Gara-gara Alarm, Mukidi Gagal Punya Kekasih!!


Ada istilah "mencintai tak harus memiliki. Asal dia bahagia, juga bahagia bagi yang mencintai"

Prinsip itulah yang terus dipegang Mukidi. Pemuda jomblo ini tidak goyah sekalipun jadi bahan bully teman-temannya.



Dulunya ia pernah beberapa kali menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan. Namun, selalu berakhir di tengah jalan. Putus karena selalu bertengkar, pisah karena tak se-visi, bahkan ditinggal nikah sama perempuan yang dicintainya dan memilh laki-laki lain sebagai kekasih hidupnya.

Selama itu pula, Mukidi yang juga mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi, tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan yang baru putus atau masih punya pacar.

Sejak awal, ia berjanji pada dirinya, berkomitmen tak kan pernah mengganggu perempuan yang sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Secantik apapun perempuan itu, jika sudah punya kekasih, saat itu juga Mukidi mengurungkan niatnya untuk sebatas menjalin komunikasi.

Soal perjuangan meluluhkan hati perempuan, tidak perlu diragukan lagi. Bermodal wajah pas-pasan, dari kelurga sederhana dan hanya punya sepeda motor butut, Mukidi tetap percaya diri.

Bisa dibilang, Mukidi laki-laki yang pemilih soal perempuan. Pemilih dalam hal kebaikan, semisal perempuan yang akan didekatinya haruslah baik, setia, enak diajak ngobrol, berbakti kepada orang tua dan rajin ibadah.

Soal dia orang miskin dan kaya, Mukidi tak mempermasalahkan. Bahkan, dari beberapa mantannya, ada yang anaknya orang kaya, tapi dia tetap PD saja.

Sekian lama Mukidi menjomblo. Diam-diam dia menaruh rasa terhadap seorang perempuan. Cantik, sederhana, manis, tidak membosankan dan sifat ke ibu-ibuannya kental melekat padanya. Pokoknya Mukidi menilai perempuan itu lebih baik dari mantan sebelumnya.

Berawal dari ia bersama dengan perempuan tersebut, Mukidi pun jatuh cinta dalam kebersamaan pertama. Namun, benih-benih rasa di dalam hatinya pupus seketika tahu perempuan itu sudah punya kekasih.

Saat itu juga Mukidi seperti dihantam ombak, disambar petir, dan layaknya disengat ubur-ubur. Pikirannya kalang kabut dan merasa harapan mau memulai hubungan dengan perempuan kembali kandas.

Selang beberapa bulan, Mukidi dan perempuan itu tak pernah ada komunikasi. Mukidi pun masih kepikiran dan penasaran, disisi lain ia tak mau melanggar komitmennya, yakni tak mau mengganggu kekasih orang lain.

Seiring berjalannya waktu, tuhan mempertemukan Mukidi dengan perempuan yang disukainya. Sekadar cangkruk bareng, Mukidi pura-pura jaim dan jaga jarak.

Hal itu dilakukannya karena rasa yang sempat tumbuh takut kembali bersinar. Rasa itu pun tak terbendung, Mukidi tetaplah Mukidi, yang juga punya rasa dan keinginan menjalin hubungan serius.

Pertemuan Mukidi dan perempuan itu tak hanya sekali dua kali terjadi. Bahkan, beberapa kali, komunikasinya lancar dan seakan ada magnet bagi Mukidi untuk lebih dekat dengannya.

Mukidi hanyalah laki-laki yang punya rasa, ia pun memilih curhat pada temannya, meminta saran dan mengungkapkan puluhan rahasia dalam dirinya.

Satu teman menyarankan agar Mukidi terus menjalaninya, tanpa harus mengungkapkan perasaannya. Satu teman lainnya menyarankan segera ungkapkan perasaannya, supaya ada kepastian, ada peluang apa tidak.

Namun, saran dari teman terakhir ia urungkan, karena dinilai langkah konyol. Bagaimanapun ia tidak mau nantinya setelah mengungkapkan perasaan kepada perempuan tersebut, sang pujaan hatinya berubah padanya, baik sikap dan komunikasi yang dibangun selama ini.

Selain itu, saran itu bertentangan dengan komitmen Mukidi sejak awal, tidak mau mengganggu kekasih orang lain.

Mukidi tetaplah Mukidi, pikirannya hanya ada perempuan pujaan. Baginya perempuan sekarang mampu memotivasi dan menjadi penyemangat, sekalipun hanya memandang fotonya. Ia pun memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.

Dia langsung tersenyum sembari kaget saat tahu jawaban dari pujaan hatinya. Perempuan berkerudung itu menyebut Mukidi baik dan perhatian. Namun, belum selesai perempuan itu berbicara, terdengar keras suara alarm yang menandakan pukul 06.00 WIB. Terlihat sinar matahari dari bilik jendela sembari hiruk pikuk warga sekitar yang siap berangkat ke ladang terdengar keras.

"Oalah hanya mimpi to aku" ungkap Mukidi sembari bergegas ke kamar mandi.

To be continue###

Related Posts

Previous
Next Post »