Gus Dur tak Butuh Dibela dan Tatapan Tajam Pak Rektor


"Gus Dur tidak mengajarkan kita untuk tidak memaafkan, tapi tidak lupa atas perilaku orang yang mendzaliminya"

Begitu kira-kira untaian yang tertanam sampai sekarang. Gus Dur mengajarkan kami untuk selalu memaafkan perbuatan orang yang dzalim, tapi tidak pernah lupa akan perbuatannya.

Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan tokoh yang paling saya kagumi. Mantan Presiden ke-4 ini mengajarkan banyak hal dalam kehidupan saya.

Cucu pendiri NU yang juga pernah memimpin PBNU ini tokoh ulama sekaligus bapak bangsa yang patut diteladani.

Meski belum pernah bertatap muka dan ngobrol serta menimba ilmu langsung dari beliau. Sepak terjang dan keilmuannya sudah cukup menjadikan saya mengagumi dan takdim.

Jauh dari itu, usai Gus Dur wafat 30 Desember 2009, masyarakat seakan kehilangan sosok panutan dan ulama kharismatik. Gus Dur tidak hanya dicintai kaum Nahdliyin, tapi juga pemeluk agama lain kehilangan sosoknya.

Ya, Gus dur adalah tokoh panutan semua umat. Ia kerap membela kaum minoritas dan selalu menjunjung tinggi yang namanya toleransi dan pluralisme. Kendati keputusannya dipertanyakan oleh sebagian kalangan yang tak sepakat dengan keputusan almarhum.

Singkat kata, sekalipun Gus Dur sudah wafat, masih saja ada orang yang memfitnah dengan menyebar informasi tidak jelas, yakni menyebut alasan dibalik lengsernya suami Sinta Nuriyah Wahid dari jabatan Presiden. Bahkan, saat Gus Dur digulingkan, jutaan warga Nahdliyin bersiap datang ke Istana, tapi dengan santai Gus Dur meminta pengikutnya sabar dan urungkan niat. Begitulah Gus Dur, tanpa panjang lebar saya ceritakan, sudah menjadi rahasia umum sosok Gus Dur.

Namun, hati warga NU, terlebih saya dan sahabat PMII Unisma perih-sakit, tercabik-cabik saat mengetahui salah satu anggota DPR RI, Sutan Bhatoegana menyebut pemerintahan Gus Dur dilengserkan karena skandal korupsi Bulog dan Brunei-gate.

Jika dibilang, amarah memuncak, ingin rasanya menghajar dan menyobek mulut dewan tersebut. Saya tahu pernyataan itu setelah membaca berita di harian Kompas, Bhatoegana menyampaikan tuduhan tanpa dasar itu dalam dialog kenegaraan bertema "Pembubaran BP Migas untuk Kemakmuran Rakyat" Rabu, 21 November 2012.

Dua hari setelah pernyataan muncul, saya pun mengumpulkan semua pengurus dan ketua rayon PMII se Unisma, kalau tidak salah tanggal 23 November. Mengundang mas Ubaidillah Al Basith sebagai narasumber dalam diskusi di Bima Sakti 1A (Sekretariat Komisariat PMII Unisma).

Kesimpulannya, pernyataan Bhatoegana jelas salah dan menyakiti hati rakyat. Tidak pantas seorang pejabat membuat pernyataan tanpa dasar, apalagi yang difitnah sudah wafat. Kami pun memutuskan turun jalan, tepat tanggal 25 November malam, kami kembali rapat bersama pengurus, ketua rayon dan pengurusnya serta kader dan anggota PMII. Jika tidak salah ingat saat itu lebih 50 orang datang di malam persiapan aksi.

Seperti biasanya, sebelum aksi kami mematangkan dengan diskusi serta poin-poin yang akan diusung. Usai menyiapkan keperluan aksi, saya pun (kebetulan dipercaya menjadi Ketua PMII Komisariat Unisma) mengajak rembuk 9 ketua rayon.

"Bagaimana jika besok kita mengajak semua mahasiswa Unisma untuk aksi," tawar saya ke ketua rayon. Tawaran tersebut disambut baik, tentunya apabila semua mahasiswa ikut lebih massif aksinya.

