Arek Madura-Aremania Bersahabat, Tolak Anarkisme!!!

Madura United harus mengakui kehebatan Arema. Bermain di kandang dengan dukungan ribuan suporter, Singo Edan tampil ciamik. Gol Alfarizi dan C Gonzales mengantarkan Arema menang 2-1 atas Madura United.



Meski demikian, klub yang katanya kebanggaan warga Madura masih bertengger di puncak klasemen atau hanya selisih dua poin dari pesaingnya, Arema, di urutan kedua.

Kemenangan tersebut disambut sukacita suportet Arema. Sedangkan suporter Madura United, K-Conk Mania, yang hadir di Stadion Kanjuruhan pulang dengan kepala tertunduk.

Rombongan K-Conk Mania mendapat teror dan hantaman batu oleh oknum Aremania di sepanjang jalan di daerah Lawang. Beberapa suporter mengalami luka dan kendaraan yang dinaiki pun rusak. Namun, K-Conk Mania sampai dengan selamat di tanah kelahiran Madura.

Melihat timnya kalah dan diteror saat perjalanan pulang, mungkin oleh sebagian suporter dirasa sangat menyakitkan.

Adanya teror tersebut ditanggapi serius oleh K-Conk Mania. Insiden tersebut dianggap mencederai persahabatan dan sportivitas antara K-Conk Mania dengan Aremania selama ini.

Tragedi ini dianggap penghinaan dan pelecehan, bak Arema membangunkan "Pak Sakera" yang sedang tidur. K-Conk Mania merasa tidak pernah berbuat onar maupun mencari musuh, justru sebaliknya.

Namun, kejadian di Lawang, Kabupaten Malang, jelas-jelas dianggap menginjak martabat K-Conk Mania.

Beberapa hari terakhir saya pun jengah dengan adanya broadcast (Bc) yang masuk di BBM dan grup WhatsApp. Intinya, K-Conk Mania menganggap tragedi di Lawang sebagai awal permusuhan, awal darah akan tumpah dan awal angkat senjata.

Tidak hanya itu, ajakan bagi K-Conk Mania agar hadir ke Stadion Sidoarjo, Rabu (7/9), lusa pun ramai disebar. Parahnya, ajakan tersebut juga tertulis supaya K-Conk Mania membawa celurit dan persenjataan lengkap.

Kesimpulannya, K-Conk Mania ingin membuktikan jika perlakuan oknum Aremania tidak dapat dibenarkan. Istilahnha "Darah harus dibalas dengan darah".

Sebagai putra Madura dan kelahiran Madura, tepatnya di Desa Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, saya pun mencoba menengahi dan mengajak teman-teman Madura tidak terpancing, apalagi sampa terprovokasi adanya Bc tersebut.

Tidak sedikit yang mencibir dan menganggap saya hanya sebatas mencari sensasi. Bahkan, dianggap tidak memiliki solidaritas dan rasa kekeluargaan.

Namun, saya punya pemikiran lain, toh tida selamanya masalah diselesaikan dengan kekerasan. Jika benar yang melakukan pelemparan batu adalah oknum Aremania, biarlah polisi menjalankan tugasnya. Mengusut tuntas dan mencari pelakunya serta diganjar hukuman setimpal, jangan main hakim sendiri.

Patut digaris bawahi, jika benar pelakunya adalah Aremania, bukan berarti semua Aremania bersifat dan berperilaku sama. Itu hanyalah OKNUM yang mencoba memecah belah persahabatan dan pertemanan di dunia sepak bola.

Manajemen Arema pun meminta maaf atas insiden tersebut. Sekalipun pertandingan berjalan sengit dan keras, tapi usai pertandingan, pemain, pelatih dan oficial saling berjabat tangan dan melepas kangen. Apalagi pemain Madura United banyak dihuni eks pemai Arema.

Kehadiran K-Conk Mania ke markas Arema juga disambut baik Aremania. Bahkan mereka mendapat pengawalan dari teman-teman Aremania.

Disadari atau tidak, harkat dan martabat merupakan harga mati bagi orang Madura. Jika martabat sudah diinjak-injak, hanya ada satu, yakni carok.

Sama halnya dengan kasus yang kerap terjadi di Madura, di mana seorang laki-laki mengganggu istri orang lain. Suami sang istri tidak terima dan sudah pasti mengeluarkan celurit "carok". Hal ini saya kira berlaku di semua daerah, suami mana yang tak sakit hati jika istrinya diganggu.

Bagaimanapun bagi orang Madura, perempuan adalah emas, yang harus dilindungi dan tidak boleh dijamah orang lain.

Namun, ini konteksnya berbeda. Ini hanya soal fanatisme terhadap sebuah tim sepak bola. Meski saya berani bilang, Madura United bukan pengejawantahan dari tim kebanggaan warga Madura keseluruhan.

Pemainnya saja banyak dari luar Madura, sedangkan putra daerah sangat sedikit. Itupun sering dibangku cadangan. Padahal, dari 4 kabupaten (Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan), saya yakin seabrek putra daerah dengan talenta yang mumpuni. Andai manajemen yang dikepalai Ahsanul Qosasi mau bersabar dan menyisir segala pelosok Madura.

Sayang, manajemen Madura United bisa saya bilang tutup mata akan hadirnya sosok putra daerah dalam skuad Madura United. Yang penting bermain bagus dan bertengger di pucuk klasemen.

Jika benar pertumpahan darah terjadi, entak esok, lusa, dan beberapa tahun ke depan, maka sudah pasti berdampak luas. Tidak hanya bagi warga Madura yang di Madura, tapi juga yang merantau. Hal ini berlaku sebaliknya, sebab tidak sedikit orang Madura tinggal dan hidup di Malang. Bahkan, sudah memilih menetap di Malang.

Bukan lagi soal fanatisme sesama suporter, tapi juga akan menanam benih-benih permusuhan dan kebencian antara warga Madura dan Malang.

Besar harapan, manajemen Madura United wabil khusus Ahsanul Qosasi yag tak lain adalah putra Sumenep, Madura dan K-Conk Mania rendah hati dan menerima apa yang sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur.

Mari bersama-sama berfikir ke depan, persatuan dan kesatuan paling utama, meski berbeda-beda ras, suku, bahasa dan budaya.

Bagi K-Conk Mania, tulislah dalam hati kalian masing-masing, jika insiden tersebut sebagai pengalaman. Justru, dari insiden inilah seharusnya antar suporter saling menguatkan dan merapatkan barisan.

Sama-sama mengajak pada kebaikan dan menjunjung tinggi sportivitas serta tidak ada lagi yang namanya antar suporter kisruh, mengalami luka-luka hingga meninggal dunia.

Related Posts

Previous
Next Post »