Lima Pejantan dalam Ikatan "Sahabat"

Cuaca dingin Kota Malang yang membekap tubuh hingga terasa menggigil tak menyurutkan untuk tetap beraktivitas. Segelas kopi dan gorengan menjadi teman disaat gerimis sore hari.

Hiruk pikuk pengguna jalan dengan kemacetan disegala penjuru sudah hal biasa tersaji setiap akhir pekan. Penjaja makanan sibuk melayani pelanggannya hingga meluber dan antri panjang.

Loper koran tetap bersemangat menyodorkan ke setiap bilik kaca mobil pengguna jalan dengan harapan tertarik isi berita di halaman depan dan membeli salah satu surat kabarnya.

Sedangkan kaum hawa dan adam berpakaian rapi dengan bawahan rok dan celana hitam. Sementara bagian atas baju putih dibalut jas almamater warna hijau. Tampak jika mereka adalah mahasiswa Unisma yang sedang-sudah melaksanakan ujian akhir semester (UAS).

Tempat ngopi bersejarah 'Agepe' awal mula lima laki-laki dengan latar belakang, karakter, dan corak serta berbeda domisili dipertemukan. Tak kerasa sudah lebih 6 tahun kebersamaan ini tetap rekat dan terjalin. Bagi saya, punya empat teman ini sungguh bahagia dan merupakan karunia tak ternilai.

Sebut saja, M Khoiron Mahbubi yang akrab disapa Gus Choi, Faisol Arifin akrab disapa AFA, Taufik Al Amien, serta Bhuston Nawawi yang akrab saya panggil pak kos.

Gus Choi kali pertama kenal saat di kontrakan teman-teman Sumenep (dulu belakang kampus Unisma). Ia salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. Sedih-senang sudah dilalui bersama delapan tahun bersama-sama di Malang. Mulai urusan kampus yang tidak kunjung kelar, soal asmara, hingga kesenangan yang sama, yakni suka berpetualangan.

Faisol Arifin adalah teman satu pondok duluny, sama-sama mengenyam pendidikan di pondok dan satu sekolah (SMA), tapi baru akrab dan layaknya saudara ketika bersua di Malang. Sama-sama bernaung di bendera bintang sembilan, ia lantas menjadi sosok sahabat yang kerap menasehati dan menenangkan. Petuah-petuahnya pun kerap menjadi pelecut semangat bagi saya.

Diakui atau tidak, ia lebih maju dan satu langkah di depan saya, urusan kuliah sudab beres, kini ia masih rajin mengenyam pendidikan. Sedangkan urusan asmara alumnus Unitri ini sudah meminang tetangganya yang masih berusia 13 tahun.

Suka duka pernah dijalani bersama, konflik dan salah paham sempat terjadi, namun bisa diatasi secepat mungkin.

Taufik yang akrab saya panggil "LE". Le dalam bahasa jawa panggilan bagi anak laki-laki. Sedangkan, ia manggil saya "kacong", di madura kacong panggilan untuk anak laki-laki.

Pria yang bisa dibilang suka asal ngomong dan ceplas ceplos ini mulai akrab disaat sama-sama memasuki semester tiga di Unisma. Ia menempuh Fakuktas Ekonomi dan saya Fakuktas Pertanian. Perjalanan hidupnya pun terekam dalam memori saya hingga kini, mulai perjalanan karir, asmara, hingga suka dukanya pun bisa dibilang 99,9 persen saya paham. Tak jarang, ketika putus sama pacarnya saya kena getahnya juga.

Ketika merasa sumpek menghadapi masalah, ia bahkan menenangkan diri di rumah saya, Madura, beberapa hari. Kendati, di rumah disambut dengan hamparan padi di dalam rumah. Namun, baginya ada kesan mendalam selama di Madura, terutama ketika disajikan menu lauk burung. Ya begitulah di rumah, apa adanya disuguhkan tanpa mengabaikan istilah 'tamu adalah raja'.

Sahabat terakhir ini, Bhuston Nawawi, mungkin lebih muda dari saya dan tiga lainnya. Pria sok cool ini selalu tampil tersenyum kendati dalam benaknya punya beban berat yang belum selesai. Tapi cara pandang dan berfikirnya bisa dibilang lebih dewasa dari usianya. Kondisinya sama, kerap di telfon orang tua dan ditanya kapan wisuda, kapan wisuda??

Sumpek pun kerap menghampiri, baginya, makan yang serba pedas dapat meredakan nyeri di kepalanya. Apalagi saat sumpek tidak jadi jalan bersama mutiaranya (kekasih).

Dua bulan satu kamar, saya pun semakin paham, makna sahabat dan saudara. Namun, keempat sahabat dipertemukan dalam sebuah forum "ngopi bareng". Suasana seperti ini memang langka, wajar bila tempat kami bernostalgia riuh dan rame seketika.

Sejenak, keempat sahabat saya pun melupakan kemesraan malam minggunya bersama kekasihnya. Entah itu bentuk prihatin terhadap saya atau memang tidak ada jadwal jalan.

Mereka memilih berkumpul dan menikmati setiap tetes kopi hitam racikan asal Gresik. Mengenang masa lalu yang suram kerap dilontarkan dan gelak tawa pecah seketika. Saling ejek dan menceritakan keburukan satu sama lain sudah hal biasa.

Kebetulan hingga sekarang empat sahabat ini belum juga memutuskan naik pelaminan. Entah apa yang ada di benak mereka, jika dibilang siap, mereka lebih siap dibanding saya. Misal, calon pendampingnya sudah ada tinggal dilamar.

Jalinan sahabat ini tetap akan dirajut meski kelak disibukkan dengan kehidupan rumah tangga dan pulang ke tanah kelahiran masing-masing, kecuali Taufik yang lebih dulu pulang ke tanah kelahirannya Lumajang. Janji akan menikmati kopi bersama di Malang pun diucapkan sebagai ikatan kelak bisa berjumpa lagi. Meski setiap hari tak jarang berkomunikasi lewat Handphone (Hp).

Tak dipungkiri, empat laki-laki termasuk saya kini masih menjelajah dan mencari tulang rusuk yang dirasa cocok dan merupakan jodohnya.

Bukan berarti mengabaikan teman-teman yang lain. Sebut saja teman akrab saya Sudarmono (hari ini sudah menikah), Iwan yang kini sudah menyandang status lulusan S2 dan diterima sebagai kerja di Surabaya, serta sahabat-sahabat lainnya. Semua spesial dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Tanpa mereka, saya tidak kuat berdiri saat kaki ini rapuh. Saya tidak kuat melihat dikala kelopak mata ingin terpejam. Tidak kuat rasanya bila tidak ada sandaran saat tubuh ini letih dan tumbang tanpa sahabat.

*Kenangan ngopi bersama di Agepe Malang

24 Januari 2016

Related Posts

Previous
Next Post »