Gus Dur tak Butuh Dibela dan Tatapan Tajam Pak Rektor


"Gus Dur tidak mengajarkan kita untuk tidak memaafkan, tapi tidak lupa atas perilaku orang yang mendzaliminya"

Begitu kira-kira untaian yang tertanam sampai sekarang. Gus Dur mengajarkan kami untuk selalu memaafkan perbuatan orang yang dzalim, tapi tidak pernah lupa akan perbuatannya.

Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan tokoh yang paling saya kagumi. Mantan Presiden ke-4 ini mengajarkan banyak hal dalam kehidupan saya.

Cucu pendiri NU yang juga pernah memimpin PBNU ini tokoh ulama sekaligus bapak bangsa yang patut diteladani.

Meski belum pernah bertatap muka dan ngobrol serta menimba ilmu langsung dari beliau. Sepak terjang dan keilmuannya sudah cukup menjadikan saya mengagumi dan takdim.

Jauh dari itu, usai Gus Dur wafat 30 Desember 2009, masyarakat seakan kehilangan sosok panutan dan ulama kharismatik. Gus Dur tidak hanya dicintai kaum Nahdliyin, tapi juga pemeluk agama lain kehilangan sosoknya.

Ya, Gus dur adalah tokoh panutan semua umat. Ia kerap membela kaum minoritas dan selalu menjunjung tinggi yang namanya toleransi dan pluralisme. Kendati keputusannya dipertanyakan oleh sebagian kalangan yang tak sepakat dengan keputusan almarhum.

Singkat kata, sekalipun Gus Dur sudah wafat, masih saja ada orang yang memfitnah dengan menyebar informasi tidak jelas, yakni menyebut alasan dibalik lengsernya suami Sinta Nuriyah Wahid dari jabatan Presiden. Bahkan, saat Gus Dur digulingkan, jutaan warga Nahdliyin bersiap datang ke Istana, tapi dengan santai Gus Dur meminta pengikutnya sabar dan urungkan niat. Begitulah Gus Dur, tanpa panjang lebar saya ceritakan, sudah menjadi rahasia umum sosok Gus Dur.

Namun, hati warga NU, terlebih saya dan sahabat PMII Unisma perih-sakit, tercabik-cabik saat mengetahui salah satu anggota DPR RI, Sutan Bhatoegana menyebut pemerintahan Gus Dur dilengserkan karena skandal korupsi Bulog dan Brunei-gate.

Jika dibilang, amarah memuncak, ingin rasanya menghajar dan menyobek mulut dewan tersebut. Saya tahu pernyataan itu setelah membaca berita di harian Kompas, Bhatoegana menyampaikan tuduhan tanpa dasar itu dalam dialog kenegaraan bertema "Pembubaran BP Migas untuk Kemakmuran Rakyat" Rabu, 21 November 2012.

Dua hari setelah pernyataan muncul, saya pun mengumpulkan semua pengurus dan ketua rayon PMII se Unisma, kalau tidak salah tanggal 23 November. Mengundang mas Ubaidillah Al Basith sebagai narasumber dalam diskusi di Bima Sakti 1A (Sekretariat Komisariat PMII Unisma).

Kesimpulannya, pernyataan Bhatoegana jelas salah dan menyakiti hati rakyat. Tidak pantas seorang pejabat membuat pernyataan tanpa dasar, apalagi yang difitnah sudah wafat. Kami pun memutuskan turun jalan, tepat tanggal 25 November malam, kami kembali rapat bersama pengurus, ketua rayon dan pengurusnya serta kader dan anggota PMII. Jika tidak salah ingat saat itu lebih 50 orang datang di malam persiapan aksi.

Seperti biasanya, sebelum aksi kami mematangkan dengan diskusi serta poin-poin yang akan diusung. Usai menyiapkan keperluan aksi, saya pun (kebetulan dipercaya menjadi Ketua PMII Komisariat Unisma) mengajak rembuk 9 ketua rayon.

"Bagaimana jika besok kita mengajak semua mahasiswa Unisma untuk aksi," tawar saya ke ketua rayon. Tawaran tersebut disambut baik, tentunya apabila semua mahasiswa ikut lebih massif aksinya.

Namun, bagaimana untuk mengajak semua mahasiswa, sedangkan tidak semua kader dan anggota PMII," tanya salah satu ketua rayon.

Sejenak saya berfikir dan kembali menawarkan ke nahkoda 9 rayon ini."Gimana kalau kita minta support rektorat agar mengimbau mahasiswa untuk turun jalan, karena berkat Gus Dur Unisma maju pesat dulunya. Apalagi kampus Unisma adalah kampus NU," usul saya di forum kecil itu.

Mereka pun sepakat."Apabila kampus tidak mendukung, kita sabotase kampus dan menuntut rektor ambil sikap," usul saya lebih lanjut," hal ini direspon positif, tapi sebagai plan B. Plan A tetap tujuan aksi di depan gedung DPRD (dulu DPRD sementara berkantor di Bakorwil Malang), karena kantor DPRD yang bersebelahan dengan Balai Kota dalam tahap renovasi.

"Oke, kita kumpul jam 09.00 di kampus, depan kantor FKIP," imbau saya. Esoknya kami pun telah siap melangsungkan aksi, kami sengaja sewa becak untuk mengangkut sound system, karena kalau hanya megaphone kami rasa kurang greget.

