Si PNS yang Menaruh Cemburu Terhadap Buruh


Diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) impian semua orang. Tak terkecuali mahasiswa yang baru selesai mendapatkan gelar sarjananya. Tak terkecuali siswa SMA/SMK yang baru lulus dan berlomba-lomba mendaftar sebagai anggota Polisi/TNI.

Meski harus mengeluarkan puluhan juta agar diterima sebagai abdi negara. Hal itu menjadi lumrah di masyarakat, padahal aturan tegas melarang praktek tersebut.

Bahkan, mengabdi puluhan tahun belum juga diangkat sebagai pegawai negeri dijalankan penuh sukarela oleh pegawai yang menyandang status pegawai honorer dan kontrak. Sambil berharap ada berkah dan panggilan dinobatkan sebagai pegawai negeri.

Ternyata hal itu tidaklah dinikmati semua pejabat negara. Sebut saja Sumarno, jelang 22 bulan akan pensiun sebagai abdi negara, ia justru iri dan cemburu kepada para buruh. Bagaimana tidak setiap setahun sekali gaji buruh selalu naik disesuaikan Upah Minimum kota/kabupaten (UMK).

Di Kota Surabaya saja gaji buruh sampai Rp3 juta lebih. Di Kota Malang dan sekitarnya di atas Rp2 juta. Angka tersebut terus merangkak naik sesuai perkembangan ekonomi di Indonesia. Baik buruh pabrik rokok, pabrik olahan makanan, dll.

Sedangkan, di PNS, gaji naik dua tahun sekali, itupun tidak lebih Rp125 ribu sekali naik bagi pejabat golongan IVa, dan seterusnya tidak jauh berbeda.

Bagi Sumarno, jadi pejabat bersyukur karena saat mendaftar tanpa harus mengeluarkan puluhan juta rupiah. Maklum, zaman orde baru daftar PNS cukup mudah. Berbeda dengan saat ini, ribuan bahkan jutaan pendaftar, tapi hanya ratusan yang diambil.

Dipersempit dengan adanya moratorium penerimaan CPNS yang diberlakukan sejak 2014 silam, kecuali bidang profesi guru, farmasi dan profesi lainnya.

Baginya, seharusnya seorang buruh/pekerja bersyukur bisa memiliki gaji yang terus meningkat. Belum termasuk tunjangan dan jaminan lainnya (BPJS).

Kendati begitu, jam kerja buruh juga terbilang enak. Selain bekerja sesuai target, mereka juga disiplin masuk dan pulangnya. Sehingga gaji yang dibayarkan setimpal dengan jerih payahnya.

Sementara, seorang pegawai negara jam masuk dan pulangnya tidak menentu, sehingga mereka diwajibkan melakukan finger print setiap masuk dan pulang, sebagai bukti mereka bekerja sesuai aturan. Jika tidak, siap-siap mendapatka  sanksi dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Wajar, jika gaji yang dibayarkan tidak setimpal atas kinerjanya setiap harinya.

Tidak hanya itu, pegawai dengan latar belakang yang bervariasi cenderung tidak menguasai bidangnya. Tak heran bila pelayanan ke masyarakat kurang maksimal. Bagi Sumarno, hal itu merupakan pengalaman yang tak dapat dihindarkan. Dan ia mengaku menyesal karena mendapat gaji buta selama ia bekerja tidak sesuai harapan.

Selain itu, buruh/pekerja memiliki kelompok atau serikat, sehingga mereka mampu menyuarakan aspirasinya, misal soal gaji, jam kerja, hingga toleransi antar sesama apabila diperlakukan sewenang-wenang oleh perusahaan. Bayangkan, pegawai sipil demikian, sudah pasti kena semprot atasan dan untung bila tidak dimutasi ke  daerah terpencil atau diturunkan pangkatnya.

Ya, begitulah nasib seorang pegawai sipil. Kebanggaannya hanya terletak pada pakai seragam rapi, sedangkan buruh hanya berbekal kaos dan dibekali alat keselamatan kerja. Jadi pegawai bisa bangga manakala dapat bekerja dan bermanfaat bagi masyarakat. Ya itulah hidup, bagi Sumarno, kedua anaknya beruntung tidak sampai mengikuti jejaknya, satu berprofesi sebagai dokter dan  juga dosen, satu lainnya bekerja di perusahaan ternama.

Sumarno memberi tips rahasi menjadi pejabat baik, intinya tidak menerima uang di luar gaji bulanan. Karena, uang "panas" tersebut hanya mendatangkan masalah dalam keluarga dan kehidupan. Sumarno mengalami hal itu sekali, dan tak pernah mengulangi lagi alias kapok.

Hidup tak seindah yang dibayangkan, jika pegawai negeri saja iri kepada seorang buruh, maka sebaliknya seorang buruh iri terhadap pegawai negeri. Berangkat pagi dengan pakaian rapi dan mobil dinas, pulang sore dan kerjaan di kantor tidak seberat pekerjaan di perusahaan.

Sama halnya orang kaya melihat petani yang sedang di ladang dinilai lebih bebas dan merdeka, sebaliknya petani melihat begitu enaknya jadi pejabat tidak perlu kotor dan bekerja seharian mendapatkan bayaran tinggi.

Catatan: tidak ada pekerjaan yang gampang dan indah selama kita bekerja bukan dijadikan hobi dan kebiasaan setiap hari. Sifat manusia selalu haus akan harta, tahta dan jabatan. Tinggal bagaimana memposisikan diri dan tidak berlebih-lebih.

Related Posts

Previous
Next Post »