Penjual Nasi Pecel dan Aksi 4 November


Aksi 4 November, hari ini, sudah menjadi buah bibir. Aksi yang disebut-sebut bagian dari protes dan menuntut Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama diproses secara hukum, itu sudah ramai sejak beberapa minggu lalu.

Bahkan, Presiden RI dan Wakilnya bolak balik nampang di layar televisi, meladeni berbagai pertanyaan dari awak media. Orang nomor 1 di Indonesia itu juga mendatangi kediaman rivalnya saat Pilpres lalu, Prabowo Subianto. Keduanya yang asyik berkuda menjadi headline hamper media, tak terkecuali viral di media social.

Tidak lain adalah membicarakan seputar kondisi dan stabilitas keamanan nasional, mengingat gejolak yang terjadi semakin membesar.

Tentu, aksi hari ini sampai ditelinga masyarakat, sekalipun mereka jarang bahkan tidak pernah melihat televisi maupun media lain. Ketok tular ternyata penyebab masyarakat mengerti adanya aksi 4 November.

“Bener opo ora besok ada demo. Demo opo maneh, lebih baik di rumah saja,” ungkap ibu penjual nasi pecel di perempatan Lahor, Kota Batu, Kamis (3/11).

Mungkin ibu tersebut tahu isu soal penistaan Alquran oleh Ahok, sapaan Gubernur DKI Jakarta itu. Tapi, bagi sebagian masyarakat tidak menutup kemungkinan aksi jalanan berdampak banyak hal.

Di antaranya kemacetan dan kerusakan (apabila massa pendemo brutal dan anarkis).

“Demonya di Jakarta, kalau di Batu ngapain ikutan, gak ada untungnya,” ungkap ibu penjual nasi pecel lebih lanjut.

Saya pun berfikir, selama ini aksi yang pernah saya ikuti dan gagas, serta aksi-aksi mahasiswa, dan NGO apa benar menyuarakan aspirasi rakyat. Toh, masih banyak rakyat yang tidak merasa dibela bahkan berfikir sebaliknya. Mereka skeptis dan tak mau tahu sekalipun tujuannya mulia.

Singkatnya, aksi hari ini (4 November 2016) merupakan bagian dari sejarah. Yang dulunya aksi identik dengan aksi mahasiswa, kaum buruh, aktivis HAM, Lingkungan dan lainnya, kini mulai melebar dikalangan santri, ulama dan habaib.

Aksi apapun asal damai saya kira sah-sah saja. Apalagi aksi yang dilakukan tak mengesampingkan rasa toleransi, prulalisme, keberagaman, persatuan dan kesatuan serta menjunjung tinggi NKRI dan terlepas dari kepentingan politis semata.

Mahasiswa aksi mengatasnamakan dan mewakili rakyat, kaum buruh aksi memperjuangkan nasibnya, upah layak. Aktivis HAM turun jalan menuntut penyelesaian kasus HAM. Sama halnya aktivis lingkungan menuntut ketegasan pemerintah akan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan, perburuan satwa liar dan sebagainya.

Dilihat bersama, sore nanti, besok, satu minggu sampai entah kapan pun apakah berdampak dan terjawab tuntutannya. Hanya massa aksi dan tuhan yang tahu, pinjam istilah yang lagi trend saat ini.

Malang, 4 November 2016
Disudut kamar

Related Posts

Previous
Next Post »