Saat kader-kader PMII berkumpul di depan Kantor FKIP, tanggal 26 November 2012. Saya dan presiden kampus, Imam Syafii menghadap rektor (saat itu dijabat Surahmat). Kami pun menyampaikan akan aksi dan mohon support rektorat. Pak rektor menyambut baik langkah kami, tapi dia tidak mau mengeluarkan imbauan atau meliburkan mahasiswanya. Dengan alasan tidak mau membenturkan instansi dengan perseorangan (maklum Bhatoegana masih aktif sebagai anggota DPR RI).

Mendapat jawaban tidak sesuai harapan, kami pun pamit dan saat itu pak rektor memberi uang Rp100 ribu yang diterima langsung Presiden Unisma."Ini buat beli air minum teman-teman, hati-hati dan yang tertib aksinya," begitu kira-kira pesannya.

Saya pun bergegas meninggalkan ruang rektorat dan menyampaikan kepada sahabat-sahabat, jika rektor tidak mengabulkan tuntutan kami. Spontan plan B kami lakukan, kami aksi di depan gedung rektorat. Menuntut rektor agar mengabulkan tuntutan kami. Kami pun berorasi dan minta pak rektor menemui kami. Karena tak kunjung ditemui, saya dengan tegas menyatakan akan membakar ban serta jangan salahkan bila kami anarkis nantinya. Pastinya pernyataan tersebut saya sampaikan menggunakan sound system yang sudah disiapkan sejak awal.

Belum selesai saya orasi, saya dan Presiden Unisma dipanggil, diminta menemui rektor. Saya pun menuruti. Kaget saat masuk ruang dekat lobi penerimaan mahasiswa baru. Di sana sudah duduk pak rektor, PR 1 Badat Muwakhid, PR 2 Agus Sugianto (mantan Dekan saya di Pertanian), Humas Unisma dan dosen Hukum yang juga tangan kanan pak rektor. Tak berselang lama PR 3 Maskuri Bakri (kini menjabat Rektor Unisma) ikut bergabung.

Saat bersamaan, tiga gerbang pintu keluar-masuk Unisma (dua di depan kampus, satu di depan Masjid Ainul Yaqin) sebelumnya sudah kami kunci rapat-rapat. Kuncinya saya bawa, tak ada upaya larangan dari satpam, karena saat itu saya ancam jika sampai menghalang-halangi akibatnya fatal. (Sebenarnya kami kenal dan akrab sama semua satpam kampus).

PR 3 marah besar akibat gerbang kampus di tutup, kendaraan roda empatnya terpaksa di parkir depan masjid dan ia jalan kaki ke dalam kampus.

Dalam ruangan tersebut saya diminta membubarkan demonstran dan rektor tetap kekeh dengan keputusannya, tidak mau meliburkan dan mengajak mahasiswa Unisma ikut demo. Saya pun dengan nada tinggi menyebut bahwa Unisma adalah kampus NU. Gus Dur dulunya punya andil besar terhadap Unisma. Aksi ini semata-mata bentuk kepedulian dan keprihatinan kami terhadap tokoh panutan yang difitnah oleh anggota dewan.

"Andai Gus Dur masih hidup, mungkin beliau tidak minta-mau dibela. Tapi, sekali lagi kami tegaskan, ini bentuk pendzaliman kepada Gus Dur, kami tidak mau tinggal diam," ungkap saya di hadapan pejabat teras Unisma.

Karena tak kunjung menghasilkan keputusan, saya pun meminta rektor ikut orasi, untuk mengajak mahasiswa turun aksi. Lagi-lagi tawaran kami ditolak. Rektor kemudian meminta PR 1 ikut keliling kampus untuk mengajak mahasiswa.

Usai pertemuan yang bisa dibilang membuat saya panas-dingin, rektor beserta bawahannya menemui pendemo di depan gedung. Belum sempat ia selesai menyampaikan "pidatonya". Dengan lantang saya menyuarakan "Kalau pak rektor tidak mau membela Gus dur, turunkan rektor dari jabatannya". Seketika saya ditatap tajam sama rektor yang saat itu mengenakan baju warna putih. Ucapan tersebut saya ulang hingga berkali-kali dan diamini sama sahabat-sahabat.(lihat foto lebih jelasnya).

Gagal mengajak mahasiswa Unisma turun aksi, kami pun berangkat ke kantor DPRD. Di sana sudah puluhan wartawan, cetak, online dan elektronik menunggu. Maklum, sekeras-lantangnya kami bersuara, tanpa adanya sahabat wartawan tak ada artinya. Karena fungsi utama pers adalah menyampaikan informasi seluas-luasnya.

Di depan gedung DPRD, kami menuntut Sutan Bhatoegana meminta maaf dan mundur dari jabatannya. Kami juga menuntut partai Demokrat memberikan sanksi tegas kepada Bhatoegana. Aksi kami diterima politisi Demokrat Kota Malang (seorang perempuan, saya lupa namanya). Aksi berjalan 1,5 jam lebih, sempat saling dorong dengan petugas, tapi tak sampai adu jotos. Kami memberikan 2x24 jam bagi Bhatoegana untuk meminta maaf. Kecaman dan tuntutan tersebut juga datang dari banyak kalangan-meminta Bhatoegana meminta maaf.

