Lelaki Berdarah Madura


Awan pekat disertai angin diiringi gerimis menyelimuti langit di kota pendidikan. Suasana kos-kosan di Jalan MT Haryono, Kota Malang begitu sunyi karena ditinggal pulang kampung oleh penghuninya.

Sesekali terdengar musik dangdut dan pop dari kamar sebelah. Kendati pemilik kamar jarang ke luar dari kamarnya. Terlintas dibenak, betah banget anak kos ini menghabiskan hari-harinya dalam kamar.

Deru sepeda motor dan mobil terdengar kencang. Maklum kosa-kosan berada tepat di pinggir jalan raya, sehingga suasana hiruk pikuk jalanan amat terasa.

                            *********

Jarum jam menujukkan sudah pukul 17.00 WIB. Arif seketika beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Bergegas ambil wudhu dan menunaikan sholat asar.

Walaupun libur semester sudah tiba, ia enggan pulang ke kampung halamannya, Madura. Selain menjalani studi, Arif juga bekerja sampingan.

Dalam benaknya kembali teringat kenangan bersama mantannya, Rike. Hampir setahun bersama, hubungan keduanya pun kandas.

Arif masih amat sayang pada mantannya yang sama-sama mengenyam pendidikan di satu kampus. Namun, keadaan memaksa mereka harus berjalan sendiri-sendiri. Tak ada niat mencari perempuan lain, Arif menyerah dan merasa belum bisa melupakan kekasihnya yang selalu hadir di setiap waktu.

Baginya, sholat, ngaji, baca buku, jalan-jalan hingga berolahraga bisa menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk, bercampur aduk antara sedih, senang dan penyesalan.

Sejenak raut wajah dan senyum Rike yang kerap terlintas dipikirannya berhasil ditepis, meski beberapa kali kenangan bersamanya kembali melintas.

Malam pun datang dipadu dengan cuaca dingin. Tubuh Arif pun dilindungi jaket tebal warna hitam, tapi cuaca di Malang dikenal sangat dingin dibanding kota/kota lain sehingga setebal apapun jaket yang dipakai tak mampu menghalang dinginnya malam.

Sebelum berpisah, malam Minggu digunakan untuk waktu kencan bersama Rike. Entah sekadar memutari jalanan di Kota Malang-Batu, menikmati makanan temoat favorit, hingga mengunjungi tempat hiburan.

Sedih-senang dan duka-bahagia pernah dijalani dan dirasakan bersama. Baik Arif dan Rike saling mengerti satu sama lain, meski tidak semua rahasia hidupnya saling diceritakan.

Baginya, malam Minggu dan hari libur bekerja merupakan momen bagus bersama Rike. Meski tak jarang agenda jalan bersama, menghabiskan seharian berdua sembari menikmati indahnya pemandangan selalu gagal. Kini, malam Minggunya tak lagi ditemani kekasihnya. Hanya saja teman, kerabatnya mampu menjadi teman yang cukup menghibur.

                            ********
Arif tak banyak bicara dan hanya teman dekatnya tempat ia bercerita hubungannya yang kandas dengan Rike. Ia pasrah dan tak lagi berjuang mempertahankan cintanya karena sejak awal ada kejanggalan dalam hubungannya.

Lahir di tanah garam Madura salah alasan hubungannya kandas. Secara pribadi, Rike menerima apa adanya kondisi Arif. Tidak terlalu mempermasalahkan ia dari keluarga apa, lahir di mana, suku apa dan bekerja sebagai apa?

Namun, keluarga Rike kurang respec terhadap laki-laki Madura. Namun, selama ini Rike tidak pernah mengatakan alasan orang tuanya.

"Mungkin ini cara tuhan mempertemukam saya dengan jodoh yang sebenarnya," cerita Arif kepada temannya, Slamet, suatu sore.

Hubunganny kandas juga dilatarbelakangi kesalahan yang diperbuatnya terhadap Rike. Entah apa  yang menutup rapat hati Rike sehingga tidak lagi memberinya kesempatan. Berbagai cara dilakukan, namun mental dan tak berhasil.

Sempat ia nekad ingin melamar Rike sebagai bukti keseriusannya, namun apa daya Rike justru lantang menolak rencana tersebut. Alhasil, upaya Arif merajut kembali hubungannya yang sempat lusut tak berjalan mulus.

"Semua manusia punya batas kesabaran, saya heran kenapa berakhir seperti ini. Saya memang orang Madura, tapi apakah semua dinilai rata, masih ada yang baik," Arif melanjutkan ceritanya.

"Jika sudah ihlas lupakan, cari lain yang sekiranya menerima tanpa syarat. Tanpa melihat latar belakangmu," pesan Slamet ke Arif.

Arif kemudian diam dan tak berbicara sepatah pun. Pikirannya mulai menjelajah, berfikir perempuan lain. Membayangkan sosok perempuan yang akan mengisi hatinya dan menerima apa adanya. Namun, seketika bayangan itu pudar saat terlintas kenangan bersama Rike.

"Biarlah saya menikmati masa-masa sendiri ini, mungkin ini baik buat masa depan saya sampai menemukan perempuan terbaik," yakinnya sembari melempar senyum kepada sahabat kecilnya itu.

                        *********
Malam kembali datang, namun kali ini tanpa mendung sehingga sinar rembulan dan bintang-bintang terlihat jelas berjajar di langit. Deruan angin lebih lirih dari biasanya. Tetapi malam ini ia dilanda kantuk. Kelopak matanya mulai menyatu meski beberapa kali menampakkan bola mata.

Arif lalu terlelap dalam mimpinya. Ia membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlintas dalam pikirannya apakah keputusannya melepas kekaaih yang amat disayang merupakan langkah tepat, ia sadar pasti ada penyesalan kelak.

Ia mengidamkan suatu saat dipertemukan kembali meski sudah sama-sama memiliki pendamping.

Laki-laki Madura yang bermimpi meminang istri orang Jawa pun harus tunduk pada tradisi dan keadaan. Bunga melati yang semerbak tak mampu menghapus kenangan indah bersama Rike, meski akhirnya Arif dipertemukan dengan perempuan yang tak kalah jauh baik dengan mantannya.

Related Posts

Previous
Next Post »