'Orang Yang Nggak Baca, Sempit Penglihatannya'


Alhamdulillah, satu buku yang ditulis Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer dengan judul 'Bersama Mas Pram, Memoar dua adik Pramoedya Ananta Toer' bisa diselesaikan sampai tamat sekalipun harus mencuri waktu membaca disela-sela bekerja.

Alur cerita seputar Mas Pram sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer, menarik saya untuk menyelesaikan buku setebal 504 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), cetakan 1 tahun 2009.

Buku yang mengulas tentang kehidupan seksual, kegigihan kerja, pandangan tentang wanita dan perkawinan, aktivitas menjelang 1965, sikapnya tentang tuhan dan doa, cara dia mendidik adik-adiknya serta percakapan ketika ditangkap tahun 1965. Perjalanan hidup seorang novelis terbesar Indonesia ini mampu disajikan secara rinci dan patut dijadikan cerminan dalam menjalani hidup. *Dalam hati ingin sekali menulis seperti keluarga Toer.

Kebiasaan membaca sudah lama saya tinggalkan, namun melihat buku tersebut kegemaran membaca seketika kembali. Entah karena sibuk bekerja, atau memang sedari kecil tidak pernah akrab dengan yang namanya buku.

Tapi, semasa mahasiswa sempat saya koleksi puluhan buku, entah kemana wujudnya sekarang. Setiap kali teman main ke kos dengan alasan ingin membaca, maka dibawalah buku-buku yang saya beli dari uang kiriman orang tua.

Bahkan, setiap kali ada bazar buku murah, seminggu sebelum berlangsung sudah menabung untuk memburu buku-buku bagus, baik buku keilmuan, sosial, budaya, politik, hingga filsafat.

Saya malu dan amat malu ketika ditanya dan disinggung salah satu teman. "Katanya aktivis, tapi koleksi buku bacaannya gak ada". Seketika wajah saya memerah dan telinga terasa panas disertai dalih jika buku-buku saya banyak hilang oleh tangan jahil. Bukan bermaksud mengkambing hitamkan teman dan kerabat, faktanya demikian selama ini.

Ingin sekali saya melayangkan pukulan ke mulutnya dan mendesak ia menarik omongannya. Tetapi, apa yang diucapkan itu merupakan kritik membangun bagi saya, sehingga hasrat main fisik pun saya buang jauh-jauh. Kata-kata tersebut kini saya kenang dan tak kan pernah dilupakan.

Mengutip kata mutiara Mas Pram 'orang yang nggak baca, sempit penglihatannya'. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Mas Pram. Banyak orang yang pintar bicara dihadapan umum, tapi yang dibicarakan tidak bernilai. Berbeda, jika orang tersebut rajin membaca, apa yang diomongkan selalu ilmiah.

Namun, kebiasaan membaca akan hambar manakala tidak didiskusikan maupun dituangkan dalam bentuk tulisan. Tidak ayal, jika Mas Pram meminta adiknya (Koesalah Soebagyo Toer, dkk) mengarang, mengarang apa saja.

"Mengarang untuk kemanusiaan" ucap Mas Pram kepada adiknya. Apa yang akan ditulis, baik itu opini, cerpen, artikel, dan sejenisnya sejatinya untuk kemanusiaan. Jika tujuannya sekadar dapat honorarium maupun berharap dikenang orang, tidaklah jauh berbeda dengan para politisi yang bermuka rakyat di depan umum, dan bermuka penguasa haus kekuasaan di belakang.

Membaca merupakan kebiasaan siswa dan mahasiswa. Sayang, hanya segelintir mahasiswa yang masih mau berlama-lama membaca saat ini. Mereka lebih suka berlama-lama di tempat ngopi, main game, dan hura-hura. Semoga tuduhan saya ini tidak benar!!

Sebagai pribadi yang kini bergelut di dunia jurnalis malu kiranya bila tak menghasilkan sebuah karya. Sebut saja teman saya Irham Thoriq, wartawan Radar Malang, aktif menulis dan saat ini buku pertamanya telah terbit.

Saya kapan? Kapan punya karya? Karya yang menjadi warisan buat anak cucu kelak?

13 Januari 2016. Di Padepokan Djati Kusumo, Singosari, Malang

Related Posts

Previous
Next Post »