Dua Hari Momen "Yang" Berkualitas

Dua Hari Momen "Yang" Berkualitas


Pers Indonesia dikaitkan sebagai pilar ke-4 Demokrasi. Disandingkan dengan lembaga selevel Eksekutif, Legislatif, Yudikatif.  Hal itu tidak terlepas dari perjalanan panjang  pers  sejak era kolonial Belanda hingga pasca Reformasi, saat ini. Namun, timbul pertanyaan, apakah masih layak disebut sebagai Pilar ke-4 Demokrasi?

Kepercayaan masyarakat yang cukup besar memberi amanah bagi pers sebagai pilar ke-4 Demokrasi. Namun, hal itu justru dicederai oleh para kelompok dan pegiat pers sendiri, sehingga pers tidak lagi menjadi wadah perjuangan, melainkan untuk meraup keuntungan pribadi dan perusahaan semata.

Pers yang digadang-gadang sebagai anjing penjaga dan pengontrol kekuasaan, menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat, justru berselingkuh dengan para penguasa. Jelas, hal ini erat kaitannya dengan control penguasa supaya kritik dan berita yang dipublish tidak lagi memojokkan pemangku kekuasaan.

Namun, keberadaan Aliansi Jurnalis Independan (AJI) membawa angin segar bagi pers Indonesia setelah keberadaan organisasi wartawan sebelumnya tidak mampu memegang marwah dan ruh sebagai pers independen dan membela kepentingan masyarakat.

Sekilas cerita tentang pribadi. Sejak kali pertama menginjakkan kaki di dunia jurnalis, tepatnya tahun 2013, saya hanya tahu tugas jurnalis mencari dan menyajikan berita. Tugas segunung dari kantor yang tak memberi ruang bagi jurnalisnya untuk berfikir kreatif menjadi beban tersendiri. Belum lagi beban mencari iklan dan advertorial. Bahkan, asupan gizi seputar jurnalistik hampir tidak ditemui. Missal soal pemahaman Kode Etik Jurnalistik, Prinsip-prinsip Jurnalistik, dan hal lain yang berkaitan dengan jurnalistik.

Belum puas di media tersebut lantas saya menjelajah beberapa media, jika sebelumnya media cetak, dua media setelahnya adalah media online. Banyak hal yang didapat termasuk perubahan sikap menjadi jurnalis. Kedekatan dengan teman-teman AJI Malang pun memberi banyak pelajaran. Tidak hanya sebatas paham apa itu jurnalis, tetapi juga patuh terhadap Kode Etik Jurnalistik. Salah satunya dilarang menerima imbalan dari narasumber dan dilarang menyajikan berita spekulasi atau bohong.

Ketertarikan saya bergabung dengan AJI pun tak terbendung. Selain organisasi ini bisa dikatakan organisasi jurnalis paling sehat, secara kemampuan setiap individunya tak perlu diragukan lagi. Bahkan, soal menyajikan berita ke hadapan pembaca tak banyak dimiliki jurnalis lainnya atau memiliki nilai berita.

Tepat pada 23-24 April 2016 lalu, saya pun ikut serta dalam Uji Kompetensi Jurnalis (AJI) di Bojonegoro. Di saat itu pula saya bersama teman yang sama-sama sebagai anggota AJI dibaiat. Membacakan teks deklarasi Sirnagalih. Salah satu poin dalam deklarasi tersebut adalah pers menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

Dalam UKJ itu, selain dituntut punya bekal “Belajar” seputar jurnalis, juga mau tidak mau harus paham isi dan penerapannya. Penguji lebih suka peserta UKJ yang paham dibanding fasih menyampaikan secara teori. Ada 20 materi uji yang disajikan kepada peserta selama dua hari.

Hampir terlupakan, disela-sela acara, Bang Has, sapaan akrab Hasudungan Sirait yang tak lain adalah ketua kelas saat UKJ “Istilah para penguji”. Di mana ke depan tren jurnalis akan bergeser, jurnalisme investigasi adalah jurnalis masa depan. Nah, menghadapi tren ini diperlukan kesiapan kualitas setiap individu anggota AJI. Salah satu tolak ukurnya adalah standar kompetensi wartawan/jurnalis.

Dua hari momen yang jarang didapat. Mungkin itulah ungkapan saya selama mengikuti UKJ. Intinya, menjadi jurnalis harus berada di rel yang lurus “Patuh Kode Etik Jurnalistik”. Selama Kode Etik Jurnalistik tidak diterobos, niscaya berita yang disajikan tidak akan berpolemik.

Sebagai jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen, anggota AJI haruslah mematuhi Kode Etik Jurnalistik AJI. Anggota AJI harus menjadi virus penyebar kebaikan di tengah-tengah kepercayaan masyarakat akan pers mulai luntur. Di zaman masyarakat  yang haus akan informasi, tapi tidak lantas menabrak kaidah jurnalistik saat berlomba menjadi terdepan mengabarkan.