Usai menyampaikan tuntutan, kami pun bersama-sama membubarkan diri dengan tertib dan melangsungkan evaluasi di Komisariat. Menyusun strategi selanjutnya apabila tuntutan kami tak digubris.

Aksi kami ternyata masuk di TV swasta (TVOne). Saat itu sedang berlangsung dialog dengan Adi Massardi, mantan ajudan Gus Dur saat jadi Presiden. Adi pun meminta Bhatoegana meminta maaf kepada warga Nahdliyin dan keluarga Gus Dur. Alhamdulillah, tuntutan kami berbuah hasil, esok harinya Bhatoegana mendatangi kediaman istri almarhum dan menyampaikan permintaan maafnya.

Namun, apa yang kami lakukan (demo menuntut rektor) ternyata berbuntut panjang. Dua hari setelah aksi, saya menyempatkan ke kampus, tapi sesampainya di gerbang, saya dicegat sama pak Agus (kepala satpam kampus). Ia mengaku dimarahi habis-habisan sama pihak rektorat, karena saat kami aksi dituduh tidak berbuat apa-apa. Saya pun diminta menandatangi surat pernyataan tidak akan aksi lagi di dalam kampus.

Dengan terpaksa saya menandatangi surat tersebut. Dengan harapan hubungan baik PMII-satpam kembali terjalin.

Dengan menaruh ego dan idealisme saya, saya dan Imam Syafii (Presiden Unisma) mendatangi satu persatu, mulai PR 1, PR 2, PR 3 dan Rektor tentunya.

Di PR 1 kami menyampaikan permohonan maaf dan meralat apabila satpam tidak bersalah. Justru mereka kami ancam apabila mencoba halangi kami, panjang utusannya. Usai menjelaskan, kami mendapat jawaban kurang mengenakkan dari PR 1."Sebenarnya saya sudah menghubungi anak-anak Aremania Unisma untuk membubarkan aksi kalian, tapi saya cegat. Coba gak saya cegat gak tahu lagi kalian nasibnya," ungkap PR 1.

Sontak seketika amarah saya memuncak, tapi saya ingat nasib satpam yang dikambinghitamkan sama pihak kampus. Belum lagi beredar kabar aksi kami ditunggangi salah seorang alumni (tak usah saya sebut nama alumni yang ditudub tanpa bukti).

"Aksi kami murni menuntut pak rektor peka atas masalah. Tanpa ditunggangi dan by design," jelas saya ke PR 1, tapi penjelasan saya tidak digubris dan diminta tidak aksi lagi sembari mengancam untuk kedua kalinya.

Kemudian saya berlanjut menghadap PR 2. Hal sama saya sampaikan bahwa aksi kami murni demi martabat dan menuntut pelecehan yang dilakukan Bhatoegana telah menyulut-menyakiti warga NU. PR 2 memahami tersebut dan sejatinya sepakat dengan aksi kami, ia pun meminta agar lebih bijak lagi menyikapi suatu masalah.

Saat menghadap PR 3, kami juga dikasih wejangan. Ia menceritakan jika dibalik aksi PMII, ada HMI yang sukacita menyambutnya, karena Unisma kampus NU, kampus pergerakan, kog bisa didemo sendiri. Sama halnya ini anak demo orang tua.

Usai menghadap ketiga pimpinan, terakhir saya menghadap Rektor. Belum bersalaman, saya disemprot langsung. "Masih mengakui saya rektor kamu" ungkap rektor dengan wajah sinis.

Saya dan Imam kemudian menjabat tangannya dan mengklarifikasi. Mengingat isu yang berkembang aksi kami ditunggangi alumni.

"Tak ada yang menunggangi kami pak, demi Allah," saya berusaha meyakinkan, tapi Rektor justru tak menggubrisnya dan menganggap aksi kami bagian dari upaya menggulingkannya.

"Jika  saya diminta mundur sama yayasan, saya akan mundur," ungkap dia mengulang kata-katanya saat berdialog dua hari sebelumnya atau 26 November 2012.

Usai diceramahi saya dan presiden memohon diri dan sekali lagi menegaskan aksi kami murni bentuk hormat dan takdim ke Gus Dur. Siapa yang menyakiti, melecehkan Gus Dur kami di garda terdepan.

Sudah 5 tahun lalu cerita ini dan baru saya tulis sembari mengingat kenangan sejarah yang tidak akan pernah saya dan sahabat-sahabat lupakan. Saya sengaja menuangkan dalam tulisan setelah melihat foto-foto aksi kami dulu.

Dari beberapa foto yang di upload sahabat Hasbul dan Zainal, saya pun berinisiatif menulisnya. Hitung-hitung ini bagian dari sejarah, boleh dianggap sejarah kelam, dan boleh juga dianggap sejarah positif.

Karena keterbatasan daya ingat saya, tentunya cerita dalam tulisan ini tidak sesempurna, tapi yakinilah cerita ini benar adanya. Saksi hidup semuanya masih diberi kesehatan dan sehat wal afiat sampai sekarang. Di antaranya segenap pengurus PMII Komisariat, rayon dan sebagian kader Unisma, Presiden dan wakil Presiden Unisma, Rektor Surahmat beserta jajarannya, satpam kampus serta aksi ini ter-abadikan dalam beberapa media nasional dan lokal.

