Belajar Menulis, Apa Ingin Eksis?


Menulis bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang ditulis menjadi tanggung jawab penulis baik dalam bentuk opini, esai, artikel ataupun cerpen.

Pada hakikatnya, menulis dibutuhkan skill dan kebiasaan setiap hari. Bukan lantas secara instan bak kita memesan nasi di warung tinggal menyantapnya.

Menulis butuh wawasan luwes dan rajin membaca. Menulis tanpa dasar wawasan, tulisan yang disajikan tidak lebih hanya unek-unek hati belaka. Bukan dalam bentuk gagasan yang membuat pembaca terpikat sekaligus ada ajakan dan pesan moral didalamnya.

Belajar menulis, apa ingin eksis? Sebuah pertanyaan yang sudah terjawab tanpa perlu dijabarkan.

Bagi penulis, karyanya yang dimuat di koran, media online menjadi kebanggan tersendiri. Namun, apakah menghasilkan karya sekadar bertujuan ingin dikenal.

Bukankah pendahulu kita sebut saja Albery Einsten, Thomas Alva Edison, tidak  pernah menunjukkan jati dirinya. Mereka dikenal karena karya jeniusnya.

Sama halnya, Presiden ke-1 Ir Soekarno. Ia berkarya dan memperjuangkan Indonesia bukan semata dikenal dunia. Melainkan demi kedaulatan dan kemerdekaan masyarakat pribumi.

Apakah paradigma dikalangan aktivis mahasiswa sudah bergeser seiring majunya zaman.

Momen hari pancasila, pendidikam, hingga sumpah pemuda kerap menjadi ajang dalam berlomba-lomba menyajikan sebuah tulisan. Penulis super kilat dan dadakan, begitulah sebutan mereka.

Di hari biasa, mereka justru tidak menulis bahkan membacapun jarang. Kecuali baca BBM, Whatshap, hingga sms.

Apapun itu, konteks utama menulis sebuah karya haruslah berdasarkan pada fakta dengan didukung teori berbagai aspek.

Meski begitu, saya mulai belajar menulis dengan mencatat apa yang saya lihat, dengar dan dirasa tidak sesuai harapan.

Maklum, salah satu sahabat menyarankam agar supaya gemar menulis apapun bentuknya. Jika sudah biasa menulis, niscaya dengan sendirinya terbiasa.

Catatan hari 3

Related Posts

Previous
Next Post »