Sebagai jurnalis muda, saya bersama teman-teman anggota baru AJI pun merasa beruntung. Ini baru awal bergabung dengan AJI, masih banyak momen-momen penting lainnya yang dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan hal lainnya.
SENJAKALA Gerakan PMII!

SENJAKALA Gerakan PMII!


Catatan Harlah ke-56 PMII

Senjakala. Begitulah gambaran kondisi organisasi yang genap berusia 56 tahun di tahun 2016 yang terasa sebagian sahabat-sahabat yang pernah berkecimpung didalamnya. Tahun di mana era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tahun di mana masyarakat semakin dipaksa tergantung dengan produk-produk dari luar negeri. Era di mana masyarakat harus beradaptasi dengan pesatnya kemajuan teknologi . Zaman di mana masyarakat dipaksa saling memangsa satu sama lain untuk sekadar mendapatkan kekuasaan dan tahta.

Sejak 17 April 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah banyak melahirkan kader-kader yang bisa dikata telah mengisi semua sektor, baik di pemerintahan, NGO/LSM, penegak hukum, pemimpin perusahaan ternama hingga menjadi ulama terpandang. Dalam perjalanannya pun tujuan berdirinya PMII kian tak terlihat. Dari generasi ke generasi konsep-konsep perjuangan dan pergerakan kerap diotak-atik tanpa pagar api yang jelas. Dengan dalih menyesuaikan dengan zaman (kekinian).

Anggota, kader hingga pengurus baik ditataran Rayon sampai Pengurus Besar (PB) seakan terlena dengan sejarah PMII. Sejarah di mana PMII ikut andil dalam meruntuhkan pemimpin otoriter di tahun 1989-an. Biasanya, capaian tersebut kerap disampaikan saat Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (Mapaba) dalam materi gerakan mahasiswa.

Tanpa ditutupi tak sedikit yang menjadikan PMII sebagai jembatan mencapai tujuan pribadi. Di kampus misalnya, mereka "sebagian" ber PMII hanya untuk menjabat sebagai Gubernur mahasiswa hingga Ketua BEM. Berbeda di tataran Cabang, Korcab hingga Pengurus Besar.

Di usia ke-56 ini, PMII terasa tidak bois lagi dan tak menarik menjadi pilihan mahasiswa dalam menerpa diri dan meraih segudang pengalaman. Kondisi kaderisasi di ujung tombak organisasi (Rayon) pun jauh dari harapan para pendiri.  Mau diajak bicara perjuangan dan gerakan pro kaum rakyat miskin kota?, ditanya soal Ke-PMII-an, Nilai Dasar Pegerakan, dan Aswaja mereka sudah melancarkan beribu alasan. Belum lagi ditanya produk-produk hukum PMII lainnya.

Suasana diskusi di Rayon, Komisariat dan Cabang hampir sekadar formalitas alias menggugurkan kewajiban program selama satu periode. Pertanyaannya, apakah dalam diskusi semua anggota dan kader aktif dan menyerap hasil diskusi tersebut, atau hanya jadi penyemarak diskusi sembari sibuk memaminkan gadgetnya. Istilahnya “Banyak yang hadir diskusi, acara sukses”. Sekali lagi, ini era teknologi. Manusia dipaksa tergantung dengan gadget, tidak lagi sebatas berkomunikasi (Blackberry Mesangger (BBM), Whatsapp (WA), dan SMS), melainkan bisa pula dibuat selfie, main game, dan mengakses mbah Google.

Diperparah, kader PMII yang dari generasi ke generasi sangat akrab dengan buku, kini tak terlihat kader yang gemar membaca buku. Jika ada, itupun bisa dihitung dengan jari. Bisa jadi mereka membaca bukunya saat berada kos. Atau bahkan tidak sama sekali?. Barangkali baca buku bukan Lagi sebagai sarapan bagi otak, tapi sekadar dilakukan saat ada diskusi sekaligus mempersiapkan diri mengikuti lomba debat maupun mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah.

Sekretariat (Rayon ataupun Komisariat) sejatinya tempat suci untuk menimba ilmu, berdiskusi, rapat-rapat organisasi dan merancang arah pergerakan, kini pun berubah fungsi. Tak sedikit yang disalahgunakan. Entahlah. Kondisi ini tak berbeda jauh di Rayon dan Komisariat lainnya. PMII tak lagi menarik. (pendapat pribadi). Mungkin Alm Mahbub Djunaedi dan pendiri lainnya sependapat, mungkin bisa saja lebih gelisah dari saya dengan kondisi organisasi dengan warna dominan Kuning dan Biru.