Berikut link berita aksi kami: http://nasional.kompas.com/read/2012/11/26/12465398/Lecehkan.Gus.Dur.Sutan.Bhatoegana.Didemo

Beberapa waktu lalu, Sutan Bhatoegana dikabarkan menderita penyakit Liver dan kini menjalani peratawan di rumag sakit. Tapi, sesuai pesan Gus Dur, jangan pendendam dan berilah maaf, tapi jangan lupakan perbuatannya.

Malang 01 November 2016

01.59 WIB

Mengenang Masa Jadi Aktivis Katrok



Lahir dari keluarga sederhana tidak menutup ruang gerak mengekpresikan kemauan diri. Bapak-ibu hanyalah seorang petani dan tahunya hanya bertani, ibadah dan menjalin persaudaraan di kampung.

Tak pernah sejak kecil diajarkan jadi pemberontak, sok kritis dan berani bersuara saat ada kebatilan dan ketidakadilan terjadi. Hanya, diminta rajin belajar, mengaji dan sopan terhadap orang lain.

Masa kecil diisi dengan kenakalan mungkin hal wajar, karena di masa tua akan capek dengan sendirinya 'istilah orang dulu demikian'.

Semasa mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas (dihabiskan di pondok), tidak membuat hati tertarik berorganisasi. Saat itu hanya aktif di organisasi tingkat kecamatan, itupun terpaksa ikut karena diwajibkan.

Menginjakkan kaki di Kota Malang, tepatnya 8 tahun silam atau 2008 jelang akhir tahun. Pertama berada di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan, daerah dengan cuaca cukup dingin dan pastinya dikenal sebagai pusat wisata.

Suatu kebanggaan bisa diizinkan menempuh kuliah di daerah orang, bekennya "Merantau". Maklum, meski anak satu-satunya bukan lantas anak 'Mama'. Sedari kecil sudah merasakan susahnya hidup dan berjuang untuk sesuap nasi.

Tekad pun bulat, membahagiakan kedua orang tua. Lulus kuliah-kerja-nikah-pulang kampung. Demikian harapan kali pertama sampai di Kota Malang. Singkat kata, dimulailah kuliah yang bisa disebut membosankan.

Bagaimana tidak, dosen-dosen yang baik memberikan mata kuliah yang belum pernah didapat sebelumnya. Buntu-pusing-tak mengerti apapun. Entah saya yang lemot dalam menerima pelajaran, atau cara penyajian pelajaran yang super tertinggal. Hal itu terus dihadapi mulai semester 1 hingga semester 7.

Paham dengan kemampuan dan keterampilan pribadi yang tidak sempurna, saya pun memutuskan berorganisasi-menjadi aktivis kampus. Begitulah nama kerennya. Aktivis dulu bisa dibilang disegani dan benar-benar lantang bersuara. Mendapat tempat dan memiliki derajat lebih baik ketimbang mahasiswa lainnya.

Aksi jalanan layaknya mata kuliah 8 SKS. Mana berani melewatkan aksi meski sudah bolak balik diwarning sama dosen. Maklum saja, sudah bolos beberapa kali. Namun, saya mensiasati dengan mengetahui batasan maksimal absensi, sehingga selalu lolos dari jebakan batman.

Absensi tolok ukur penilaian dosen, biar nilainya tidak jelek-jelek amat, saya buat setiap mata kuliah ada 2 sampai 3 tanda (A). Itu belum termasuk izin (I) dan sakit (S), meski semuanya fiktif.

Beralasan izin karena ikut pelatihan, alasan sakit karena turun jalan. Itu dilakukan karena jatah bolos sudah habis. (Jangan dicontoh)

Selama berorganisasi, saya menyadari begitu banyak pengetahuan, pengalaman, teman-sahabat baru, aksi koplak, bahkan bertingkah laku di luar batas pun pernah dilalui.

Poin tambahannya, sejak menjadi 'sok aktivis' saya pun mulai dikenalkan dengan namanya pacaran (pastinya sama perempuan). Jangan heran, sekalipun tak ganteng-ganteng amat, tapi menjadi mahasiswa plus (istilah bagi mahasiswa berorganisasi yg pernah didengar kali pertama) memiliki nilai lebih untuk memikat perempuan.

Iya, perempuan yang saya taksir sejak Ospek hingga semester 5 akhirnya menerima dengan ihlas "semoga tidak salah". Meski sempat ditolak beberapa kali.

Namun, sosok pacar tidak menggoyahkan komitmen untuk terus berorganisasi. Tapi, tidak dipungkiri, hadirnya perempuan (saat itu) cukup mengganggu. Misal ya, mau aksi, diskusi dan kegiatan lainnya saja harus laporan, belum lagi dicuekin jika balas sms nya telat (dulu belum ada BBM dan WA) hanya bisa SMS (itupun cari kartu yang per SMS murah).

Menjadi aktivis sebenarnya karena panggilan hati. Untuk menjadi aktivis haruslah berorganisasi, karena dalam berorganisasi bisa dengan mudah menyuarakan ketidakadilan, turun jalan disertai dialog ilmiah tiada henti.