Namun, bagaimana untuk mengajak semua mahasiswa, sedangkan tidak semua kader dan anggota PMII," tanya salah satu ketua rayon.

Sejenak saya berfikir dan kembali menawarkan ke nahkoda 9 rayon ini."Gimana kalau kita minta support rektorat agar mengimbau mahasiswa untuk turun jalan, karena berkat Gus Dur Unisma maju pesat dulunya. Apalagi kampus Unisma adalah kampus NU," usul saya di forum kecil itu.

Mereka pun sepakat."Apabila kampus tidak mendukung, kita sabotase kampus dan menuntut rektor ambil sikap," usul saya lebih lanjut," hal ini direspon positif, tapi sebagai plan B. Plan A tetap tujuan aksi di depan gedung DPRD (dulu DPRD sementara berkantor di Bakorwil Malang), karena kantor DPRD yang bersebelahan dengan Balai Kota dalam tahap renovasi.

"Oke, kita kumpul jam 09.00 di kampus, depan kantor FKIP," imbau saya. Esoknya kami pun telah siap melangsungkan aksi, kami sengaja sewa becak untuk mengangkut sound system, karena kalau hanya megaphone kami rasa kurang greget.

Saat kader-kader PMII berkumpul di depan Kantor FKIP, tanggal 26 November 2012. Saya dan presiden kampus, Imam Syafii menghadap rektor (saat itu dijabat Surahmat). Kami pun menyampaikan akan aksi dan mohon support rektorat. Pak rektor menyambut baik langkah kami, tapi dia tidak mau mengeluarkan imbauan atau meliburkan mahasiswanya. Dengan alasan tidak mau membenturkan instansi dengan perseorangan (maklum Bhatoegana masih aktif sebagai anggota DPR RI).

Mendapat jawaban tidak sesuai harapan, kami pun pamit dan saat itu pak rektor memberi uang Rp100 ribu yang diterima langsung Presiden Unisma."Ini buat beli air minum teman-teman, hati-hati dan yang tertib aksinya," begitu kira-kira pesannya.

Saya pun bergegas meninggalkan ruang rektorat dan menyampaikan kepada sahabat-sahabat, jika rektor tidak mengabulkan tuntutan kami. Spontan plan B kami lakukan, kami aksi di depan gedung rektorat. Menuntut rektor agar mengabulkan tuntutan kami. Kami pun berorasi dan minta pak rektor menemui kami. Karena tak kunjung ditemui, saya dengan tegas menyatakan akan membakar ban serta jangan salahkan bila kami anarkis nantinya. Pastinya pernyataan tersebut saya sampaikan menggunakan sound system yang sudah disiapkan sejak awal.

Belum selesai saya orasi, saya dan Presiden Unisma dipanggil, diminta menemui rektor. Saya pun menuruti. Kaget saat masuk ruang dekat lobi penerimaan mahasiswa baru. Di sana sudah duduk pak rektor, PR 1 Badat Muwakhid, PR 2 Agus Sugianto (mantan Dekan saya di Pertanian), Humas Unisma dan dosen Hukum yang juga tangan kanan pak rektor. Tak berselang lama PR 3 Maskuri Bakri (kini menjabat Rektor Unisma) ikut bergabung.

Saat bersamaan, tiga gerbang pintu keluar-masuk Unisma (dua di depan kampus, satu di depan Masjid Ainul Yaqin) sebelumnya sudah kami kunci rapat-rapat. Kuncinya saya bawa, tak ada upaya larangan dari satpam, karena saat itu saya ancam jika sampai menghalang-halangi akibatnya fatal. (Sebenarnya kami kenal dan akrab sama semua satpam kampus).

PR 3 marah besar akibat gerbang kampus di tutup, kendaraan roda empatnya terpaksa di parkir depan masjid dan ia jalan kaki ke dalam kampus.

Dalam ruangan tersebut saya diminta membubarkan demonstran dan rektor tetap kekeh dengan keputusannya, tidak mau meliburkan dan mengajak mahasiswa Unisma ikut demo. Saya pun dengan nada tinggi menyebut bahwa Unisma adalah kampus NU. Gus Dur dulunya punya andil besar terhadap Unisma. Aksi ini semata-mata bentuk kepedulian dan keprihatinan kami terhadap tokoh panutan yang difitnah oleh anggota dewan.