Hal lain yang berkurang dari aktivis PMII saat ini, tidak adanya kegelisahan dan kegundahan dalam hatinya saat kebijakan pemangku kekuasaan tak lagi pro terhadap rakyat, justru memilih berafiliasi dan saling rangkul. Rasa “KRITIS” yang harusnya menjadi modal utama seorang aktivis hampir tidak dimiliki semua kader. Baiklah, jika aksi jalanan sudah tidak lagi cocok dilakukan aktivis saat ini. Lantas dengan cara apa mengontrol, mengkritisi para pemangku kekuasaan?

Aksi-aksi massif yang terlihat justru dilakukan kelompok masyarakat. Sebagian dari mereka bukan kaum intelektual dan tak sedikit yang belum mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Namun, mereka sadar apabila kebijakan pemerintah tak lagi bersahabat serta mengancam keberlangsungan hidupnya, maka kata perlawanan patut disuarakan hingga titik darah penghabisan. Contohnya, dampak pembangunan jalan tol, revitalisasi bantaran sungai, hingga tinggal di tanah negara (penggusuran).

Catatan lain, kader PMII yang harusnya menjadi racun di tengah-tengah mahasiswa non organisatoris justru larut didalamnya. Misalnya, saat melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kader-kader PMII lebih suka menjadi pemeran dibalik layar dibanding menjadi pemeran utama. Bukan memilih di depan dan mengamalkan ilmunya selama di kampus dan berorganisasi. Tak ada lagi suara-suara tuhan (Suara Mahasiswa, Suara Tuhan).

Terus yang menarik bagaimana?

Tidak terlalu muluk  kiranya jika berbicara tentang organisasi mahasiswa seperti PMII. Konkritnya, proses kaderisasi yang saat ini berjalan lebih mengedepankan kuantitas dibanding kualitas seorang kader.

Kenapa proses kaderisasi tidak dilakukan secara ketat. Seperti halnya siswa yang baru lulus dari bangku SMA berebut masuk PT Negeri. Banyak tahapan yang dilalui. Hal ini tentunya bisa diterapkan di PMII pada zaman era globalisasi ini. Buat apa kader banyak, jika tak berkualitas. Bukan zamannya berbicara kuantitas, tapi paling utama adalah kualitas kader.

Saya dan sahabat-sahabat yang pernah ber PMII, bermimpi suatu saat anggota yang mau masuk PMII justru datang dengan sendirinya, merasa butuh dan di PMII mereka bisa mengembangkan skill, tanpa harus jemput bola oleh pengurus Rayon, Komisariat disertai mengemis dengan menggunakan kedekatan emosional dan kedaerahan.

Proses kaderisasi juga masih bermazhab, seorang aktivis kebanyakan bermimpi jadi politisi dan pejabat di pemerintahan. Padahal, bicara sektor lain, banyak yang masih perlu direbut, sebut saja sektor enterpreneur, keilmuan (disesuaikan dengan fakultas masing-masing). Tapi khusus pola keilmuan ini belum diterapkan secara maksimal. Tak sedikit kader yang memilih mengerjakan tugas di kos dan taman kampus, dibanding di sekretariat Rayon.

Jika saja manifestasi logo dan warna PMII benar-benar diterapkan, tak perlu diragukan lagi kader-kader PMII akan mampu mewarnai di lingkungannya.

Meski demikian, saya percaya kemunduran yang terjadi di PMII merata dirasakan di semua organisasi kemahasiswaan. Namun, kondisi ini harusnya mampu ditangkap oleh pengurus baik dari tingkat Rayon hingga PB. Bersama-sama mencari solusi agar ghiroh ber PMII benar-benar berangkat dari hati, bukan karena terpaksa dan paksaan.

Keberadaan Ikatan Alumni PMII modal penting dalam mengembalikan semangat-semangat PMII. Setidaknya kilas balik di zaman mereka mampu diserap dan dijadikan pembanding dengan arah gerakan dan berorganisasi di zaman serba kaya informasi. Jangan sampai disalah artikan, keberadaan mereka dianggap "ATM" berjalan dalam mensupport kegiatan organisasi.

Padahal, untuk menghidupi organisasi tidak harus bergantung pada alumni yang sudah sukses. Namun, pundi-pundi dana bisa datang jika pengurus ditingkat Rayon, Komisariat, Cabang dapat mengambil peluang. Tidak lagi menjadi pengemis intelektual dengan berpakaian rapi dan didalam tasnya terdapat setumpuk proposal kegiatan.

Masih ada harapan PMII dapat mencetak kader-kader sesuai tujuan PMII: Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Bangkit PMII, Masa Depan Ditanganmu!!!!


 Malang, 16 April 2016

Wisma Adem Ayem

*Tulisan ini bukan memojokkan pihak manapun. Murni berangkat dari kegelisahan pribadi. Bagaimanapun pribadi ini pernah diterpa dan menimba ilmu di PMII. Pribadi seperti sekarang tak luput selama ini berproses di PMII.tks