Aktivis yang menjabat sebagai Ketua BEM jika di intra, dan Ketua organisasi tingkat fakultas dan universitas jika di ekstra, saya kira hanyalah bonus. Bukan tujuan awal masuk di organisasi-aktivis.

Dulu, orang-orang yang mengisi jabatan-jabatan tersebut adalah orang-orang super duper (memiliki kualitas). Wajar, bila yang tak pintar dan gak aktivis banget ciut lebih dulu nyalinya.

Bandingkan dengan sekarang, tak sedikit dan bisa dibilang hampir semua mahasiswa yang berorganisasi-aktivis memiliki niat berkuasa (berebut kekuasaan). Tanpa mereka membekali diri dengan perbaikan kualitas dan kemampuan.

Tak terdengar lagi (merosot) suara-suara mahasiswa di jalanan, di kampus yang dulunya hampir dilakukan tak terhitung berapa kali.

Aktivis, jika boleh dibilang, terdampak syndrom pacaran-kebutuhan biologis. Meletakkan kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentingan khalayak. (Fakta yang saya lihat sejauh ini), jika salah silahkan diralat.

Uniknya, seiring bergesernya paradigma dan cara pandang aktivis berpengaruh pada kualitas seorang aktivis. Jarang terlihat diskusi-diskusi kecil sekelompok mahasiswa di sekretariat, kampus, tempat ngopi. Kalau pun ada itu semata-mata menggugurkan kewajiban program kerja.

Prihatin memang, tapi ini era mereka. Era mahasiswa modern yang serba digital. Tak perlu repot-repot ngeprint undangan diskusi, cukup BBM dan WA broadcast.

Menjadikan warung kopi tempat main poker dan catur serta menyibukkan diri dengan gawai (istilah lain dari gadget). Sibuk refleksi hari Sumpah Pemuda dan hari-hari lainnya.

Tidak pernah muncul isu strategis yang menjadi bahan fokus selama bersuara di jalanan. Aksi baru digeber manakala BBM naik, ada pejabat koruptor dan terlibat suap.

Saya lantas berfikir, kondisi sekarang tidak terlepas dari dosa-dosa aktivis pendahulunya. Meninggalkan sejarah dan buaian yang terlalu berlebihan. Larut dalam sejarah aktivis dulu sehingga lupa arah dan menjadikan sejarah tersebut panutan. Bukan mengekspresikan sesuatu menyesuaikan zamannya.

Pesimis, tidak saya kira. Masih ada segelintir aktivis-pegiat organisasi yang benar-benar mulia, tapi wujud mereka kalah dengan hiruk pikuk mahasiswa yang sok aktivis katrok.

Aktivis mahasiswa tertinggal dari aktivis buruh, NGO dan aktivis lainnya. Gerakan mereka, saya kira, lebih massif dan jelas yang disuarakan.

Malang, 31 Oktober

Kopi Lanang

Pemuda Bertani itu Keren!!




"Yang muda yang bertani. Pemuda harapan pertanian masa depan"

Tidak hanya pesatnya kemajuan teknologi, tapi cara pandang masyarakat pun mulai bergeser di abad ke-21.

Dua puluh dua tahun lalu, seorang anak berusia empat tahun terbangun saat tahu orang tuanya bergegas berangkat ke sawah. Anak itu pun beranjak dari atas kasur-mencuci muka, lalu ikut ke sawah.

Pelan tapi pasti, langkah kaki seakan sudah biasa menyusuri jalan setapak sekali pun belum terluhat sinar matahari. Tak ada rasa khawatir dan takut, justru sebaliknya membayangkan kesenangan berada di tengah hamparan lahan pertanian.



Sudah menjadi pemandangan lumrah di desa anak-anak ikut orang tuanya ke sawah. Bahkan, bermain bola pun di pematang sawah yang belum atau sudah selesai digarap. Pemandangan tersebut di era modern ini sulit ditemui, bahkan bisa dibilang sudah tidak ada.

Bagi saya, beruntung lahir dan besar dari desa. Sampai sekarang masih bisa menikmati hijaunya padi saat musim hujan dan senang rasanya melihat daun-daun tembakau menari-nari saat terhempas angin di musim kemarau.

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit anak petani yang mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi, sehingga orang tuanya berharap nasib anaknya lebih baik.

"Kamu sekolah dan kuliah supaya jadi orang kantoran dan sukses," begitu kira-kira yang sering terdengar.

Lantas, apakah jadi petani tidak sukses. Jadi orang kantoran apa bisa dibilang sukses? Pertanyaan ini sampai sekarang belum terjawab.

Padahal, berkat hasil pertanian anak-anak desa bisa duduk sejajar dengan anak-anak golongan menengah ke atas. Berkat jerih payah orang tuanya bertani, anak-anak petani bisa merantau ke kota.

Namun, tidak banyak anak petani yang selesai kuliah memilih pulang kampung dan meneruskan usaha tani orang tuanya.

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Sudah tidak lagi mencekoki pemuda akan tanggung jawab masa depan bangsa.

Sudah saatnya, peringatan Sumpah Pemuda digaungkan slogan "Pemuda Bertani, Sukses".