"Andai Gus Dur masih hidup, mungkin beliau tidak minta-mau dibela. Tapi, sekali lagi kami tegaskan, ini bentuk pendzaliman kepada Gus Dur, kami tidak mau tinggal diam," ungkap saya di hadapan pejabat teras Unisma.

Karena tak kunjung menghasilkan keputusan, saya pun meminta rektor ikut orasi, untuk mengajak mahasiswa turun aksi. Lagi-lagi tawaran kami ditolak. Rektor kemudian meminta PR 1 ikut keliling kampus untuk mengajak mahasiswa.

Usai pertemuan yang bisa dibilang membuat saya panas-dingin, rektor beserta bawahannya menemui pendemo di depan gedung. Belum sempat ia selesai menyampaikan "pidatonya". Dengan lantang saya menyuarakan "Kalau pak rektor tidak mau membela Gus dur, turunkan rektor dari jabatannya". Seketika saya ditatap tajam sama rektor yang saat itu mengenakan baju warna putih. Ucapan tersebut saya ulang hingga berkali-kali dan diamini sama sahabat-sahabat.(lihat foto lebih jelasnya).

Gagal mengajak mahasiswa Unisma turun aksi, kami pun berangkat ke kantor DPRD. Di sana sudah puluhan wartawan, cetak, online dan elektronik menunggu. Maklum, sekeras-lantangnya kami bersuara, tanpa adanya sahabat wartawan tak ada artinya. Karena fungsi utama pers adalah menyampaikan informasi seluas-luasnya.

Di depan gedung DPRD, kami menuntut Sutan Bhatoegana meminta maaf dan mundur dari jabatannya. Kami juga menuntut partai Demokrat memberikan sanksi tegas kepada Bhatoegana. Aksi kami diterima politisi Demokrat Kota Malang (seorang perempuan, saya lupa namanya). Aksi berjalan 1,5 jam lebih, sempat saling dorong dengan petugas, tapi tak sampai adu jotos. Kami memberikan 2x24 jam bagi Bhatoegana untuk meminta maaf. Kecaman dan tuntutan tersebut juga datang dari banyak kalangan-meminta Bhatoegana meminta maaf.

Usai menyampaikan tuntutan, kami pun bersama-sama membubarkan diri dengan tertib dan melangsungkan evaluasi di Komisariat. Menyusun strategi selanjutnya apabila tuntutan kami tak digubris.

Aksi kami ternyata masuk di TV swasta (TVOne). Saat itu sedang berlangsung dialog dengan Adi Massardi, mantan ajudan Gus Dur saat jadi Presiden. Adi pun meminta Bhatoegana meminta maaf kepada warga Nahdliyin dan keluarga Gus Dur. Alhamdulillah, tuntutan kami berbuah hasil, esok harinya Bhatoegana mendatangi kediaman istri almarhum dan menyampaikan permintaan maafnya.

Namun, apa yang kami lakukan (demo menuntut rektor) ternyata berbuntut panjang. Dua hari setelah aksi, saya menyempatkan ke kampus, tapi sesampainya di gerbang, saya dicegat sama pak Agus (kepala satpam kampus). Ia mengaku dimarahi habis-habisan sama pihak rektorat, karena saat kami aksi dituduh tidak berbuat apa-apa. Saya pun diminta menandatangi surat pernyataan tidak akan aksi lagi di dalam kampus.

Dengan terpaksa saya menandatangi surat tersebut. Dengan harapan hubungan baik PMII-satpam kembali terjalin.

Dengan menaruh ego dan idealisme saya, saya dan Imam Syafii (Presiden Unisma) mendatangi satu persatu, mulai PR 1, PR 2, PR 3 dan Rektor tentunya.

