harus semester akhir atau sudah lulus.

Selang beberapa hari, pesan dsri nomor baru masuk ke Hp saya, memberitahukan diklat jurnalistik akan dilangsungkan hari Rabu-Kamis. Seingat saya bulan Juni 2013. Tanggal berapa saya lupa, tapi diklatnya dilangsungkan di ruang rapat Malang Post. Tercatat ada 15 peserta dari beberapa kampus, bahkan ada yang sudah berkeluarga.

Materi ke-jurnalistikan pun disampaikan oleh wartawan senior Malang Posy, Chusnun Djuraid. Usai menimba teori soal jurnalistik, kemudian kami diminta terjun langsung ke lapangan untuk mencari berita.

                            *****
Singkat cerita, saya memulai menjadi seorang pemburu berita di Malang Post, meski statusnya masih magang. Semula berfikir, memburu berita amatlah mudah dan gampang, tapi saat merasakan sendiri, di hari pertama magang saya harus memacu gas memutari Kota Malang, entah berapa kilometer saya tempuh untuk mendapat satu berita. Saat itu masih beluk ada target layaknya wartawan senior.

Usai lelah seharian berfikir berita apa yang layak ditulis, kini saya dihadapkan dengan bagaimana merangkai data-data yang didapat dari lapangan. Jemari seakan kaku melihat huruf-huruf di laptop, pikiran mengawang, mencari awal kata yang bagus untuk menuliskan kepala berita atau biasa disebut lead. Di kepala berita harus terdiri dari unsur 5W+1H.

Untuk satu berita butuh dua jam saya menyelesaikannya. Esoknya, kaget disertai senang, karya saya bisa terselip di halaman Malang Post. Hal itu tentu memacu semangat saya untuk terus berusaha.

Dari 15 orang yang ikut diklat, tersisa 5 orang. Dua teman saya, Abdul Aziz dan Iwan mundur karena merasa tidak memiliki skill. Sedangkan, Sudarmono yang akrab saya panggil Momon masih tetap bertahan, tapi seminggu kemudian ia beralasan sakit dan sejak itu berhenti, tak pernag mengirim berita.

Seminggu di Malang Post, saya dan dua teman magang lainnya dipanggil menghadap Pimred Malang Post, Ra Indrata atau akrab disapa pak Indra. Lantas kami ditawarkan mau lanjut magang apa tidak, karena merasa tertantang saya kemudian mengiyakan tawaran itu. Saya ditempatkan di Kota Batu, dua teman lainnya tetap di Kota Malang.

Dari Kota Batu, sedikit banyak saya mengerti bagaimana membuat berita yang baik dan positif. Kebetulan, saya mendapatkan redaktur yang cekatan, lugas dan selalu membimbing setiap saat.

Waktu terus berjalan, awal di Kota Batu diisi tiga wartawan senior, satu persatu ditarik ke balik kandang. Tersisa saya dan Mas Febri dan satu redaktur, pak Samsuliono. Dua halaman dihandel dua orang, semula saya menikmatinya, namun saat salah satu di antara kami libur, saya harus bekerja dua kali lipat. Bahkan, saat libur pun saya tetap stok berita setidaknyan 2 hingga 3 berita.

Hampir semua pejabat di Kota Batu saya kenal, mulai bawahan, kepala SKPd hingga Wali Kota pun kerap menjadi narasumber selama di Batu. Bahkan, kantor BPBD menjadi rumah kedua saya selama ditugaskan di Batu.

Berbagai kejadian besar pernah saya liput, seperti banjir bandang di Pujon dan Ngantang, serta terakhir Gunung Kelud meletus. Pengalaman tersebut tetap menjadi pengalaman berharga selama menekuni dunia jurnalis hingga kini. Bagaimana tidak, butuh perjuangan dan keberanian liputan saat dua kejadian besar itu terjadi. Melawan rasa takut, hujan, bahkan gelap gulita karena lampu di lokasi padam seketika.

Tapi, tak lama kemudian saya ditarik ke Malang, saya ditugaskan liputan seputar pendidikan, hanya bertahan tiga bulan saya memutuskan ke luar dari Malang Post. Berat, tapi itulah saya, suka grusa grusu dalam mengambil keputusan. Kendati cara ke luar saya brutal dan tak beradab (sampai sekarang saya menyesal karena sikap saya yang tidak dewasa).

Malang Post adalah rumah saya mengenal apa itu dunia jurnalis. Semua wartawannya, pimpinan hingga teman-teman dibagian pemasaran dan iklan merupakan guru-guru saya selama 1 tahun 2 bulan bersama. Banyak hal yang didapat selama di Malang Post, entah berapa banyak hingga tak bisa ternilai. Terakhir sebulan sebelum saya ke luar sudah digaji Rp1,8 juta. Padahal, awal masuk cuma Rp750 ribu, statusnya masih sama "magang".

Namun, apalah daya, saya hanyalah manusia yang selalu merasa kurang dan memiliki sifat serakah. Saya memutuskan pindah media, yakni Malangtimes.com, berkat dorongan dan relasai teman sejawat saya selama di Malang Post dulu, M Choirul Anwar yang lebih dulu bergabung dengan Malangtimes.com, pasca ke luar dari Malang Post.

Saat itu, status saya masih mahasiswa dan jarang ke kampus. Konflik dengan orang tua terus berlanjut, pertanyaan kapan lulus layaknya sarapan setiap hari.**


Related Posts

Previous
Next Post »