Penting memang merefleksikan makna Hari Sumpah Pemuda, tapi menurut hemat saya pemuda bertani adalah upaya mempertahankan dan melanjutkan   pertanian.

Bayangkan apabila semua pemuda enggan bersetuhan dan berperan aktif di sektor pertanian. Bayangkan bila semua petani-petani mendahului kita, apa harus semua lahan pertanian dialihfungsikan.

Bagaimana anak cucu kelak mau makan sesuap nasi, sedangkan berasnya harus impor. Bagaimana anak cucu kelak, jika lahan pertaniannya disulap jadi ruko dan perumahan.

Tidak sedikit petani yang sukses dan penghasilannya melebihi PNS, Bupati/Wali kota hingga pejabat selevel menteri hingga presiden.

Presiden dan jajarannya saja masih berpangku dan bergantung pada hasil pertanian.

Pribadi sepakat jika pemerintah mencetuskan program yang bisa memacu sektor pertanian. Masalahnya, sudah lebih setengah abad Indonesia merdeka, para petani belum juga sejahtera.

Harga jual hasil pertanian saja ditentukan tengkulak, bukan dari petani atau mengacu harga yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut bukti petani belum jadi tuan di tanah kelahirannya. Belum lagi bicara soal regulasi, penyaluran pupuk dan reforma agraria.

Tidak salah dan berdosa jika lulusan perguruan tinggi memilih bertani. Memilih melupakan bekerja sebagai kantoran, eksekutif muda dan berharp duduk di kursi empuk senayan dan gedung pencakar langit.

Malang,28 Oktober 2016

Meneladani Kegigihan Perjuangan 77 Buruh


Ratusan ribu buruh dipastikan turun jalan memperingati Hari Buruh pada 1 Mei, besok. Tuntutan penerapan upah layak, jaminan sosial dan hapus sistem kontrak tetap menjadi isu utama kaum buruh.

Hal senada disuarakan 77 orang mantan buruh PT Indonesia Tobacco Malang. Korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak oleh perusahaan ini tak hentinya berjuang menagih haknya yang belum dibayarkan hingga kini.

Sudah dua tahun, 77 mantan buruh ini berjuang mendapatkan haknya, seperti uang pesangon dan Jaminan Hari Tua (JHT). Perusahaan masih punya tanggungan sebesar Rp2,7 miliar untuk pesangon dan JHT sebesar Rp400 juta, belum lagi gaji empat bulan yang belum dibayar.

Koordinator mantan buruh PT Indonesia Tobacco Purwanto meminta perusahaan segera melunasi hak-hak buruh. Sejak di PHK secara sepihak 2014 lalu hingga sekarang, masalah dengan perusahaan tak kunjung selesai.

“Kami sudah capek, dua tahun berjuang tak kunjung ada sinyal dari perusahaan. Kami hanya meminta hak yang belum dibayar perusahaan,” kata dia ketika ditemui Metrotvnews.com di kediamannya, Jumat (29/4/2016).


Bapak tiga anak ini menceritakan asal muasal masalahnya. Di mana, 77 buruh di PHK karena dianggap sebagai provokator saat sekitar 250 karyawan PT Indonesia Tobacco menggelar aksi mogok kerja.

Aksi digelar, kata dia, sebagai bentuk solidaritas terhadap buruh lain yang tidak mendapat uang lembur sebagaimana kesepakatan dan ketentuan peraturan soal ketenagakerjaan.

Di saat itu, sebagian buruh bekerja lembur, karena tidak ada kejelasan soal upah, lantas buruh mengadu pada organsisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Kemudian organisasi bersama buruh lain bermaksud menanyakan kepada pimpinan. Namun, upaya klarifikasi tersebut gagal, sebab pimpinan perusahaan sedang keluar kota.

Kemudian manajemen memanggil 12 orang buruh, mereka dituduh sebagai provokasi. Belasan buruh ini diadu domba dengan pengurus serikat, sehingga sempat ada ketidakpercayaan kepada SPSI. Sebelum di PHK, dua orang dari 12 buruh mendapat perlakuan kurang manusiawi, yakni disekap dan disuruh berdiri di depan pabrik mulai siang hingga sore.

“Esoknya kami pun melakukan aksi mogok kerja. Tuntutan kami minta semua buruh di PHK, hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan Disnaker Kota Malang dan pengurus DPC SPSI, tapi pertemuan itu belum ada titik temu. Sebelum-sebelumnya, jika adalah masalah, perusahaan dan buruh selalu duduk bersama dan diselesaikan secara kekeluargaan. Semenjak ada pergantian pimpinan perusahaan, semuanya berubah,” ungkap dia.

Menurutnya, buruh yang aksi mogok diminta pulang oleh perusahaan. Saat itu, perusahaan mengaku siap membayar upah. Akan tetapi, sampai sekarang janji tersebut tak kunjung ditepati. Pasca aksi tersebut, para buruh tetap masuk seperti biasa sampai dua minggu ke depan.

Ia kemudian diturunkan jabatannya dan dimutasi sebagai karyawan biasa.

”Sempat saya Tanya ke manajemen, kenapa saya dimutasi? apa gara-gara ikut demo. Ini untuk keperluan perusahaan,” kata dia menirukan jawaban pihak manajemen.