Di PR 1 kami menyampaikan permohonan maaf dan meralat apabila satpam tidak bersalah. Justru mereka kami ancam apabila mencoba halangi kami, panjang utusannya. Usai menjelaskan, kami mendapat jawaban kurang mengenakkan dari PR 1."Sebenarnya saya sudah menghubungi anak-anak Aremania Unisma untuk membubarkan aksi kalian, tapi saya cegat. Coba gak saya cegat gak tahu lagi kalian nasibnya," ungkap PR 1.

Sontak seketika amarah saya memuncak, tapi saya ingat nasib satpam yang dikambinghitamkan sama pihak kampus. Belum lagi beredar kabar aksi kami ditunggangi salah seorang alumni (tak usah saya sebut nama alumni yang ditudub tanpa bukti).

"Aksi kami murni menuntut pak rektor peka atas masalah. Tanpa ditunggangi dan by design," jelas saya ke PR 1, tapi penjelasan saya tidak digubris dan diminta tidak aksi lagi sembari mengancam untuk kedua kalinya.

Kemudian saya berlanjut menghadap PR 2. Hal sama saya sampaikan bahwa aksi kami murni demi martabat dan menuntut pelecehan yang dilakukan Bhatoegana telah menyulut-menyakiti warga NU. PR 2 memahami tersebut dan sejatinya sepakat dengan aksi kami, ia pun meminta agar lebih bijak lagi menyikapi suatu masalah.

Saat menghadap PR 3, kami juga dikasih wejangan. Ia menceritakan jika dibalik aksi PMII, ada HMI yang sukacita menyambutnya, karena Unisma kampus NU, kampus pergerakan, kog bisa didemo sendiri. Sama halnya ini anak demo orang tua.

Usai menghadap ketiga pimpinan, terakhir saya menghadap Rektor. Belum bersalaman, saya disemprot langsung. "Masih mengakui saya rektor kamu" ungkap rektor dengan wajah sinis.

Saya dan Imam kemudian menjabat tangannya dan mengklarifikasi. Mengingat isu yang berkembang aksi kami ditunggangi alumni.

"Tak ada yang menunggangi kami pak, demi Allah," saya berusaha meyakinkan, tapi Rektor justru tak menggubrisnya dan menganggap aksi kami bagian dari upaya menggulingkannya.

"Jika  saya diminta mundur sama yayasan, saya akan mundur," ungkap dia mengulang kata-katanya saat berdialog dua hari sebelumnya atau 26 November 2012.

Usai diceramahi saya dan presiden memohon diri dan sekali lagi menegaskan aksi kami murni bentuk hormat dan takdim ke Gus Dur. Siapa yang menyakiti, melecehkan Gus Dur kami di garda terdepan.

Sudah 5 tahun lalu cerita ini dan baru saya tulis sembari mengingat kenangan sejarah yang tidak akan pernah saya dan sahabat-sahabat lupakan. Saya sengaja menuangkan dalam tulisan setelah melihat foto-foto aksi kami dulu.

Dari beberapa foto yang di upload sahabat Hasbul dan Zainal, saya pun berinisiatif menulisnya. Hitung-hitung ini bagian dari sejarah, boleh dianggap sejarah kelam, dan boleh juga dianggap sejarah positif.

Karena keterbatasan daya ingat saya, tentunya cerita dalam tulisan ini tidak sesempurna, tapi yakinilah cerita ini benar adanya. Saksi hidup semuanya masih diberi kesehatan dan sehat wal afiat sampai sekarang. Di antaranya segenap pengurus PMII Komisariat, rayon dan sebagian kader Unisma, Presiden dan wakil Presiden Unisma, Rektor Surahmat beserta jajarannya, satpam kampus serta aksi ini ter-abadikan dalam beberapa media nasional dan lokal.

Berikut link berita aksi kami: http://nasional.kompas.com/read/2012/11/26/12465398/Lecehkan.Gus.Dur.Sutan.Bhatoegana.Didemo

Beberapa waktu lalu, Sutan Bhatoegana dikabarkan menderita penyakit Liver dan kini menjalani peratawan di rumag sakit. Tapi, sesuai pesan Gus Dur, jangan pendendam dan berilah maaf, tapi jangan lupakan perbuatannya.

Malang 01 November 2016

01.59 WIB

Related Posts

Previous
Next Post »