Tidak berhenti di sana, ia bersama 76 buruh lainnya mendapat panggilan dari perusahaan. Pertemuan dilangsungkan di ruang atas dan dijaga ketat pihak satpam. Dalam pertemuan tersebut perusahaan meminta para buruh agar mengundurkan diri karena dianggap sebagai provokasi.

”Kami disuruh tanda tangan surat pengunduran diri, tapi kami menolaknya. Perusahaan mengancam akan membawa ke Pengadilan Hubungan Industri (PHI), kami tetap menolak menandatangani suratnya,” ungkap pria yang sudah bekerja di PT Indonesia Tobacco sejak tahun 1999 itu.

Esoknya, ia bersama buruh lain masuk kerja seperti biasa. Namun, sesampainya di depan pabrik, pihak satpam mencoba menghalangi. Ternyata foto dan nama ke-77 buruh sudah ditempel di pos satpam dan intruksi manajemen ke-77 buruh tersebut tidak diperbolehkan masuk kerja.

Karena penasaran, Purwanto dengan buruh lain meminta waktu bertemu dengan HRD perusahaan. Sayang, upayanya tidak berhasil.”Tujuannya minta kejelasan, kami diliburkan apa di PHK, tapi manajemen tidak dapat ditemui. Besoknya dapat kabar jika kami diliburkan sampai proses di PHI selesai,” ungkap dia lebih lanjut.

Surat dari perusahaan kemudian diserahkan ke pengurus DPC SPSI Kota Malang. Proses di PHI pun berlanjut. Tepatnya pada 24 Desember 2014, PHI memenangkan pihak buruh dan meminta perusahaan membayarkan uang pesangon dan JHT serta upah empat belum yang belum dibayar.  Namun, satu tahun pasca putusan PHI, perusahaan tak kunjung membayarkan hak buruh.

“Kami menanyakan kapan pesangon dapat diterima. Sama orang SPSI suruh nunggu. Tidak habis pikirnya, saat mau lihat hasil putusan PHI, kami disuruh bayar Rp24 juta. Alasannya biaya pengambilan hasil putusan,” jelas dia.

Di saat bersamaan, para buruh mendapat surat dari Pengadilan Negeri Kota Malang. Ternyata pihak perusahaan melaporkan ke pengadilan dan menuntut ganti rugi sebesar Rp2,3 miliar.”Pengajuan dari perusahaan ditolak oleh pengadilan. Sejak saat itu kami didampingi Malang Corruption Watch (MCW), kuasa ke SPSI kami cabut karena kami tidak percaya lagi usai diminta uang,” ungkapnya.

Tidak berselang lama, Ketua Pengurus Unit Kerja (PUK) SPSI di PT Indonesia Tobacco, Syaiful dan Bendaharanya Li’ayati dilaporkan ke Polres Malang Kota oleh perusahaan, dengan tuduhan penyelewengan dana organisasi sebesar Rp20,460 selama periode 2011-2014.

Setiap bulan serikat mendapatkan anggaran Rp660 ribu dari perusahaan. Uang tersebut sama perusahaan diberikan sebagai uang jamu bagi pengurus. Faktanya, uang itu benar digunakan untuk operasional, transportasi dan konsumsi pengurus selama rapat dan mengurus masalah buruh.

Syaiful dan Li’ayati ditetapkan tersangka oleh kepolisian. Keduanya pun ditahan sejak 9 Februari 2016. Dalam persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut satu tahun kurungan penjara kepada keduanya.

“Rabu depan pembacaan vonis bagi mas Syaiful dan Li’ayati. Kami tegaskan, jika uangnya tidak diselewengkan, tetapi murni untuk kegiatan organisasi. Ini hanya akal-akalan perusahaan,” katanya.

Buruh lain, Rossi mengaku selama menghadapi masalah ini para buruh korban PHK bertekad keras dan semakin solid dalam memperjuangkan haknya. Jika di rinci, setiap buruh berhak atas pesangon kisaran Rp20 juta-Rp25 juta dan JHT kisaran Rp8 juta-Rp11 juta. Tergantung masa kerja di perusahaan. Sedangkan dana yang dikelola Jamsostek (sekarang berganti BPJS Ketenagakerjaan) sudah diterima pasca surat PHK keluar dari perusahaan, yakni kisaran Rp7 juta.

“Teman-teman yang di PHK sekarang kerjanya serabutan, ada yang kuli bangunan hingga pembantu rumah tangga. Kami sudah mengadu pada Pemkot Malang dan DPRD, tapi hanya janji-janji yang kami dapat. Buktinya, dua tahun masalah ini tak kunjung selesai,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Bertepatan dengan Hari Buruh, Ia bersama ke-76 buruh lain berharap masalah seperti ini cukup terjadi sekali, jangan sampai terjadi pada buruh lainnya. Pihaknya mendesak pemerintah tegas pada perusahaan yang jelas-jelas melakukan pelanggaran. Baik mencabut izinnya perusahaan hingga melarang beroperasi.

Hal ini, tambah dia, sebagai efek jera bagi perusahaan supaya tidak sewenang-wenang melakukan penzaliman terhadap karyawannya.

”Jangan sampai buruh lain merasakan penderitaan kami. Dua tahun lamanya kami berjuang. Namun, kami tidak putus asa sampai di sini, kami rakyat, tapi kami tidak sedang dalam posisi salah,” paparnya.

**tulisan 77 buruh eks PT Tobacco ini sudah dimuat di Metrotvnews.com pada tanggal 30 April 2016
Belajar Ilmu Perbankan “Menguras Tenaga”, Tapi Bermanfaat

Belajar Ilmu Perbankan “Menguras Tenaga”, Tapi Bermanfaat



Selama ini saya tidak terlalu banyak menulis dan meliput soal lembaga keuangan dan perbankan. Selain belum pernah ditempatkan di pos tersebut, juga tidak ada ketertarikan sedikitpun. Kalau pun liputan karena kebutuhan atau penugasan kantor. Itu pun soal kegiatan seremonial seperti Bank A sedang menyalurkan Coorporate Social Responsibility (CSR) nya ke sekolah atau ke warga.
Namun, Banking Journalist Workshop (BJW) selama dua hari, mulai Jumat-Sabtu (14-15 Oktober) di Surabaya, diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan PermataBank dan didukung Kedutaaan Australia, memotivasi saya untuk lebih dalam menyelami liputan ekonomi.
Selain istilah perbankan, saya juga mendapat banyak pengetahuan baru. Salah satunya perbedaan antara giro, tabungan dan deposito beserta aturan main di perbankan. Banyaknya bank di Indonesia menjadikan persaingan antar perbankan lebih kompetitif. Mereka pun menawarkan pelayanan dan promosi ‘gila-gilaan’ untuk memikat nasabah.
Karena, selain modal perbankan dan sang investor, juga disumbang dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam hal ini nasabah. Bahkan, fungsi perbankan tidak hanya simpan pinjam, melainkan sudah merambah ke bisnis dan usaha lain, seperti menggandeng pihak ketiga dalam menghasilkan pemasukan.
Yang lebih wah lagi yakni pengetahuan baru soal kondisi ekonomi global, kebetulan panyelenggara menghadirkan Shaun Antony, salah satu pakar atau punya kompetensi soal ekonomi. Mulai kondisi ekonomi Indonesia dan negara berkembang lainnya sampai kondisi ekonomi India, China dan Amerika.
Sayang, karena keterbatasan saya dalam bahasa Inggris, saya pun tidak maksimal mencerna materi yang sangat bagus tersebut, sekalipun ada penerjemahnya.Materi yang disampaikan pihak PermataBank juga tidak kalah menarik.
Intinya, isu perbankan tidak mulu-mulu soal keuntungan, besaran modal dan program yang digulirkan, tapi masih banyak hal yang bisa ditulis dari berbagai sudut. Namun, disadari atau tidak, isu perbankan sangat sensitif. Misal, ada pemberitaan soal Bank X mengalami rugi atau bangkrut lantaran kredit macet dan masalah lain. Otomatis nasabah yang mempercayakan uangnya disimpan di Bank X akan ramai-ramai menarik uangnya.
“Makanya kontrol dari regulator sangat ketat dan rutin. Kalaupun ada Bank yang kategori zona merah, pasti tidak diumumkan ke publik, karena sangat sensitif dan dampaknya jelas terasa,” ungkap salah satu narsum dari pihak PermataBank.
Selanjutnya, materi yang dirasa lebih ringan sama teman-teman yakni saat bang Hasudunang Sirait. Sekalipun ada tiga sesi, teman-teman dari 14 daerah ini terlihat lebih santai dibanding materi yang diberikan dari PermataBank dan Shaun Antony. Bukan pilih kasih, tapi otak kita tidak sampai dan awam soal perbankan.
Semua peserta dipandu membuat TOR atau outline liputan. Maklum, selama jadi jurnalis saya belum pernah mendapat materi berharga ini dari kantor tempat saya kerja, meski empat media sudah saya rasakan.
Bisa dibilang, buat TOR dan Outline susah-susah gampang. Selain belum pernah dan belum terbiasa, juga butuh kejelian dalam menyusunnya.
Usai mendapat teori dan diajak praktek langsung, saya dan 23 peserta lainnya ditugasi menyusun TOR individu. “Padahal tadi dipandu sama Bang Has enak dan terlihat mudah, pas praktek sendiri kog bingung ya,” kata Dedi, reporter MNC wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Hal itu tidak hanya dialami Dedi, saya dan teman-teman lainnya pun merasakan hal sama, kecuali yang sudah biasa membuat TOR liputan.
Dua hari memang terbilang singkat untuk memahami keseluruhan perbankan dan isu ekonomi. Toh sebelumnya, Bank Journalist Academy (BJA) yang dilangsungkan di Jakarta berlangsung 3 bulan, tapi di Surabaya hanya berjalan dua hari.
Uniknya lagi, yang ikut BJW ini mayoritas tidak memiliki dasar ilmu ekonomi dan pengalaman liputan ekonomi. Ada yang setiap hari lebih banyak di pos politik, kriminal, pemerintahan, pendidikan dan olah raga. Saya sendiri malah lebih parah, wilayah liputannya lebih global.
Dari semua peserta kini berharap masuk lima terbaik dalam usulan liputan perbankan, sehingga bisa berlanjut menjalankan usulan liputannya.

Malang,16 Oktober @Kopi Lanang